Langkah Kaki

Adikanda
Chapter #27

27: 2022

Mereka hanya beberapa kali bertemu di tahun lalu. Hal tersebut dikarenakan adanya pandemi, sehingga minimnya diadakan pertemuan secara tatap muka. Jikapun terdapat pertemuan, maka itu akan menjadi pertemuan yang singkat. Christian dan Khalisa sudah berkenalan saat itu. Saling mengetahui saja bahwa mereka akan menjadi teman satu jurusan, bahkan belum mengira akan sedekat apa mereka berdua. Di awal 2022 mereka baru mulai benar-benar berjumpa dan menjalankan kegiatan bersama. Pada akhir tahun, Christian yakin ia telah jatuh cinta.

Cinta itu jelas bukan pandangan pertama. Khalisa bukan perempuan yang akan dengan mudah dicintai hanya dengan dilihat sekilas. Ia terlihat sangat biasa saja. Begitu pandai melebur dengan apapun di sekitarnya. Bahkan ia sering tidak disadari keberadaannya. Namun, sekali saja ada manusia yang bertatap pandang dengannya, maka itu akan menjadi tatapan yang sulit dilupakan. Takdir bahwa orang itu adalah Christian. Dia yang merasakan ada sesuatu di bola mata Khalisa. Sesuatu yang sulit dipahami. Menjelaskan bahwa dia tidak tertarik didekati, tetapi di saat yang sama seperti memberikan undangan untuk terus mengenalnya. Dan jika tatapan tersebut berlanjut kepada perkenalan, Christian bersumpah bahwa itu akan menjadi hubungan yang sulit untuk terputus. Khalisa memiliki banyak kejutan di dalam dirinya yang kecil. Sesuatu yang pasti tidak dilihat oleh orang-orang yang tidak mengenalinya. Bahwa ia begitu manis di balik wajah cueknya. Bahwa ia begitu cerewet di balik diamnya. Bahwa ia begitu emosional di balik rasionalnya. Bahwa Khalisa cerdas, pintar, berbakat, cantik, berprinsip, penuh cinta dan duka di dalam dirinya. Semakin Christian mengenalnya, semakin ia jatuh.

Pertemuan mereka yang awalnya singkat-singkat saja lama-lama berubah menjadi rutin. Christian menyadari bahwa ia begitu nyaman berada di dekat Khalisa. Ia tak pernah merasa jauh dari dirinya. Ada kalanya dulu ketika Christian dekat perempuan, ia pasti berusaha untuk melakukan apapun yang akan membuat perempuan itu kagum pada dirinya, menyukai. Namun, tidak sama sekali saat ia bersama Khalisa. Ia berani untuk menunjukkan sisi lemah dan buruknya. Melakukan hal aneh, hal yang menjijikkan. Hal yang tidak wajar untuk pasangan-pasangan yang sedang dalam tahap saling mendekati. Ia buang angin tanpa izin, jungkir balik saat menonton idol kesukaannya, berbinar-binar saat menceritakan baru saja bertemu aktris terkenal. Christian sama sekali tidak malu untuk kekanak-kanakan, untuk feminin, untuk inferior, karena begitu nyamannya ia bersama Khalisa. Saat itu, tak peduli apakah Khalisa menyukainya atau tidak, fakta bahwa dia tak pernah memindahkan lututnya saat berbenturan dengan lutut miliknya sudah membuat Christian senang. Setiap momen yang mereka habiskan bersama rasanya begitu berharga dan romantis. Sejak itu Christian yakin bahwa ia mampu untuk benar-benar mencinta.

Mereka pernah berbincang, saat itu situasi masih begitu lugu. Posisi mereka adalah sebagai teman. Berteman saja, dalam artian sudah mampu berbincang, tetapi belum sampai menceritakan permasalahan pribadi, belum dekat. Hanya saja saat itu kebetulan mereka ada di sudut ruangan saat sedang istirahat dari program kerja yang sedang mereka laksanakan, berdua saja, orang-orang lain sibuk dan asik mengobrol. Merasa seperti di luar perkumpulan, Christian mencoba memulai obrolan dengan Khalisa.

“Kamu gapapa?” tanya Christian yang masih belum begitu mengerti Khalisa.

Bagi Khalisa pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sudah bosan ia dapatkan. Semua orang yang baru mengenalnya pasti menanyakan hal itu. Hanya karena ia terlihat tidak bersemangat. Terlihat lusuh karena rambutnya yang lepek, bajunya yang tidak disetrika, wajahnya yang tak memiliki senyum. Bahkan kadang orang-orang mengiranya sakit. Di saat seperti itu Khalisa lebih memilih tak terlihat saja, seperti biasanya.

Maka ia menjawab, “Gapapa.”

Manusia yang sulit dikenali ternyata. Christian menunduk, menatap nasi kotak di pangkuannya, lalu menusuk-nusuk timun yang bertumpuk. Tiba-tiba, matanya menangkap sendok yang memasuki nasi kotaknya dan mengambil timun itu. Satu kali, kembali lagi, lagi, habis. Sontak Christian menolehkan wajahnya kepada Khalisa, orang yang mengambil timun-timun itu.

Lihat selengkapnya