Ratna telah pergi. Dan hari menjadi semakin aneh. Padahal semua orang tahu bahwa Anton dan Ratna telah pisah dari segalanya sejak belasan tahun yang lalu. Pisah ranjang. Pisah suara. Pisah siang dan malamnya. Hanya rumah yang sama dan anak yang sama yang menyatukan mereka berdua. Anton pun mengetahui itu. Sehingga kenyataan bahwa Ratna telah tiada seharusnya tidak perlu membawakan kejutan besar padanya. Hidupnya sudah biasa tanpa kehadiran Ratna. Namun ternyata tetap segalanya menjadi aneh. Sampai akhirnya Anton merasakan telah menemukan jawabannya. Bahwa kini ia hanya bersama Khalisa.
Hubungan Anton dan Khalisa menjadi canggung dan jauh semenjak anak itu belajar berbicara. Khalisa dengan insting seorang anak begitu natural berteman dengan ibunya. Mereka menjadi sering berkomunikasi berdua. Tanpa melibatkan Anton. Tentu Anton senang karena dia juga orang yang sebelumnya memaksa Khalisa untuk merawat anaknya sendiri. Bohong pula bila Anton mengatakan bahwa tindakannya untuk menitipkan Khalisa kepada Ratna hanyalah keperluan mendesak. Nyatanya tidak. Anton sengaja melakukan itu agar Khalisa semakin mengenali siapa ibunya. Di balik ketidaktahuan Ratna, Anton juga sering mengenalkan tentangnya pada Khalisa. Bahwa perempuan yang berada di kamar itu adalah ibumu. Itu yang sering Anton katakan. Sehingga luar biasa bangganya ia ketika Ratna dan Khalisa begitu eratnya. Akan tetapi justru tumbuh cemas ketika ia menyadari bahwa Khalisa berkembang menjadi anak yang tidak selincah itu. Ia memang banyak berbicara pada ibunya. Khalisa juga sesekali berbincang dengan Anton dengan begitu manisnya. Namun ia tak bisa melakukan semua itu pada orang asing. Bahkan kepada anak-anak seumurannya di sekolah.
Khalisa tumbuh menjadi anak yang pendiam, cuek, sibuk di dunianya sendiri. Anton memang pasti akan khawatir bila putrinya bermain dengan anak laki-laki, tetapi ia akan sangat bangga bila Khalisa memiliki banyak teman perempuan. Berarti itu memiliki arti bahwa dia anak yang baik, ramah, peduli, sehingga sangat disayangi oleh orang-orang di sekitarnya. Namun yang dilakukan oleh Khalisa justru hanya diam di sekolah. Ia menerima pelajaran dengan baik meskipun tidak mendapat nilai yang menawan. Dan Anton tidak begitu memedulikan terkait nilai selagi anak itu masih mau berangkat sekolah. Tetapi itu saja yang ia lakukan. Kemudian dirinya sudah kembali ke rumah, dengan langkah yang cepat, lalu hanya membaca buku di samping ibunya.