Langkah Kaki

Adikanda
Chapter #23

23: 2004

Khalisa adalah anak yang manis. Terlalu manisnya dia, sehingga Ratna sudah mulai terbiasa di kepalanya menyebut anak itu dengan namanya, Khalisa. Dulu, sebutan “anak itu” selalu melekat di kepala, dan mungkin masih membekas hingga detik ini. Hanya saja, melihat anak itu semakin hari semakin bebas untuk bergerak, membuat Ratna diam-diam ikut mengaguminya. Sehingga, cukup tidak sopan bila menyebutnya terus dengan panggilan “anak itu”. Setidaknya Ratna harus belajar menghormatinya dengan melabelkan nama yang seharusnya, nama yang diberikan oleh ayahnya.

Namun, tak pernah Ratna perkirakan bahwa suatu Khalisa juga mampu memanggilnya, “Ibu”. Perkembangan Khalisa selalu diperhatikannya. Dari mulai mengoceh tidak jelas, hingga mampu mengucap “dada”, “mama”. Hingga akhirnya berani untuk berkata kata-kata yang lebih mudah dimengerti, “mam”, “mau”, “ya”. Suatu saat ia mampu berucap “yayah” untuk memanggil ayahnya. Dan Ratna ingat sekali ekspresi Anton kala itu. Betapa sumringahnya dia. Mungkin itu pertama kalinya lagi Ratna melihat Anton sebahagia itu setelah hari pernikahannya. Di saat Khalisa mampu memanggil ayahnya, Ratna menjadi memiliki bayangan, bagaimana Khalisa akan memanggilnya. Ratna yang bahkan belum tentu dikenali sebagai ibunya. Dia tidak pernah berinteraksi dengan Khalisa. Mereka bertemu, tentu. Bertatap muka. Mengalihkan muka. Namun, bersentuhan saja mereka tidak pernah. Sesedikit itu interaksi mereka hingga Ratna tidak berhasil mengetahui bagaimana Khalisa menganggapnya. Bisa jadi ia hanya dianggap sebagai makhluk yang bertengger di rumahnya. Atau seseorang yang menumpang tanpa izin sehingga tidak mau diajak bicara. Atau bisa jadi sebuah jiwa yang hanya mampu dilihat oleh Khalisa. Entah bagaimana Ratna di matanya, yang jelas semua itu rabun. Eksistensi Ratna di hidup Khalisa hanya seperti tikus di alun-alun. Kadang terlihat keberadaannya, kadang tidak karena tikus itu mengumpat. Ada atau tidak adanya tikus itu, Khalisa cuek saja. Toh, tidak ada hubungannya dengan dirinya. Mungkin itu yang Khalisa pikirkan akan dirinya, batin Ratna.

Hari itu berbeda. Khalisa tadinya sedang tertidur saja di kasur yang sama dengan Ratna. Dia sudah tidak tidur lagi di ranjang bayinya. Biasanya, ia tidur bersama Anton di kasur yang Anton beli dan letakkan di ruang tengah. Anton dan Ratna memang sudah tidak satu ranjang sejak insiden itu. Sehingga, Khalisa yang lebih banyak dirawat oleh Anton pasti ditidurkan bersama dengannya. Hanya saja terkadang Anton menitipkan Khalisa pada Ratna. “Jaga sebentar, ya.” Itu saja yang ia katakan bila hendak ke kamar mandi, ke dapur, atau membuang sampah. Biasanya Anton hanya meletakkan Khalisa di samping Ratna, karena ia tahu bahwa toh Ratna tidak akan mau menyentuhnya. Anton hanya perlu seseorang untuk memerhatikan Khalisa saja kalau-kalau sesuatu yang sangat buruk terjadi. Setidaknya ia percaya bila benar-benar sesuatu yang sangat buruk itu terjadi, Ratna pasti masih memiliki empati untuk melindungi anaknya sendiri.

Kali ini pun Anton mempercayakan Ratna saat dirinya hendak mandi sebentar. Khalisa yang sudah tertidur pulas itu awalnya tidak dipedulikan oleh Ratna. Napasnya memiliki ritme yang teratur. Baunya harum ala bayi. Artinya semua baik-baik saja. Seperti biasa, Ratna bahkan tidak memiliki keinginan untuk menyentuh atau mengeloni Khalisa. Sampai akhirnya tiba-tiba terlihat suatu gerakan dari sudut mata Ratna. Saat dirinya menoleh, Khalisa sedang menggerak-gerakkan tangannya. Kemudian Khalisa berusaha untuk duduk, lalu akhirnya duduk di samping Ratna. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Batita yang baru saja bangun tidur itu terlihat seperti peri. Begitu mungil dan cantik. Seperti ada cahaya di sekelilingnya. Ratna hampir merasa seperti dihipnotis oleh cantiknya.

Lihat selengkapnya