Langkah Kaki

Adikanda
Chapter #30

30: 2025

Sudut kafe yang menghadap jalanan menjadi tempat favorit Khalisa kini. Dia duduk di kursi dengan sandaran yang empuk. Hanya satu kursi, yang di depannya adalah meja berbentuk lingkaran yang muat untuk laptop dan kopinya. Sudah lima bulan setelah Khalisa pergi dari rumahnya dan memutuskan untuk tinggal seorang diri. Hari itu setelah berbincangnya ia dengan Tuhan, tiba-tiba dirinya memiliki kepercayaan diri. Bahwa ia akan lebih leluasa untuk bergerak dan bersuara di luar sana, di tempat yang tidak mengekungnya. Karena itu akhirnya ketika ayahnya pulang, percakapan itu dimulai. Percakapan berisikan terima kasih dan maaf yang terlontarkan dari kedua belah pihak. Khalisa tentu mengucapkan terima kasih atas pemberian dan kasih sayang yang sudah dan pernah ayahnya berikan padanya. Dan maaf karena tidak pernah membalas pemberian itu dengan cukup, karena telah mengecewakan, dan kini telah memutuskan untuk pergi. Anton selalu mengetahui bahwa Khalisa bukanlah seorang anak yang memerlukan izin. Ia selalu berbuat apabila dirinya sendiri yang berkehendak, tanpa memerlukan izin siapapun, ayahnya sekalipun. Maka ketika Khalisa telah mengemukakan keputusannya seperti, maka jelas itu telah mutlak, tak dapat diganggu gugat. Anton mengucapkan terima kasih karena setidaknya selama ini Khalisa telah mau berada di dekatnya. Memang tidak pernah cukup bagi Anton untuk menyaksikan tumbuh kembang anaknya selama 23 tahun ini, tapi setidaknya ia telah memiliki memori yang cukup untuk mengenangnya. Khalisa pun telah berjanji akan menjenguk sesekali. Hanya saja memang menurutnya ada beberapa hubungan yang berjalan lebih baik apabila tidak berdekatan. Dan sepertinya itulah yang harus mereka jalani. Sehingga Anton meminta maaf karena telah menjadi ayah yang mengecewakan. Ayah yang sekeji itu hingga anaknya pun merasa tidak dekat dan nyaman dengannya. Ia juga menyesal telah menjadi contoh suami yang buruk, sungguh hal itu tidak seharusnya terjadi, karena Khalisa hanya akan penuh kekhawatiran dan ketakutan terhadap laki-laki sesisa hidupnya. Tanpa peluk bahkan salim, perpisahan mereka ditutup dengan salam. Khalisa pergi dari rumahnya keesokan paginya.

Tinggal sendiri ternyata tidak begitu menyulitkan bagi Khalisa. Mungkin karena apabila di rumah pun ia jarang berinteraksi dengan ayahnya dan hanya menghabiskan waktu seorang diri saja. Hanya saja perbedaannya adalah kini ia benar-benar harus membiayai hidupnya sendiri, khususnya untuk tempat tinggal. Ia pakai tabungannya dari segala projek yang pernah ia ikuti dan gaji magang-magang yang dulu ia jalani untuk menyewa kamar kos. Untungnya Khalisa pun mendapatkan pekerjaan yang cukup luang meski dengan gaji sederhana. Setidaknya cukup untuk kehidupan sehari-hari, meski ia masih memiliki mimpi untuk hidup lebih dari cukup. Bukan mimpi yang megah, tetapi setidaknya hidup yang tak membuatnya khawatir. 

Untuk mendapatkan mimpi itu, kini Khalisa menemukan kecintaan barunya. Cinta yang selama ini tak pernah ia sadari telah miliki. Bila diingat kembali, mungkin saat kecil sekali dulu ia pernah mencintai hal ini atau berandai-andai menjadi orang hebat karena hal ini, sukses. Hingga akhirnya ia pun tumbuh dengan buku yang selalu ada di dekatnya. Membaca menjadi hobinya untuk kabur dari kenyataan. Menulis. Itulah cintanya yang baru. Dimulai setelah Khalisa selesai membaca semua buku catatan ibunya. Setelah itu ia mulai menulis surat-surat yang ia tujukan untuk membalas tulisan ibunya. Setelah membuatnya berkali-kali Khalisa menjadi memikirkan, sungguh disayangkan apabila tidak ada yang membaca tulisan-tulisan yang ia buat. Ia telah berusaha menulis dengan begitu tulus dan indah. Membayangkan bahwa ibunya akan membaca semua itu, tetapi hal tersebut tak akan terjadi. Dan ia tahu bahwa pasti ibunya hanya ingin yang terbaik untuk dirinya. Dengan cinta baru yang Khalisa rasakan saat menulis, tulisan itu membawakannya kepercayaan diri untuk lebih bebas kepada dunia, tidak takut. Sehingga kini, Khalisa memutuskan untuk menulis.

Lihat selengkapnya