Ketukan pintu kamar kembali terdengar. Ayah menyuruh Khalisa untuk segera melaksanakan salat subuh. Khalisa hanya mendengarnya dari dalam kamar. Dari kasur tempatnya merebahkan badan, ia memandang matahari yang sudah percaya diri untuk terbit di luar sana. Cahayanya mulai memasuki kamarnya melalui jendela dan tirai yang tidak tertutup sejak tadi malam. Sejak kemarin pagi, tidak banyak yang Khalisa lakukan semenjak pergi dari kontrakan. Sehabis memuntahkan segala isi tubuhnya, ia masuk ke kamar dan telentang di kasurnya. Khalisa hampir lupa bagaimana caranya ia pulang. Hingga akhirnya samar-samar ia mengingat dirinya berjalan dengan gontai hingga stasiun terdekat, mengeluarkan uang-uang receh yang berkumpul di sakunya untuk membeli kartu yang sebetulnya ia punya tapi tak terbawa, kemudian menaiki kereta hingga stasiun yang paling dekat dengan rumahnya. Untungnya arah ke rumahnya memiliki arus padat yang berlawanan di pagi hari, sehingga tidak mengharuskan Khalisa untuk berdempetan dengan para pekerja lainnya di kereta yang hendak berangkat kerja. Khalisa ingat pada kereta itu ia masih mendapat tempat duduk, yang sangat harus ia syukuri dengan keadaan perut dan kepada yang sangat sakit. Mulutnya terasa amis. Jujur, rasanya ingin muntah lagi dan lagi. Atau setidaknya ingin minum air putih untuk menghilang sisa muntahan di mulutnya. Namun, semua keinginan itu tidak ia lakukan. Tidak ada keinginan. Tidak ada niatan untuk memperbaiki sesuatu. Hanya mengistirahatkan tubuh yang dapat ia lakukan. Diharapkannya, pikirannya juga dapat ikut beristirahat. Justru, tidak. Sudah hampir satu hari Khalisa tidak menggerakkan tubuhnya. Dan selama satu hari itu juga ia tidak memejamkan matanya. Ia hanya sibuk memandang matahari yang masih terus berputar. Kini, entah apa yang Khalisa harapkan untuk dilakukan oleh matahari itu. Ia hanya ingin dirinya yang berhenti untuk berputar. Berhenti untuk hidup. Karenanya, ia memilih untuk tidak bergerak. Entah bagaimana Tuhan menciptakan keajaiban terhadap Khalisa untuk masih hidup di detik ini.
Suara ketukan pintu kembali terdengar setelah sekitar tiga puluh menit dari ketukan sebelumnya. Anton pasti sudah kembali dari masjid. Dan berusaha membangunkan Khalisa kembali karena dirinya menyadari Khalisa masih belum keluar dari kamarnya. Hal ini sudah biasa terjadi. Khalisa memang lebih sering tidak mengikuti suruhan ayahnya. Sehingga bukan menjadi hal aneh Khalisa tidak segera keluar dari kamarnya. Namun, tak lama datang suara dari luar rumah. Suara itu mengucapkan ‘permisi’. Suara laki-laki yang sangat Khalisa kenali.
Anton keluar ke arah gerbang, di sana Christian menunggu di depan pintu, “Maaf, Pak. Saya mengganggu waktunya. Saya Christian, teman Khalisa.”
Anton tidak mengenal laki-laki ini. Karena sejujurnya, ia tidak mengetahui apapun tentang Khalisa. Namun, memang laki-laki yang menyebut dirinya Christian ini tidaklah memiliki wajah yang asing. Rasanya mereka pernah bertemu. Mungkin di hari wisuda Khalisa lulus waktu itu. Atau sesekali saat sembunyi-sembunyi Anton memasuki kamar Khalisa dan melihat foto-foto yang tertempel di dinding lemarinya. Sepertinya, wajah laki-laki ini memang tidak pernah jauh dari kehidupan putrinya. Sehingga, meskipun sama sekali tidak mengenal satu sama lain, Anton berusaha untuk bersikap sopan dan tenang, “Ada apa, ya?”
Christian terlihat ragu untuk melafalkan kalimatnya, “Kemarin,” cobanya perlahan, “Kemarin Khalisa pulang dari lokasi syuting secara tiba-tiba. Sepertinya dia sakit. Saya sangat khawatir. Tapi maaf saya baru dapat berkunjung sekarang, Pak. Syuting baru selesai jam 12 tadi malam. Saya sempat datang kesini sekitar pukul 2 pagi, tapi sepertinya Bapak sedang tidur, jadi tidak ada jawaban. Sehingga saya tertidur sebentar di mobil di parkiran sana, dan mencoba datang kembali sekarang. Sekali lagi, maaf, Pak. Tapi apakah boleh, saya bertemu dengan Khalisa?”
Dari semua kalimat panjang itu, Anton hanya dapat menyimpulkan satu kalimat. Bahwa, Khalisa jatuh sakit. Dengan bergegas, ia masuk kembali ke dalam rumah. Mencoba membuka pintu kamar Khalisa, tetapi terkunci. Christian berusaha menyusul. Ia membuka pagar meski belum mendapat izin. Bergegas mendekati pintu kamar Khalisa, tempat Anton berdiri, lalu mengetuk pintunya dengan keras, “Ca, buka pintunya.”
Tak menunggu lama, Christian mendobrak pintu itu. Melihat keadaan Khalisa yang telentang tak bergerak di kasurnya. Mendekatinya, lalu menempelkan tangannya ke dahi Khalisa. Ia meminta jawaban dari Anton, “Pak, Khalisa sudah lama seperti ini?”