Khalisa sudah diperbolehkan pulang. Ia sekarang terlentang di atas kasurnya, dengan tubuh kaku tak bergerak selama berjam-jam. Kadang ia memiringkan badannya ke kanan atau ke kiri sebentar, tetapi sepertinya posisi favoritnya adalah terlentang menghadap atap. Ratna melihat itu dari pintu kamarnya. Seketika pandangan itu membawanya ke masa lalu. Masa yang dengan sangat dalam tidak ingin ia berikan kepada anaknya. Di pintu itu, Ratna memegang semangkuk sup ayam. Ia bawa masuk ke kamar Khalisa, dan diletakkannya di nakas. Akhir-akhir ini keseharian mereka begitu saja. Waktu yang singkat semenjak Khalisa tiba-tiba sakit. Baru satu minggu berlalu, tetapi rasanya begitu lama bagi Ratna. Hatinya sungguh tidak kuat melihat anaknya begitu berubah. Mungkin semua orang memang mengira bahwa Khalisa adalah anak yang pendiam, atau bahkan murung. Tapi tidak bagi Ratna. Baginya Khalisa adalah anak yang sangat menggemaskan, begitu lucu dan berbinar tatkala sedang berucap sesuatu yang disenanginya. Ia sangat manis, terkadang centil, hingga Ratna selalu ingin memeluk dan mencubitnya selagi bisa.
Sayangnya kali ini sepertinya apa yang dikira oleh orang-orang di luar sana benar adanya. Kini, Khalisa yang ia lihat penuh kemurungan. Semakin didekati, semakin sakit perasaannya. Tak banyak yang bisa ia lakukan selain membawakan makan tiga kali sehari ke kamar Khalisa. Makanan itu tak pernah habis. Sudah disuapi pun, hanya dua hingga lima sendok yang mampu ditelan. Kadang Ratna berusaha untuk mengajaknya berbicara. Membicarakan hal-hal sepele tidak punya Khalisa dibuatnya. Sekadar menceritakan apa yang ia lakukan di pagi hari, atau makanan apa yang ia rencanakan untuk buat nanti malam. Khalisa tak pernah menjawab selain dengan anggukan atau gelengan kepala. Itu pun tak selalu.
Dengan kepala dan tubuh yang berat, setiap malam Ratna menyempatkan diri untuk duduk di depan meja di kamarnya. Ia menulis. Tentang dirinya dan keseharian. Tentang apa yang ia rasakan di hidup ini. Semua ia mulai semenjak mengenal Anton. Tulisan manis dan pilu penuh di buku-buku itu. Selama ini, Ratna menulis hanya untuk dirinya saja. Ia tidak tahu harus melepaskan perasaannya kemana. Hanya buku-buku tulis itu yang mau menerima coretannya tanpa mengeluh. Namun mulai hari ini, tujuannya menulis akan berbeda. Karena ia telah bertemu dengan hal baru yang mengecewakan. Bahwa ternyata ia bukan perempuan terakhir yang ‘mati’ di dunia ini. Bahwa anaknya, buah hatinya, seseorang yang paling ia cintai, harus mendapatkan hal yang serupa. Dengan itu, ia tidak ingin Khalisa merasa sendirian. Tulisan ini untuknya. Untuk ia baca. Bukan untuk memaklumi bahwa dunia adalah jahat. Namun sekadar mengetahui bahwa ia tak sendiri. Sehingga mungkin, Khalisa, akan mendapatkan harapan baru suatu saat nanti. Tentang rasa sakit ini, tentang kekecewaan, tentang kematian atas dirinya sendiri. Bahwa memang bekas dari pemerkosaan itu akan selamanya melekat di tubuhnya. Tubuhnya sendiri akan mengingatkannya atas kejadian itu. Akan tetapi, Ratna percaya bahwa mereka bisa mengubah caranya bertindak atas ingatan tersebut. Alih-alih malu, alih-alih takut, apalagi merasa berdosa, ia sangat ingin untuk belajar bersama Khalisa untuk mencintai tubuh dan dirinya sendiri. Lebih mencintai dan menghargai tubuh dan jiwa yang telah membersamai di kala buruk dan senang. Hanya itu yang Ratna harapkan untuk dirinya dan Khalisa. Sehingga buku itu ditulisnya dengan hati, keteguhan, dan ketulusan. Terdapat jiwanya di dalamnya, yang ia harap dapat Khalisa baca sesegera mungkin, setelah dirinya membaik.
