Ratna ingin menjadi ibu. Dalam hidupnya, tak pernah sekalipun ia berbohong ketika mengutarakan kalimat itu. Dalam dirinya, Ratna selalu merasa bahwa dirinya akan menjadi ibu. Ia tahu ia ingin, ia tahu ia bisa, ia tahu ia mampu. Ia selalu penasaran tentang hari-harinya bersama anak yang selalu diidamkan. Namun, tidak ada yang tahu bagaimana dunia ini bekerja. Ketika dunia berputar, tidak akan ada yang mengira kemana langkahnya menuju. Semua hal begitu tak terduga, kadang indah, kadang tragis. Begitupun manusia di dalamnya. Tidak ada yang mengira bagaimana tingkah laku setelahnya, tak menentu berdasarkan sudah berapa tahun saling mengenal. Kadang, orang yang dikira sebagai teman sehidup semati pun bisa mengecewakan. Bisa menyakitkan.
“Kita tidak boleh menyerah, Ratna,” itu yang Anton ucapkan dari kasur kamar tidurnya.
Ratna baru saja pulang setelah menutup toko roti. Sudah sekitar dari satu tahun lalu, Ratna dan Anton tidak pernah lagi pulang bersama. Mereka sedang berada di hubungan yang canggung. Hubungan yang selalu berisi kata menunggu. Hari ini, sepertinya Anton sudah lelah untuk menunggu lagi. Akhirnya, ia mengutarakan pikirannya.
“Kita masih belum punya anak.”
Anak. Anak. Anak. Padahal anak itu belum ada, tetapi pikirannya hanya terus tentang anak. Kapan tentang istri? Kapan tentang perempuan yang sedang ada di depannya? Omongan ini selalu muncul setelah ibu mertua Ratna datang ke rumah. Atau Ratna dan Anton yang mengunjungi. Antara kedua itu, omongan tentang anak pasti selalu dibawa kembali ke rumah. Dan selalu menjadi sumber masalah. Masalahnya, tidak ada yang tahu dari mana masalah ini berasal. Kenapa anak ini tidak kunjung datang?
Kata dokter tidak ada yang salah di tubuh kita berdua. Mungkin belum waktunya.
Ratna mencoba mengutarakan pendapatnya dengan begitu lembut dan santun. Ia tahu dalam keadaan seperti ini Anton pasti sedang memiliki emosi amarahnya. Ia tahu Anton adalah korban juga. Anton juga tersiksa dari tekanan ibunya. Anton juga tidak ingin keadaan menjadi seperti ini. Namun, sebenarnya Ratna juga lelah. Ia sudah muak dengan segala perbincangan ini. Terlebih, ia yang memiliki rahim. Ia juga ingin memiliki anak. Namun, sesuatu di tubuhnya seperti mengatakan tidak. Sehingga, Ratna ingin lebih bersantai saja. Menunggu, hingga anak itu mau untuk muncul di dunia.