Lagipula Khalisa memang sudah tidak pernah merasa berbahagia. Khalisa tidak begitu mengenal masa kecilnya. Ia tahu bahwa dirinya suka membaca, suka berdiam diri sendirian, terkadang berbincang kepada dirinya sendiri atau sesuatu yang tak terlihat. Selain itu, Khalisa tidak tahu caranya bermain. Lompat tali? Kalah. Naik sepeda? Jatuh. Terakhir kali, Khalisa terpaksa mengendarai sepeda roda tiga, lalu ditertawakan ibu-ibu tetangga. Setelah itu, ia tidak pernah menemui sepeda lagi. Di rumah, sepi. Ibu dan Ayah selalu dalam perang dingin. Ibu memang tidak bisa berbicara, tetapi Ayah seperti memilih untuk tidak bersuara. Khalisa tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka. Yang ia tahu, ini adalah keadaan keluarga yang tak seharusnya. Karena itu, ia mengharapkan segala kebahagiaan dari luar keluarganya. Ia harapkan segalanya dari pertemanan. Khalisa rela melakukan apapun demi mendapatkan teman. Demi mendapatkan cinta dan sayang yang tak pernah cukup ia dapatkan di rumah. Sayangnya, Khalisa tidak semudah itu dicintai.
Khalisa ingat bertemu dengan satu per satu temannya dengan berjabat dengan saat semester pertama sekolah menengah dulu. Mereka yang datang terlebih dahulu. Karena Khalisa tidak pernah mengetahui caranya mendekati orang lain, yang jelas ia berharap orang yang sudah dekat dengannya tidak akan pergi. Saat itu, Khalisa sempat bahagia. Setidaknya, ia punya teman. Tiga orang, adalah jumlah yang cukup untuk anak yang belum mengenal dunia. Mereka bermain, bercanda selayaknya anak baru remaja. Kadang membicarakan tentang keluarga, yang akhirnya Khalisa menyadari ternyata memang banyak keluarga yang tidak baik-baik saja. Khalisa semakin cinta dengan teman-temannya. Rasanya, mereka sudah berjodoh untuk bertemu. Seakan sudah dirancang, agar teman-teman itu dapat menyayangi Khalisa selagi orang tuanya tidak bisa. Khalisa juga dapat memanfaatkannya untuk mengeluarkan cinta yang ada dalam dirinya. Saat itu ia menyadari, bahwa dirinya gemar mencintai.
Sialnya, semua itu tidak bertahan lama. Hingga akhirnya hal tersebut terjadi. Bahwa orang-orang tidak mampu mencintainya. Mereka pergi. Katanya, Khalisa terlalu serius. Tidak bisa diajak bercanda. Tidak seru. Tidak menyenangkan.
Awalnya Khalisa berusaha untuk bersikap dingin. Seperti kedua orang tuanya, ia pikir dirinya bisa terus hidup dengan sikap seperti itu. Tak peduli berapa banyak orang yang meninggalkan, Khalisa akan baik-baik saja. Setidaknya, itu yang ia harapkan. Nyatanya, dirinya terus merasa kesepian. Dan kesepian. Ia mulai memikirkan beribu alasan kenapa orang-orang tidak menyukainya. Kenapa dirinya ditinggalkan. Kenapa dirinya hanya diberi sedikit kesempatan untuk dicintai dan mencintai orang lain. Tidak, sekarang ia bahkan tidak yakin apakah teman-temannya itu sempat mencintainya. Kalaupun jika mereka bilang iya, bagi Khalisa cinta itu tak pernah sampai. Ia tidak pernah merasakannya. Sepertinya teman-temannya itu luput untuk mencari tahu bagaimana mengeluarkan cinta. Atau, justru Khalisa yang ternyata tidak tahu bagaimana caranya menerima cinta?