Langkah Kaki

Adikanda
Chapter #18

18: 2016

Saat itu tak ada yang dapat Khalisa lakukan selain memikirkan apa kesalahannya pada Tuhan. Selain mengetahui bahwa dirinya telah berusaha untuk mematuhi segala perintah-Nya, Khalisa tidak tahu dosa besar apa yang ia lakukan dengan sadar ataupun tidak? Dulu, ia diajari bagaimana seorang perempuan harus menutup dirinya. Katanya, kerudung ini, dapat melindungi perempuan. Dari tatapan jahat, dari perilaku keji. Jika memakai kerudung, maka diri perempuan tidak akan tersentuh. Semua orang akan menghormati perempuan yang menutup dirinya. Semua orang tahu bahwa perempuan itu terlindungi. Laki-laki tidak akan berani mendekati. Semua tindakan tercela tidak akan terjadi. Sayangnya, itu hanya ungkapan orang-orang. Kenyataannya, Khalisa tetap saja tidak terlindungi.

Dengan kepercayaan akan sesuatu yang tak terlihat, Khalisa berusaha menjalani dirinya dengan ketaatan. Tidak sepenuhnya, karena ia masih kecil, masih remaja, banyak hal yang belum Khalisa tahu dari dunia ini. Ia hanya tahu, bahwa ia diciptakan oleh Tuhan. Karena itu, hidupnya, merupakan balasannya kepada Tuhan. Khalisa harus menjalani hidupnya dengan taat untuk Tuhan. Untuk ia dilahirkan. Tujuan hidupnya adalah untuk kembali kepada-Nya. Dan pada saat itu Khalisa masih penuh dengan keluguan. Ia percaya bahwa semua orang memiliki ketaatan yang sama. Ia pikir, manusia-manusia yang terlahir di dunia akan dengan murah hati menyembah siapa yang menciptakannya. Bahwa orang-orang berlomba-lomba menjadi orang baik. Menjadi murid kesayangan Tuhan, untuk masuk ke surganya nanti. Dulu, Khalisa bahkan tidak takut untuk mati. Ia memimpikan, bagaimana surga jauh lebih indah dari dunia. Bagaimana rasanya menyantap hal yang diinginkan. Khalisa mengira bahwa semua orang memiliki impian yang sama. Berlaku baik sewaktu hidup, agar nantinya bersenang bersama di surga. Menikmati segalanya. 

Menikmati segala hal itu hingga rela menghilangkan segala yang menyenangkan di hidup ini. Perintah-Nya adalah sesuatu yang lebih penting daripada kesukaan duniawai. Khalisa masuk dengan begitu dalam terhadap agamanya tanpa mengetahui cara mempelajari yang baik untukny. Ia menyerap segala perintah-Nya tanpa mempertanyakan. Khalisa saat itu yakin dengan penuh bahwa Tuhan mengetahui yang terbaik. Dia tidak boleh menentang, harus mengikuti, harus patuh tanpa bertanya. Jika ada satu saja pertanyaan yang muncul dibenaknya, dengan segera ia akan menenangkan dirinya sendiri. Kemudian apabila satu jawaban atas pertanyaannya dengan muncul, ia pasti akan langsung memercayainya. Tuhan tahu apa bahwa Khalisa selugu ini? Bahwa ia rela menyerahkan hidupnya untuk masa depan di akhirat nanti yang saat itu pun masih sangat jauh dari hidup Khalisa. Demi Tuhan, Khalisa rela hidup dengan mati. Hidup tanpa merasakan kesenangan. Hidup dengan penuh harapan atas akhirat. Hidup dengan mematuhi apa yang tidak ia mengerti, dan meninggalkan apa yang ia sukai. Demi Tuhan, Khalisa rela.

Semua itu hancur saat alur kehidupan mengkhianatinya. Harapannya patah begitu saja. Surga yang Khalisa impikan tiba-tiba terasa begitu jauh, begitu absurd, begitu blur hingga Khalisa tidak mampu membayangkannya. Berjuta-juta kali ia berpikir apa kesalahan yang telah ia lakukan hingga mendapat hal ini. Hal yang tidak mengerti. Kejadian yang gilanya, membuat ia membenci dirinya sendiri. Padahal, sekali lagi, apa salahnya? Yang menyentuh tubuhnya adalah orang lain. Yang menjaga diri adalah Khalisa. Lantas mengapa? Dan lantas kenapa Tuhan tidak melindunginya? Khalisa tidak percaya bahwa manusia setaat dirinya telah disakiti seperti itu. Apakah untuk menguji? Menunggu seberapa pantas Khalisa untuk masuk ke surganya? Mengetahui hingga kapan Khalisa akan setia menyembah? Itu alasannya?

Lihat selengkapnya