Langkah Kaki

Adikanda
Chapter #19

19: 2002

Anak itu telah terlahir. Dari rahim Ratna, beratnya lebih dari 3 kilogram. Kata dokter, dia luar biasa sehat. Dokter mengucapkan selamat, karena Ratna telah melahirkan anak yang cantik dan gemilau. Dokter bertanya, siapa nama anak itu? Ratna tidak bisa menjawab. Dirinya belum menyiapkan. Diamnya adalah jawaban, dan semua orang di ruangan operasi itu mengerti. Jeda anak itu yang dipisahkan terlebih dahulu, kemudian dikembalikan lagi kepada ibunya, membuat Ratna justru bertanya-tanya. Perasaannya begitu aneh. Saat tadi anak itu dibawa keluar terlebih dahulu untuk dibersihkan, diselesaikan urusannya, Ratna begitu tenang. Saat kini anak itu kembali berada di sampingnya, Ratna merasa gelisah. Sebagai seorang perempuan yang kini juga telah menjadi seorang ibu, apa yang harus ia lakukan?

Anak itu dipandangnya. Wajahnya damai, sepertinya belum benar-benar sadar bahwa ia telah lahir di dunia. Ratna hanya berharap, anak itu tak akan terkejut ketika membuka matanya nanti. Ratna tak bisa bersuara untuk mengenalkan siapa dirinya. Tangannya juga begitu lemas untuk bergerak. Jadi entah apakah anak itu akan langsung menyadari bahwa perempuan yang berada di depannya adalah ibunya atau tidak. Dan Ratna pun tidak mengetahui apa yang ia harapkan dari situ. Apa yang ia ingin anaknya lakukan padanya? Anak itu masih belum mampu berbuat apa-apa. Ia hanya mampu bernapas. Konon, seorang anak yang sekecil itu sangatlah rapuh. Akan mudah sakit, sensitif. Sehingga, semakin Ratna memandanginya, semakin ia melihat adanya persamaan di antara mereka.

Setelah Ratna jelas sembuh dari penyelesaian proses lahirannya, dirinya pulang membawa barang-barangnya. Di belakangnya, Anton menggendong anak itu. Diletakkannya ia kemudian di kasur bayi yang baru saja Anton beli kemarin, menyempatkan diri selagi anak itu dan istrinya masih beristirahat.

“Halo, Nak,” Anton menyapa anak yang masih tertidur itu dengan senyum terpasang di wajahnya.

Ratna melihat pemandangan itu dari atas kasurnya. Ini yang kamu tunggu, bukan? Tergambarkan di wajahnya. Anak itu adalah keinginan Anton. Tanpa anak itu, Anton akan merasa hidup dan pernikahannya belum lengkap. Belum bahagia bila belum dianugerahkan anak. Bila belum menjadi seorang ayah. Ratna tebak, kali ini Anton memiliki cita-cita menjadi ayah yang super baik. Agar nanti anaknya akan merasa bahwa ia memiliki ayah paling keren sedunia. Ratna pun sudah memiliki rencana untuk membiarkan hal itu terjadi. Toh, Anton yang menginginkan anak itu. Biarlah dia yang merawatnya. Susui anak itu jika bisa. Mandikan. Bersihkan kotorannya. Ayunkan dia jika menangis. Dekap dia dalam tidurmu. Itu semua akan Ratna biarkan. Masa bodoh bila Anton membutuhkan bantuannya. Selama ini, hamil pun tak pernah Anton bantu. Jika janin bisa dipindah tempat ke perut laki-laki, mungkin itu sudah Ratna lakukan. Nyatanya tidak bisa. Mungkin baru bisa ratusan tahun depan nanti. Saat generasi ini pun sudah habis. Karena itu, Ratna hanya bisa melemparkan peran setelah anak itu lahir. Anton, kini giliranmu.

Namun, sepertinya Anton tidak mampu. Bagaimanapun, dadanya tidak dapat mengeluarkan asi. Mungkin ada laki-laki lain yang bisa, tetapi Anton selalu gagal mengeluarkan sisi keibuannya. Ia sangat ingin menjadi seorang ayah, betul, yang ternyata itu sangat sulit juga baginya. Suatu hari, Anton mendatangi Ratna dengan anak yang berada di gendongannya.

“Sampai kapan kamu mau terus seperti ini? Aku juga harus bekerja,” ia menaruh anak itu ke atas kasur. Tepat di samping Ratna yang sedang duduk sendirian tadinya. “Kamu lupa bahwa Ica juga tanggung jawabmu?”

Lihat selengkapnya