Langkah Kaki

Adikanda
Chapter #26

26: 2025

Tetes hujan kini turun dengan semakin deras. Terdengar jelas dari kamar Khalisa dengan jendela terbukanya. Yang di dalamnya terdiam si empunya dan pasangannya. Khalisa dan Christian hanya duduk terdiam di atas kasur, mengistirahatkan punggung masing-masing ke sandaran kasur. Selimut menyelimuti kaki mereka karena hujan telah membuat udara di kamar menjadi sejuk. Sesekali ada petir yang menyambar, tetapi di antara dua insan ini sama sekali tidak ada yang terkejut. Sesekali Christian melirik Khalisa, memeriksa keadaan hatinya, apakah sudah baik-baik saja. Dia enggan membuka pembicaraan atau melakukan aksi apapun sebelum Khalisa menuntaskan emosinya. Di depan nakas, di samping posisi Khalisa duduk, di sana terletak satu kardus yang berisi buku-buku peninggalan ibunya. Christian membawanya turun setelah memastikan Khalisa sudah aman di kamar. Hanya itu yang Khalisa minta sebelum akhirnya dia hanya terdiam.

Berkat pikirannya, Christian tahu bahwa jatuhnya Khalisa barusan dikarenakan buku-buku itu. Entah apa isinya. Sesungguhnya daripada isi buku itu, jauh lebih penting perasaan Khalisa saat membacanya. Dampak buku tersebut terhadap Khalisa. Itu yang mengganggu pikiran Christian. Sehingga dirinya memberanikan diri untuk memulai duluan. Ia memindahkan tubuhnya menjadi menghadap Khalisa. Agar tidak perlu melirik, agar ia dapat melihat seluruh emosi yang ada di diri Khalisa dengan seksama. Ditarik napasnya sebelum bertanya, “Sebenarnya ada apa?”

Khalisa seperti baru saja dibangungkan dari tidurnya. Ekspresi memperlihatkan kejutan meskipun daritadi suara petir terus menggema. Mungkin suara Christian telah memberikan efek yang berbeda pada telinganya. Hingga ia menoleh, “Kenapa?”

Justru dirinya balik bertanya, ia hanya berpikir bahwa Christian memanggilnya. “Ada apa?” tanya Khalisa lagi.

“Kamu yang kenapa?” Christian melirik buku-buku yang menumpuk di samping kasur. Terlihat buku teratas dari sudut mata Christian berada. “Buku-buku itu milik siapa?”

“Ibu.” Tak seperti yang dibayangkan, Khalisa mampu menjawab dengan cepat. Daritadi dia diam saja. Seperti orang yang sedang merenung. Christian pikir mengajaknya bicara tiba-tiba tidak akan efektif karena Khalisa akan linglung saja. Tapi ternyata ia seperti sudah kembali baik-baik saja. Matanya masih berkaca-kaca, tetapi ada tarikan naik di sudut bibirnya. Christian tebak senyuman tipis itu juga bukan paksaan agar ia tak khawatir. Tetapi memang itu perasaan Khalisa saat ini. Mungkin memang ia sedih, tetapi lega?

Lihat selengkapnya