Anton masih belum kembali. Buktinya tidak ada yang mendobrak atau sekadar mengetuk kamar Khalisa meski Christian sudah berjam-jam di sana. Dari yang masih tersadarkan diri, kemudian tidur dengan berpelukan di saat turunnya hujan, dan kini ketika hujan telah berhenti, akhirnya mereka terbangun.
Khalisa sudah jauh dari kata sakit. Perut yang kenyang dan tidur yang cukup berhasil membuatnya sadar. Karena itu Christian sedang bersiap-siap untuk pergi. Ia duduk dengan kakinya yang sudah turun dari kasur. Mencari kaos kaki yang ia geletakkan di sana sebelum tidur tadi. Sebenarnya tidak ingin, tetapi mau tidak mau ia harus pergi. Masih ada syuting yang harus ia kerjakan. Alangkah lebih baiknya bila ia menyelesaikan dulu pekerjaannya, kemudian kembali lagi kepada Khalisa ketika sudah tuntas. Maka akan lebih lega rasanya untuk bersenang-senang.
“Hai,” ia mengelus rambut Khalisa yang dari tadi hanya menatapnya dari belakang saja dengan posisi masih tertidur. “Nanti aku kesini lagi, ya. Janji.”
Khalisa tidak langsung menjawab. Ada sesuatu di pikirannya. Suatu hal yang sudah matang. Harus dikatakan, tetapi enggan. Seandainya sesuatu itu bisa diundur hingga selamanya, ia mau. Namun, laki-laki yang berada di hadapannya ini bukan manusia biasa. Ada cinta di antara mereka berdua yang tidak bisa dibiarkan mengambang saja. Sehingga semua permasalahan harus tuntas.
“Ian,” panggil Khalisa sembari membenarkan posisinya menjadi duduk. Pikirannya yakin, tetapi hatinya enggan. Setelah mengumpulkan keberanian dari tatapan yang Christian berikan, Khalisa berkata, “Aku sungguh mencintai kamu, Ian.”
Christian tersenyum mendengarkan pengakuan itu. Ia tak pernah membayangkan dua kali pernyataan cinta akan keluar dari mulut Khalisa di dalam satu hari yang sama. “Aku juga,” responnya.