Langkah Kaki

Adikanda
Chapter #22

22: 2025

Ibunya meninggalkan sesuatu. Begitu kata ayahnya. Selama ini, Khalisa kira ia hanya ditinggalkan pertanyaan oleh perempuan itu. Perempuan yang tiba-tiba sakit lalu pergi dari dunia. Semakin beranjak umur, Khalisa semakin memikirkan atas kepergiannya ibunya. Memang, bisa jadi ibunya tidak pergi secara tiba-tiba. Mungkin ia memang sudah sakit dari sangat lama, hingga saat itu sudah menjadi waktunya untuk pergi. Hanya saja Khalisa tidak pernah mengetahui kenapa. Kadang, ia justru berusaha menghindar dari segala pertanyaan-pertanyaan di kepalanya itu. Ada masa-masa di mana ia telah merasa bahwa dirinya tidak mampu menanggung sesuatu. Hingga jika sudah memiliki perasaan tersebut, ia lebih memilih untuk tidak tahu. Sama seperti ia tidak mau tahu apakah Christian menyukai cemilan atau hanya membelinya untuk Khalisa. Atau ia tidak ingin tahu apakah Bu Hamidah penjual soto memiliki pelanggan favorit yang lebih disukai dari dirinya. Khalisa memilih tidak tahu, jika ia sudah cukup bisa menebak sebenarnya apa jawaban dari pertanyaannya itu.

Kali ini, lagi-lagi ia tidak mau tahu akan sesuatu yang disembunyikan ibunya. Khalisa sudah berada di loteng, memandang kardus yang telah ia buka. Di dalamnya, terlihat buku-buku yang menumpuk. Bukan buku bacaan, tetapi buku menulis. Buku yang biasa dipakai anak-anak sekolahan, ada juga binder, ada juga buku catatan kecil dan besar, berbagai macam bentuknya. Namun, Khalisa sudah bisa menebak bahwa isi dari buku-buku itu adalah tulisan ibunya.

Dengan kepala yang masih dipenuhi keringat, karena sebenarnya ia baru mampu makan lima sendok bubur tadi, itupun karena disuapi Christian, Khalisa mengambil satu buku yang terletak di paling atas. Ia tidak membukanya, hanya menatapnya. Bagaimana buku itu sudah lapuk dan berdebu. Ia membayangkan bagaimana dulu ibunya menulis satu per satu huruf yang ada di tiap buku ini. Berapa tahun yang telah ia habiskan untuk mendokumentasikan perasaan dan kejadian yang ada di hidupnya. Untuk apa? Benarkah untuk Khalisa baca? Bisa jadi tidak. Bisa jadi ibunya menulis itu untuk melegakan dirinya dari sesuatu. Kini journaling sudah sangat terkenal sebagai salah satu cara ampuh untuk menuangkan perasaan. Mungkin dulu ibunya telah mengenali cara itu terlebih dahulu.

Tegunan Khalisa terputus dengan pundaknya yang tiba-tiba ditepuk oleh seseorang. Ternyata dia Christian. “Kamu sudah kuat berjalan?

Aku mencarimu kemana-mana tadi. Ayah kamu juga tidak ada,” lanjutnya.

Khalisa mengerjapkan matanya. Entah kenapa rasanya seperti dia baru saja ketahuan di saat melakukan hal terlarang. Dengan sigap ia memasukkan kembali buku yang dipegangnya, dan menutup kardus itu. Segera berdiri meskipun disusul dengan rasa pusing di kepalanya yang kembali. Christian menyadari pusing itu hingga memegang kedua pundak Khalisa agar tidak terjatuh.

“Hati-hati,” ucapnya sedikit gemas pada Khalisa yang terlihat masih linglung tapi sudah bergerak kesana kemari. Khalisa yang dikhawatirkan hanya tersenyum kikuk. Dengan rambut yang lepek, wajah yang berkeringat, dan bibir yang pucat, matanya justru masih berbinar. Christian ikut tersenyum karena ia menebak bahwa binar mata itu timbul dari kehadirannya. Tebakan itu pun tak pernah salah.

“Syuting kamu gimana?”

“Aku sudah izin. Termasuk aku izin untuk kamu juga. Agar mereka tidak mengira kamu kurang bertanggung jawab karena menghilang tiba-tiba.”

“Kamu ceritakan apa tentang aku?”

“Aku bilang kamu sakit. Dan aku harus menemani kamu.” 

Wajah Khalisa menunjukkan ketenangan. Ia tidak mau disangka tidak bertanggung jawab. Namun, ia juga tidak mau bila orang-orang mengetahui tentang fakta di balik kepergiannya yang tiba-tiba. Untung saja Christian tidak terlalu banyak menjelaskan, sebagian karena dirinya juga tidak mengetahui apa yang terjadi pada Khalisa.

Lihat selengkapnya