Lapar di Balik Lamborghini

Suwito Sarjono
Chapter #1

Kilau Chrome dan Perut yang Perih

 

Kilatan flash kamera menyambar lagi, membutakan mata Mariana yang sudah terasa berputar. Gaun sutra ungu yang ia kenakan mencekik pinggangnya, terasa asing dan berat, dengan label harga yang masih menempel di balik kerah, menggaruk kulit lehernya. Pura-pura tersenyum di depan Lamborghini Huracán yang mengilap, Mariana mencoba menahan napas, menekan perutnya yang kosong. Dua puluh empat jam. Sudah dua puluh empat jam tidak ada sebutir nasi pun yang melewati kerongkongannya. Hanya beberapa teguk air putih dari keran kamar mandi, itupun sembunyi-sembunyi.

 

"Bagus, sayang! Senyumnya lebih lebar lagi!" Suara melengking Bu Susiana terdengar dari balik lensa kamera ponselnya, terdengar lebih bersemangat daripada suara mesin mobil yang baru saja meraung pelan. "Angkat dagumu sedikit, Marina. Elegance! Ingat, kita ini duta kemewahan!"

 

Mariana menarik sudut bibirnya, membentuk senyum kaku yang terasa seperti topeng. Aroma bensin premium dan wax mobil yang mahal menyeruak, menyesakkan paru-parunya. Aroma itu, yang dulunya terasa seperti keharuman kemakmuran, kini terasa seperti bau bangkai yang memuakkan. Kepalanya berdenyut, setiap kilatan lampu kamera terasa seperti palu godam menghantam tengkoraknya. Kakinya gemetar, lututnya terasa seperti agar-agar.

 

"Pindah pose, sayang," perintah Pak Tris, tangannya mengelus kap mobil dengan sayang, seolah mobil itu adalah anaknya, bukan dirinya. "Duduk di kap mobil, kaki menjuntai. Kita mau tunjukkan gaya hidup jet set."

 

Mariana berusaha mengangkat kakinya, tapi otot-ototnya sudah menyerah. Ia merasakan pandangannya mulai kabur, titik-titik hitam menari di depan matanya. Ini tidak bisa terus begini, pikirnya kalut. Aku tidak akan sanggup.

 

"Pak Tris, Pak Tris! Jangan dipegang kapnya, Pak! Nanti ada sidik jari!" Bu Susiana tiba-tiba berteriak, mengabaikan Mariana yang mulai limbung. "Kan sudah saya bilang, mobil ini baru selesai coating!"

 

Pak Tris menarik tangannya dengan cepat, ekspresinya lebih panik daripada saat Mariana nyaris terjatuh tadi. "Astaga, iya! Maaf, Bu. Lupa saya."

 

Mariana hanya memandang kosong. Bahkan sidik jarinya lebih berharga daripada aku. Rasa lapar itu berubah menjadi rasa mual yang perih, naik dari ulu hati. Ia merasa dingin, lalu panas. Linglung. Gaun sutra yang membelenggunya terasa semakin berat, menariknya ke bawah.

 

"Mama, aku..." kata Mariana, suaranya tercekat. Ia ingin meminta makanan, memohon agar mereka berhenti. Tapi kata-kata itu tak pernah keluar.

 

"Sst! Jangan banyak bicara, sayang," balas Bu Susiana, sibuk melihat hasil jepretan di layar ponsel. "Nanti bedaknya luntur. Senyum, Marina. Ingat jutaan follower kita di Instagram!"

Lihat selengkapnya