Lima bulan sudah bayi itu hidup di dunia ini. Kini, dengan pasti ia hidup menggunakan nama Khalisa. Mayoritas waktu Khalisa hidup di rumah neneknya. Anton yang mengantar dan menjemputnya setelah pulang kerja. Ibu yang tua itu sesekali menanyakan keberadaan Ratna. Tapi perhatiannya yang sudah pikun itu mudah beralih kepada kelucuan Khalisa. Ditambah fakta bahwa adik-adiknya Anton sudah satu per satu menikah, menjadikan Ibu itu semakin sibuk mengurus atau merecoki setiap keluarga mereka. Sehingga perhatiannya tidak akan penuh terhadap keluarga kecil Anton lagi. Dan itu yang Anton syukuri. Ia juga terus menerus mengucapkan terima kasih setiap kali menjemput Khalisa dari gendongan ibunya. Meski makin lama ia semakin menyetujui omongan Ratna, bahwa keberadaan Khalisa di dunia ini juga tanggung jawab Ibu. Untungnya ia selalu menerima tanggung jawab itu seolah memang ia yang melahirkan Khalisa.
Sebelum menitipkan Khalisa yang searah dengan perjalanan ke kantornya, sesekali Anton mampir ke toko roti Bu Asih. Sesekali saja, karena tanpa diminta Bu Asih selalu tahu tugasnya. Yang baginya bukan tugas, karena dia selalu merasa Ratna adalah anaknya. Kasih yang ia beri dengan makanan, waktu, dan tenaga yang ia tumpahkan untuk Ratna tidak pernah meminta balasan. Tetap saja, Anton terkadang merasa tidak enak sehingga merasa harus memberikan sesuatu kepada Bu Asih. Ia merasa Bu Asih bukan bagian dari keluarga, tetapi sudah masuk dengan begitu patuh ke dalam keluarga mereka. Makanan seperti buah-buahan yang paling sering Anton bawakan setiap kali berkunjung ke toko roti. Dan Bu Asih akan meresponnya dengan mengambil barang itu saja, tanpa mengucapkan terima kasih. Ia masih begitu membenci Anton. Dirinya masih merasa bahwa semua ini tidak akan terjadi bila Anton tidak melakukan kesalahan sejahat ini. Ratna tidak akan terluka. Sehingga, baginya tidak salah bila ia terus menjahati upaya baik yang dilakukan Anton. Semua itu tidak akan menyembuhkan apa yang Ratna hadapi selama ini. Tindakan baik yang Anton lakukan tidak layak diberi kata terima kasih, karena ia yakin Anton pun sudah lama bagaimana cara mengucapkan maaf. Hingga kini, Bu Asih masih membiarkan Anton berkeliaran begitu saja hanya karena ia ingin melihat sampai mana Anton mampu berjalan. Selain itu, Bu Asih memikirkan Khalisa. Khalisa berhak mendapatkan sosok ayah. Terlebih ketika ibunya masih belum bisa merawat dirinya hingga saat ini. Bu Asih mencoba menurunkan egonya, dengan memberi kesempatan pada Anton untuk setidaknya menjadi ayah yang baik karena tidak mampu menjadi suami yang baik. Kedua hal itu berkaitan, tentu. Namun, mungkin masih ada waktu untuk memberikan Anton kesempatan ahli di dalam salah satunya.
Karena itu, Bu Asih hanya akan tinggal di rumah beberapa jam saja. Memastikan Ratna makan, memandikannya, membersihkan rumah. Ratna masih memiliki kesadaran. Ia yang akhirnya selalu menyuruh Bu Asih pergi. Jangan terlalu lama tinggalkan toko. Bu Asih menurut. Di saat seperti ini, Bu Asih sama sekali tidak bisa melawan Ratna. Sisi keibuannya selalu muncul, untuk menuruti semua yang Ratna inginkan. Ia juga tahu bahwa Ratna sangat mencintai toko roti itu. Meninggalkan toko roti untuk merawatnya juga merupakan salah satu bentuk pengkhianatan bagi Ratna. Selain itu, Bu Asih juga memastikan dirinya pulang sebelum Anton datang. Agar ketika Anton datang, mereka akan terasa seperti keluarga seutuhnya. Ayah, Ibu, dan anak. Ia harap itu akan memberikan kesan baik untuk Khalisa.