Langkah Kaki

Adikanda
Chapter #15

15: 2001

Layar komputer di meja kerja Anton dibiarkan menyala. Di depannya, Anton memang melihat layar tersebut, tetapi dengan tatapan kosong. Otaknya tidak berada di tempat itu. Sibuk memikirkan bagaimana kondisi istrinya rumah. Bohong jika Anton bilang bahwa dirinya tidak khawatir. Ratna semakin tidak mau berinteraksi dengan Anton. Setiap diajak berbicara, jarang sekali ada respon yang diberi. Sesekali Anton mendengar isak tangis Ratna dari kamar mandi. Hanya itu saja suara yang mampu keluar dari istrinya.

Bermodalkan pulpen yang hanya dimainkan, Anton berencana untuk pergi makan siang setelah belum mengerjakan apa-apa di kantor. Ia pikir, alangkah baiknya mengisi perut terlebih dahulu, sehingga mungkin otaknya akan ikut terisi.

“Ada apa?” tanya temannya yang menemani untuk makan siang bersama.

Anton memikirkan apa yang sedang ia lakukan sekarang. Dirinya hanya ingin memiliki anak, itu saja. Sama seperti Ratna. Dengan penuh keyakinan, Anton sangat mengetahui bahwa mereka berdua memiliki keinginan yang sama. Ini demi kebaikan mereka berdua. Menjadi seorang ibu, merupakan salah satu impian Ratna. Dan Anton sangat mengetahui akan hal itu. Karenanya, ia hanya ingin terus berusaha. Namun, semakin berjalannya hari, ia merasa tidak nyaman dengan perbuatannya. Ratna tidak terlihat bahagia. Menangis, wajahnya datar, bawah matanya hitam, mulutnya mengerut. Semua yang di wajahnya, tubuhnya, jiwanya, menandakan ketidakbahagiaan. Namun, Anton masih belum dapat mengetahui apa yang salah. Dirinya? Kelakukannya? Yang jelas bukan isi dari tubuh mereka karena dokter sudah jelas menyatakan bahwa semua baik-baik saja. Lalu, apa yang Ratna inginkan? Ia ingin memiliki anak. Namun, ia begitu tidak bahagia melakukan ini semua. Apakah Ratna sudah tidak mencintainya? Apakah Anton telah melakukan hal yang salah hingga Ratna kehilangan rasa cintanya terhadap pernikahan ini?

“Aku hanya rindu dengan anakku nanti,” Anton mengambil napas panjang, seperti ada kalimat penting yang hendak tapi ragu ia katakan. Tekad terlihat di matanya, rasanya buliran air mata hendak keluar dari sana, “Dan aku paling merindukan istriku.”

“Kau bertemu dengannya setiap hari, bukan?”

Lihat selengkapnya