Ratna kira ia dapat membersamai Khalisa selamanya. Menanti Khalisa untuk sembuh dan berkembang bersamanya kembali menjadi manusia semestinya yang penuh kebahagian. Ia pikir Tuhan cukup baik kepadanya, membiarkannya tertawa bersama Khalisa setelah menemukan kemenangannya. Namun, Ratna lupa bahwa manusia penuh dengan kekurangan. Bahwa ia tidak bisa menjadi manusia yang berlagak kuat, ada dan siap dalam setiap saat. Bahkan meskipun ia seorang ibu, bukan berarti ia mampu selamanya kuat di depan anaknya. Mungkin anaknya tak tahu akan kelemahan ibunya itu. Atau bahkan si ibu pun tak tahu bahwa dirinya semakin melemah setiap bertambahnya detik yang berlalu. Sakitnya Khalisa menjadi puncak akan sakit yang juga ada dalam dirinya. Sakit yang selama ini tertahan karena ia adalah seorang ibu dan istri. Yang selama ini tak pernah ia sadari. Yang sudah terpendam bahkan Khalisa hadir di dunia.
Saat itu Ratna belum pernah belajar bahwa ternyata sakit batinnya juga dapat memengaruhi fisiknya. Luka-luka yang tertanam akan kekecewaan dan kepiluan itu menumpuk lembar demi lembar sehingga beban tubuhnya semakin berat tetapi juga semakin kurus. Matanya dan bibir terus mengerut dan menurun. Pipinya terus menjadi kendur dan rambutnya pun rontok. Anehnya ia tak pernah menyadari itu karena pasti ia lebih merasakan sakit pada hatinya. Juga masih ada yang lebih penting untuk dihargai daripada tubuhnya, yaitu anaknya. Detik ia mencintai Khalisa menjadi detik ia lupa memandang dirinya sendiri di cermin. Bukan karena ia tak mencintai dirinya sendiri. Justru ia lebih menyayangi dirinya seiring cintanya terhadap Khalisa semakin besar. Khalisa selalu memujinya, mendambanya. Mungkin karena itu Ratna merasa tak memerlukan cermin. Ia bahkan tak memerlukan penilaiannya sendiri untuk menilainya. Ia hanya butuh pengakuan dari anaknya. Dan semua yang ada di dunia terasa cukup. Maka selesai baginya. Tak ada yang perlu ia pusingkan lagi selain Khalisa. Semua yang ia punya di dunia ini telah ia berikan kepada Khalisa tanpa berpikir. Begitu caranya dalam mencintai. Dan Ratna sangat bangga. Bangga terhadap dirinya sendiri hingga ia pun terpukau dan memikirkan kapan terakhir kali sesuatu yang membanggakan ada pada dirinya.
Sehingga pada malam terakhir di hidupnya, di situlah ia. Di kursi, di depan mejanya, yang di depannya terpapar halaman yang telah terisi tentang hari ini. Ratna memandang halaman itu. Indahnya, ia tak menangis. Sama sekali tidak meski masih ada penyeselannya di dunia. Namun, Ratna justru tersenyum. Karena Tuhan setidaknya masih cukup baik padanya dengan memberikan kesempatan menulis semua ini. Karena tak semua orang memiliki kesempatan untuk meninggalkan pesan kepada orang-orang yang tertinggalkan. Mungkin ini cara Tuhan mencintainya? Karena itu sekali lagi Ratna tersenyum. Senyum lugu, dengan cukup lama. Ia sobek satu halaman dari buku itu sebelum menutupnya. Kemudian kertas sobekan itu ia letakkan di atas buku tadi, dan ditulisnya satu kalimat pendek, Berikan semua buku ini kepada Khalisa. Ia lipat, dan ditulisnya nama Anton di atasnya. Tak lupa, ia keluarkan semua buku-buku jurnalnya dan ia tumpuk di atas meja. Kini semua sudah terkumpul. Sekali lagi Ratna memandangnya dengan senyum, ikhlas. Ia langkahkan kakinya menuju kasur. Telentang tubuhnya di sana. Menatap atas, yang kali ini rasanya tidak terlihat seperti atap saja. Seakan ada sesuatu di sana. Tempat yang lebih luas. Anehnya lebih terang. Penuh cahaya dan kesejukan. Tempat itu begitu lapang dan penuh isinya. Dengan memandangnya, Ratna percaya bahwa apapun yang ia inginkan ada di dalam sana. Ia dapat menjadi apapun yang ia mau. Dan semakin dipandang, semakin takutnya hilang. Justru ia mendamba memasuki tempat itu. Hingga lama-kelamaan, rasanya seperti sungguh-sungguh masuk. Rasanya seperti kakinya telah menginjak awan-awan yang membawanya kesana. Terus kesana… kesana… hingga lenyap. Malam itu ditutup dengan mimpi yang sangat indah untuk Ratna. Menuju kebahagiaan, yang selalu berhak ia dapatkan.