Tidak seharusnya mereka kekanak-kanakan. Mereka terlihat seperti anak kecil yang bermusuhan setelah merusakkan mainan satu sama lain. Dengan kepala yang sangat keras, tidak ada yang mau meminta maaf. Satunya menganggap satunya yang salah, begitupun sebaliknya. Kala nanti, ketika mereka tumbuh dewasa, mereka baru mengetahui tindakan mereka lah yang salah. Mungkin memang itu belum tentu masalah yang sepele, tetapi seharusnya masih bisa dilewati. Jika saja mereka tidak terlalu cepat membenci satu sama lain.
Hari adalah hari pre production meeting kelima. Test cam sudah dilakukan tadi pagi, hanya yang berkepentingan saja. Malam ini, semua kru dan aktor berkumpul, untuk mengadakan reading terakhir sebelum syuting. Dengan duduk yang saling menyebrangi satu sama lain, Khalisa mampu melihat Christian dengan jelas. Ruang di antara mereka tidak begitu jauh, cukup untuk dua manusia yang tidur di tengahnya. Hanya saja, ada para aktor di tengah mereka, tetapi tidak berhasil untuk menutupi pemandangan satu sama lain. Christian hanya fokus melihat ke laptopnya. Dengan beban kerja yang ia miliki, ia tidak wajib untuk memerhatikan para aktor yang tengah beraksi. Wajahnya merengut, terlihat begitu serius. Selain kepercayaan dirinya, ini juga yang Khalisa sukai dari Christian. Bahwa ia memiliki kemampuan, dan ia mencintai kemampuan tersebut. Ia mencintai pekerjaannya. Di dunia yang penuh kerumitan ini, tidak mudah bagi semua orang untuk melakukan hal yang ia cintai. Ada banyak alasan orang-orang harus melakukan hal lain yang sebenarnya tidak ia kehendaki. Sehingga, orang yang memiliki mimpi, dan sangat teguh mencintai mimpi tersebut, merupakan orang yang luar biasa. Sama luar biasanya dengan mereka-mereka yang mengalah. Jadi bisa dibilang, mereka yang berhasil mendapatkan mimpinya itu, adalah mereka yang beruntung. Dan Khalisa sangat menghormatinya apabila orang beruntung itu mensyukuri keuntungannya. Begitulah Christian.
Cukup lama Khalisa memandangnya, hingga akhirnya kepala yang menunduk itu terangkat. Christian ikut menatap Khalisa, mereka berpandangan. Aktor sedang bersuara. Sutradara dan acting coach memberi petuah. Mereka sangat berisik, kru-kru lain menonton dengan hikmat. Namun, di kepala Khalisa dan Christian, semua begitu tenang. Suara-suara itu terdengar hanya seperti angin yang berhembus. Kru lain seperti pohon-pohon yang rantingnya hanya bisa berhembus tertiup angin. Semua begitu tenang, termasuk tatapan yang mereka berdua sedang hadapi. Mereka menyadari keberadaan satu sama lain, meskipun belum tentu mereka saling mengerti yang ada di pikiran satu sama lain. Mereka hanya diam. Menyadari bahwa kemarahan masih tersimpan, tetapi cinta juga tak pernah hilang. Bagi Christian, tatapan itu seperti yang ia lihat di mata papanya dulu saat berhadapan dengan ‘Mama’ di meja makan. Di mata Khalisa, ia seperti melihat mata ayahnya yang setiap hari ditampilkan kepada dirinya. Memang, marah dan cinta bisa menjadi satu. Hal tersebut tidak bisa dihindari. Karena memang rasa kekecewaan justru hanya bisa timbul dari orang yang kita cintai. Karena merekalah cinta itu, maka kita akan kecewa jika ia mereka tidak sesuai dengan kemauan kita. Namun, karena mereka adalah cinta itu, tentu tidak bisa pula tercipta rasa benci. Bagaimanapun, tetap ada senang, bahagia, lega, dan rasa syukur terhadap orang itu, karena sudah pernah membersamai hari-hari yang gelap ataupun terang. Tatapan ini, seperti tatapan yang dilemparkan untuk terakhir kalinya. Dari ujung matanya, Khalisa merasakan bahwa dirinya akan mengeluarkan tangisan. Ia tahu hari dimana dirinya dan Christian berpisah akan ada, tetapi sejujurnya ia tidak mau semua ini terjadi begitu cepat. Saat Khalisa menyadari bahwa Christian bisa melihat ekspresinya, dirinya langsung memalingkan wajah. Berusaha untuk menyamakan kru-kru lain yang sibuk menonton aktor. Berusaha untuk keluar dari dunianya.
Matahari terbit, mata Khalisa masih terbuka dengan setia. Hampir semua kru menginap di kontrakan karena syuting hari pertama mulai pukul 7 pagi, sementara reading tadi malam baru selesai pukul 1 pagi. Hanya mereka yang tempat tinggalnya dekat atau anti untuk buang air besar atau mandi di luar tempat tinggalnya saja yang pulang. Namun, kru syuting jarang seperti itu. Sudah terbiasa membersihkan tubuhnya dimanapun tempat yang disediakan. Khalisa sendiri sudah mandi, membersihkan wajah dan giginya, tetapi gagal untuk tertidur. Sepertinya kepalanya begitu penuh, ia mencoba menghapus itu semua dengan membaca Kita Pergi Hari Ini di teras kontrakan. Sama seperti judulnya, Khalisa juga berpikir untuk pergi. Ikut anak-anak di buku itu pun tak apa, meski perjalanannya juga rumit.