Lapar di Balik Lamborghini

Suwito Sarjono
Chapter #4

Tamu dari Masa Lalu

 

Roti itu jatuh lagi, kembali ke sarang sampah yang memuakkan. Mariana berdiri mematung, wajahnya terasa membara, lebih panas dari sengatan matahari. Ia tertangkap basah. Seluruh kepalsuan yang ia coba sembunyikan runtuh dalam sekejap, terekspos di depan Rory, satu-satunya orang yang menunjukkan sedikit kepedulian. Rasa malu itu menjalar, menutupi seluruh tubuhnya, membuatnya ingin menghilang saja.

 

"Mariana... kamu serius?" suara Rory tercekat, ada campuran rasa tak percaya dan iba yang pedih di matanya. "Kamu... makan dari sampah?"

 

Air mata Mariana mengalir lagi, tak mampu ia tahan. Bukan karena lapar, bukan karena takut, tapi karena rasa hina yang menggerogoti. "Aku... aku tidak punya pilihan." Suaranya bergetar.

 

Rory menatapnya tanpa kata, lalu pandangannya jatuh pada sampah yang terbuka, lalu kembali pada Mariana yang kurus kering. Sebuah pemahaman pahit melintas di wajahnya. "Papa kamu... benar-benar tidak bayar uang sekolahmu, dan uang bengkel ayahku, untuk..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi matanya beralih ke arah mobil-mobil mewah yang terparkir di garasi rumah Mariana.

 

"Aku... aku harus pulang," Mariana bergumam, mencoba melarikan diri dari tatapan itu, dari kenyataan yang terpampang jelas. Ia berlari menjauh, meninggalkan Rory yang masih berdiri terpaku di samping tong sampah, dengan ekspresi terluka. Ia berlari secepat mungkin, seolah bisa meninggalkan rasa malu itu di belakang.

 

*

 

 

 

Sore itu, rumah terasa seperti medan perang yang tak terlihat. Bukan dengan suara teriakan, melainkan dengan ketegangan yang menyesakkan. Bu Susiana sibuk mengawasi para asisten rumah tangga yang disewa harian untuk membersihkan setiap sudut rumah, seolah Tuan Budiyawan memiliki mata mikroskopik. Lantai marmer digosok hingga memantulkan cahaya, pot-pot bunga diganti dengan anggrek-anggrek baru yang mekar sempurna, dan aroma pengharum ruangan mahal berusaha menutupi sisa-sisa bau apek yang selalu ada.

 

Mariana dipaksa mengenakan gaun lain, berwarna peach, dengan potongan yang lebih dewasa dan ketat. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya dipoles make up tebal yang terasa berat di kulitnya yang lelah. Ia menatap pantulannya di cermin. Bukan dirinya. Hanya sebuah boneka pajangan, sebuah manekin mewah yang disiapkan untuk dijual.

 

"Ingat, Marina, Tuan Budiyawan itu orang penting," Bu Susiana berbisik, mendekat ke telinganya saat ia merapikan helai rambut yang keluar dari sanggul. "Dia bisa menyelamatkan kita. Kita semua. Jadi, tunjukkan yang terbaik. Senyum. Jadi anak yang manis."

 

"Mama, aku tidak mau bertemu dia," Mariana berbisik balik, suaranya nyaris tak terdengar. Perutnya kembali mual, kali ini bukan karena lapar, tapi karena kegelisahan.

 

"Jangan bodoh, Marina!" Bu Susiana mendesis. "Ini untuk kebaikanmu! Kau pikir hidup di jalanan enak? Ini kesempatan emas! Kamu akan dapat kehidupan yang jauh lebih baik."

 

Kata-kata itu, "kehidupan yang jauh lebih baik," terdengar seperti ironi paling menyakitkan. Mariana sudah tahu seperti apa "kehidupan baik" yang orang tuanya janjikan. Penuh kepalsuan dan kelaparan.

Lihat selengkapnya