Langkah Kaki

Adikanda
Chapter #17

17: 2002

Ada sesuatu yang hidup di dalam tubuhnya. Ratna telah menyadari hal tersebut selama beberapa minggu ke belakang. Ia juga tahu dirinya telat datang bulan. Jelas, ia mengetahui apa yang sedang hidup di dalam perutnya. Namun, yang Ratna tidak tahu adalah apa yang harus ia lakukan. Langkah pertama, mungkin ia harus mengabarkan hal ini kepada Anton. Ratna juga akan diuntungkan. Semua pemerkosaan ini akan berhenti begitu Anton mengetahui bahwa Ratna telah mengandung anaknya. Karena hanya itu yang ia inginkan. Sehingga, Ratna bisa memberitahukannya. Namun, setelah itu apa? Tidak seperti yang ia pikirkan, ia sama sekali tidak memiliki perasaan pada anak yang ada di kandungannya ini. Selama ia hidup sebelumnya, ia selalu bermimpi menjadi seorang ibu. Mengandung dan melahirkan seorang anak, merawatnya hingga tumbuh menjadi manusia baik nan membanggakan. Ratna selalu memimpikan hal tersebut hingga ia kira akan mati bahagia bila impiannya itu benar-benar menjadi nyata. Kenyataannya adalah kini Ratna tidak menyenangi kabar yang ia miliki ini. Ia tidak merasakan kebahagian atas makhluk yang tiba-tiba hidup di dalam dirinya. Ratna sama sekali tidak bisa berpikir apa yang dapat dia lakukan untuk anak ini. Sehingga, Ratna bahkan tidak yakin mau melahirkannya. Apakah sebaiknya digugurkan saja? Sebelum akhirnya Anton mengetahui ini semua, apakah baiknya ia membuang anak ini sebelum ia benar-benar hidup ke dunia? Toh, dunia juga tidak begitu menjanjikan. Ratna tidak yakin apakah dunia akan baik-baik saja ketika anak ini lahir dan tumbuh besar. Nyatanya ia belum keluar rumah sejak dirinya diinjak-injak. Ia tidak pernah pernah menginjakkan kakinya keluar rumah setelah merasa ia bukan manusia lagi. Lantas, sebagai makhluk yang bukan manusia, apa yang akan ia lahirkan? Apakah Ratna juga akan melahirkan makhluk yang sama nistanya? Makhluk yang nanti akan tumbuh di bawah didikan seorang penjahat? Apakah itu yang ia inginkan?

Berdiri di depan cermin. Di sana Ratna menatap pantulan dirinya sendiri yang tidak memakai busana. Ia hendak mengambil baju bagus dari lemari. Melakukan rutinitasnya. Yaitu berniat untuk pergi, walau ujungnya tak pernah ia lakukan pula. Alasannya? Sesederhana bahwa Ratna sudah begitu lelah. Ia tidak yakin ada lebih sedikit penjahat di luar sana. Dan yang paling penting, ia masih mencintai Anton. Masih ada harapan bagi dirinya untuk menunggu Anton kembali menjadi dirinya yang dulu. Hingga Ratna sebenarnya telah membuat janji kepada dirinya sendiri. Jika Anton telah kembali, maka ia juga akan kembali menjadi yang semula. Ratna telah bertekad akan memulai dari awal. Itu yang ia pikirkan, setidaknya saat tidak melihat wajah Anton. Sedangkan, bila Anton sudah pulang dan ikut masuk ke dalam kamar, harapan tersebut hilang lagi. Ratna menjadi takut lagi, marah lagi, sedih lagi. Ia tak mencintai Anton lagi. Namun, kemudian pikirannya akan berubah lagi bila Anton sudah keluar dari kamar. Dan akan terus begitu. Ratna terus terjebak di dalam kebimbangannya sendiri. Sehingga ia tak mampu mengeluarkan dirinya dari rumah itu. Rumah di mana awal mula impiannya hilang.

Dengan tangan kosongnya, Ratna menyentuh perutnya yang tidak begitu besar. Hanya sedikit buncit, perut itu menandakan bahwa hanya kehidupan yang terkandung di dalamnya. Dengan jarinya-jarinya, Ratna mencoba menggenggam sesuatu yang ada dalam perut itu. Ia menekannya, berusaha menemukan bentuk dari sesuatu yang hidup di dalam tubuhnya itu. Sesuatu yang akan merubah hidupnya lagi, entah ke arah kembali baik atau justru lebih buruk. Sesuatu yang pernah ia impikan, tetapi tidak pernah ia harapkan untuk benar-benar timbul di saat seperti ini. Dengan jari-jarinya itu, dibantu kekuatan di dalam tangannya, ia terus menekan perutnya, berharapnya buncitnya akan mengempis, beserta seluruh isi di dalamnya. Ratna tidak tahu apa yang ia inginkan dari hal yang ia lakukan sekarang. Apakah hidup di dalam tubuhnya akan senantiasa sehat saja, atau justru undur diri karena mengetahui sang ibu masih gundah? Jawaban tersebut tidak ingin ia pikirkan sekarang. Ratna hanya terus melakukan gerakan yang sama secara berulang dan ulang ke perutnya itu.

Lihat selengkapnya