Malam hendak bekerja ketika Christian mengantar kembali Khalisa ke rumah. Hampir setengah hari berdua membuat hati dan perut Khalisa penuh. Mereka bahkan sempat untuk mampir di warung soto favorit. Bu Hamidah menawarkan spesial ceker karena Christian memberitahunya bahwa Khalisa sedang sakit. Benar saja, nafsu makannya lekas kembali seketika memandang semangkuk soto spesial yang dihidangkan Bu Hamidah. Ternyata makan soto tidak hanya tepat saat pagi hari. Sore juga sangat nikmat rasanya, ditemani dengan rintik hujan yang menggemaskan dan setia. Tidak besar marahnya, tetapi tidak kunjung pergi juga.
Nuansa romantis itu Khalisa bawa hingga pulang ke rumahnya. Sehingga fakta bahwa ayahnya belum juga kembali tidak membuatnya gundah. Namun, selain suasana yang romantis sebenarnya isi kepala Khalisa juga dipenuhi oleh hal lain. Sejak percakapannya dengan Christian sebelum rintik hujan itu turun, Khalisa sudah sepakat untuk membaca peninggalan ibunya. Ia setuju untuk melawan rasa ragu yang ada di hatinya. Khalisa sudah merasa cukup dengan ibunya, tetapi tetap saja hubungan ibu dan anak perempuannya adalah sesuatu yang kompleks. Khalisa mungkin mengenalnya sebagai ibu, tetapi ia pasti belum mengenalnya sebagai Ratna. Khalisa tidak pernah mengingat ibunya bercerita tentang dirinya sendiri. Hingga akhirnya ia pergi, hanya fakta bahwa ia seorang ibu yang mampu Khalisa kenang. Bagaimana hidup perempuan itu sebelum dirinya lahir? Itu yang perlu Khalisa cari tahu. Dengan cara itu mungkin ia akan merasa semakin dekat dengan ibunya, Ratna. Dan tidak ada lagi pertanyaan yang tertinggal setelahnya. Itu harapannya.
Christian mengemukakan bahwa ia tidak akan pergi sebelum Anton kembali. Khalisa pun menyetujui, ia adalah masa di mana ia tidak ingin berjauhan dengan Christian. Akan tetapi rencananya untuk membaca buku-buku yang ada di loteng itu juga tak boleh tertunda. Dirayunya Christian untuk menunggu terlebih dahulu, “Kamu mandi dulu. Atau tidur saja dulu. Kamu pasti lelah.”
“Mau kemana?” Kini Christian yang juga dikelilingi nuansa romantis tak bisa lepas dari gaya manjanya. Jari tangannya masih terikat dengan jari tangan Khalisa. Dimain-mainkannya jari-jari yang lebih kecil itu, tak mau sampai lepas.