Lapar di Balik Lamborghini

Suwito Sarjono
Chapter #5

Diagnosa Kemiskinan

 

Bisikan dingin Tuan Budiyawan masih menempel di telinga Mariana, sebuah cambuk tak terlihat yang menyentakkan kesadarannya. Lamborghini yang cantik. Berharga di koleksiku. Ia merasa jiwanya ditarik keluar dari tubuhnya, dilemparkan ke tumpukan besi tua. Malam itu, setelah Tuan Budiyawan pergi dengan senyum puas dan janji-janji samar, rumah terasa lebih dingin dan hampa dari biasanya. Pak Tris dan Bu Susiana terlihat sumringah, berbagi tawa kecil, seolah baru saja memenangkan lotre, padahal yang mereka 'menangkan' adalah tiket penjualan anak kandung mereka sendiri.

 

Mariana mengendap-endap kembali ke kamarnya, setiap langkah terasa berat. Rasa jijik dan muak sudah bercampur aduk di perutnya yang kosong, menciptakan sensasi melilit yang perih. Ia mencoba berbaring, memejamkan mata, berharap semua ini hanya mimpi buruk. Tapi rasa mual itu tak mau pergi. Ia menelan ludah, berkali-kali, mencoba menahan isi perutnya yang tidak ada.

 

Tiba-tiba, rasa mual itu melonjak, tak tertahankan. Mariana melompat dari ranjang, berlari sempoyongan menuju kamar mandi. Ia berlutut di depan kloset, memuntahkan isinya—hanya air liur kental dan cairan pahit dari lambungnya yang kosong. Tubuhnya bergetar hebat, air mata membanjiri pipinya, bukan karena sedih, tapi karena rasa sakit yang luar biasa. Ia merasa kepalanya pecah, tenggorokannya terbakar.

 

"Uhuk... uhuk..." Ia terbatuk-batuk, menekan perutnya yang kejang. Kepalanya terasa sangat pusing, pandangannya kabur. Ia mencoba meraih keran air, tapi tangannya terlalu lemah.

 

"Mama... Papa... tolong..." panggilnya, suaranya parau. Ia tahu mereka tidak akan mendengar, atau pura-pura tidak mendengar. Tapi ia tidak punya pilihan. Rasa sakit ini terlalu hebat.

 

Beberapa menit berlalu, yang terasa seperti keabadian. Hanya suara napasnya yang terengah-engah dan tetesan air dari keran yang rusak yang mengisi keheningan. Lalu, samar-samar, ia mendengar langkah kaki tergesa-gesa mendekat. Pintu kamar mandi dibuka dengan kasar.

 

"Astaga, Marina! Apa-apaan ini?" Suara Bu Susiana melengking, penuh jijik. "Kamu muntah-muntah di mana-mana! Jorok sekali!"

 

Mariana mendongak, matanya merah dan basah. Ia melihat ibunya berdiri di ambang pintu, bukan dengan raut khawatir, melainkan cemberut dan jengkel. Di belakangnya, Pak Tris mengintip dengan tatapan yang sama.

 

"Mama... aku sakit..." Mariana nyaris tidak bisa bicara. "Perutku sakit sekali..."

 

"Sakit apanya? Paling juga masuk angin," sahut Pak Tris, tanpa ada sedikit pun kehangatan. "Makanya jangan banyak tingkah! Diet itu juga ada batasnya."

Lihat selengkapnya