Ia memaksa dirinya bangkit, merasakan lantai marmer yang dingin menyentuh telapak kakinya yang kurus. Setiap langkah terasa berat, namun ada urgensi baru yang mendorongnya. Ia harus keluar. Tapi bagaimana? Ia tidak punya uang, tidak punya siapa-siapa. Rumah ini, penjara emas ini, terasa semakin menyesakkan.
Saat ia melewati ruang tamu, matanya menangkap sesuatu di meja kaca. Sebuah amplop coklat tebal, tergeletak mencolok di antara majalah mode dan vas kristal. Ada stempel merah besar di salah satu sudutnya, dan sebuah tulisan tebal: "PEMBERITAHUAN PENYITAAN ASET JAMINAN". Jantung Mariana berdebar kencang. Ia tahu apa artinya itu. Surat yang dulu ia temukan di lemari antik, kini menjadi kenyataan.
Suara keributan pecah dari ruang kerja Pak Tris. Pintu yang biasanya tertutup rapat, kini sedikit terbuka, menampakkan bayangan Pak Tris yang berdiri di depan meja, mengepalkan tangan di samping telinga.
"Apa-apaan ini?! Penyitaan? Ini konyol!" Suara Pak Tris membahana, ada nada panik yang jelas di dalamnya.
Mariana segera menyelinap, bersembunyi di balik pilar besar yang membatasi ruang tamu dan ruang kerja. Ia mengintip, berusaha mendengarkan.
"Mereka sudah tidak punya kesabaran lagi, Tris," suara Bu Susiana terdengar tegang, lebih parau dari biasanya. Ia sedang memegang beberapa lembar surat, tangannya gemetar. "Ini sudah peringatan ketiga! Kalau sampai mobil-mobil itu disita, bagaimana kita akan membayar sisanya? Bagaimana kita akan hidup?"
"Hidup apanya? Kau pikir aku ini sapi perah? Aku sudah berusaha mati-matian menjaga semua ini!" Pak Tris membanting tangan ke meja, membuat vas bunga bergetar. "Aku sudah bicara dengan Tuan Budiyawan, Bu. Dia bilang akan bantu. Tapi ini... ini terlalu cepat!"
"Bantu bagaimana? Dia datang ke sini hanya mengendus-endus Mariana seperti anjing pelacak, bukan mau mengulurkan bantuan tulus!" balas Bu Susiana, suaranya naik satu oktaf. "Dia tidak akan memberikan uangnya cuma-cuma, Tris! Kau pikir dia dermawan?"
Mariana merasakan napasnya tertahan. Jadi, benar. Mereka membicarakanku.
"Makanya dengar dulu rencanaku!" Pak Tris mendesis. "Dia memang mau ‘mengambil’ Mariana. Tapi sebagai gantinya, dia mau melunasi semua utang kita. Semua! Termasuk cicilan mobil dan rumah ini!"
Mariana merasa kepalanya pusing. Melunasi utang? Dengan diriku? Air mata yang sudah mengering di pelupuk matanya kembali menggenang.
"Melunasi utang? Memang apa untungnya bagi dia?" Bu Susiana mencibir. "Tuan Budiyawan itu licik, Tris. Dia tidak akan mau rugi. Pasti ada harga yang harus dibayar."