"Sedikit lagi, Papa! Angle ini bagus! Ekspresi bangganya lebih menonjolkan prestise," celoteh Bu Susiana, ponselnya mengarahkan ke arah Pak Tris yang sedang berlutut di samping ban. "Ingat, ini untuk story pagi ini. Kita harus pamerkan effort kita dalam merawat aset."
Mariana mendengus. Aset? Apa aku tidak termasuk aset yang perlu dirawat? Ia kembali ke kamarnya, mengenakan seragam sekolah dengan hati hampa. Seragam itu terasa longgar, menonjolkan tulang-tulang bahunya yang menonjol. Tidak ada sarapan. Tidak ada bekal. Hanya beberapa tetes air keran di kamar mandi untuk membilas mulutnya yang kering.
Saat Mariana menuruni tangga, suara Pak Tris memanggilnya dari ruang keluarga. "Mariana! Sini sebentar."
Mariana mendekat, jantungnya berdebar cemas. Apakah ini tentang Tuan Budiyawan?
Pak Tris tidak melihatnya. Matanya terpaku pada layar tablet di tangannya, menampilkan detail jasa coating mobil. "Sayang, ini daftar biaya perawatan premium untuk Lambo kita," katanya, suaranya penuh antusiasme. "Tadi malam ada sedikit goresan halus, mungkin karena sesi foto kemarin. Tapi tenang, sudah dipesan yang terbaik!"
Mariana berdiri di sana, menunggu. Ia melihat angka-angka fantastis di layar tablet. Angka yang jelas jauh melebihi uang jajannya setahun penuh. Bahkan mungkin uang sekolahnya setahun.
"Lalu... uang sekolahku, Papa?" Mariana akhirnya memberanikan diri bertanya, suaranya nyaris berbisik. "Hari ini kan terakhir pembayaran."
Pak Tris menghela napas, tanpa mengangkat pandangannya dari tablet. "Astaga, Marina. Kamu ini selalu saja urusan uang. Papa sudah bilang, kan, sabar dulu. Kondisi kita lagi cash flow ketat."
"Tapi, Papa bilang kemarin sudah ada..."
"Sudah Papa alihkan dulu ke sini," potong Pak Tris cepat, menunjuk layar tabletnya. "Lihat, ini penting sekali. Kalau mobil ini lecet, nilai jualnya turun drastis. Reputasi kita juga bisa rusak."
Mariana terpaku. Nilai jual? Reputasi? Jadi, uang sekolahnya yang sudah beberapa bulan menunggak, kini dialihkan untuk melunasi jasa coating mobil? Pikirannya berputar. Itu berarti dia tidak bisa ikut ujian semester. Bahkan mungkin bisa dikeluarkan dari sekolah.
"Uang sekolah itu investasi masa depan kamu, Marina," Bu Susiana menimpali, masuk ke ruang keluarga sambil tersenyum ke kamera ponselnya. "Tapi masa depan kita kan sudah dijamin oleh brand image ini. Sekarang kita harus jaga baik-baik aset kita. Nanti kamu juga yang akan menikmati hasilnya, kan?"
Mata Mariana berkaca-kaca. Menikmati hasil? Aku bahkan tidak bisa makan. "Jadi... aku tidak bayar sekolah lagi, Pa?" tanyanya, suaranya bergetar.
Pak Tris akhirnya menatapnya, dengan tatapan tak sabar. "Sudahlah, jangan drama. Nanti kita pikirkan lagi. Prioritas kita sekarang ini. Kamu fokus saja ke sekolah. Jangan bikin masalah." Ia kembali fokus pada tabletnya, mengabaikan Mariana yang berdiri beku.