Mata Mariana terasa kering, perih karena kurang tidur. Malam setelah ia mendengar percakapan orang tuanya, pikirannya seperti sirkuit listrik yang korslet, berputar tanpa henti. Bulan depan. Istri siri. Koleksi. Kata-kata itu berulang, menggerogoti setiap sisa ketenangannya. Ia harus lari. Sekarang. Tapi bagaimana? Ia bahkan tidak punya uang untuk membeli sebungkus nasi.
Pagi itu, seragam sekolahnya terasa seperti beban timah di tubuh yang semakin kurus. Setiap langkah menuju gerbang terasa seperti perjuangan melawan gravitasi. Udara panas menekan dadanya. Ia tidak sarapan, tentu saja. Perutnya sudah lama berhenti meraung, hanya menyisakan rasa mual yang konstan.
Di kelas, kepala Mariana terasa berputar. Huruf-huruf di papan tulis menari-nari menjadi kabut. Suara guru seperti desingan nyamuk yang jauh. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia mencoba bertahan, mencubit lengannya sendiri, berharap rasa sakit fisik bisa mengusir pusingnya. Namun, semua sia-sia. Dunianya mulai menggelap, seperti tirai yang ditarik perlahan.
"Mariana?" suara seseorang memanggil, tapi terdengar jauh sekali. Ia merasakan dirinya limbung, lututnya lemas. Kursi terasa menjauh. Lalu, semuanya gelap.
*
Bau antiseptik menyengat hidungnya, membawa Mariana kembali ke kesadaran. Ia membuka mata, pandangannya kabur sesaat, lalu fokus pada langit-langit putih dengan lampu neon. UKS. Ia menghela napas, merasakan tubuhnya terbaring di ranjang yang keras. Seluruh energinya terkuras habis.
"Mariana, kamu sudah sadar?"
Suara itu. Mariana menoleh perlahan. Rory. Ia duduk di kursi plastik di samping ranjangnya, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tulus. Bukan ekspresi jijik atau jengkel seperti yang selalu ia terima dari orang tuanya.
"Rory?" suara Mariana serak. "Kenapa kamu di sini?"
"Kamu pingsan lagi di kelas," jawab Rory, suaranya pelan. "Bu Sita minta aku menemanimu. Katanya kamu butuh istirahat."
Mariana memejamkan mata, rasa malu kembali merangkak. Pingsan lagi. Ini sudah kedua kalinya dalam seminggu. Apa yang akan dikatakan orang-orang? Apa yang akan dikatakan Rory?
"Kamu baik-baik saja?" Rory bertanya lagi, nada suaranya lembut. Ia meraih botol air mineral di meja kecil, lalu membukakannya untuk Mariana. "Minumlah pelan-pelan."
Mariana duduk perlahan, merasakan setiap ototnya protes. Ia mengambil botol air itu, menyesapnya perlahan. Air dingin terasa seperti oase di tenggorokannya yang kering.
"Terima kasih," kata Mariana, nyaris berbisik.
Rory menatapnya, matanya tajam namun penuh iba. "Mariana, apa kamu benar-benar tidak makan lagi?"
Mariana membeku. Wajahnya terasa panas. Ia ingin berbohong, seperti biasa. Tapi untuk apa? Rory sudah melihatnya kemarin. Dia tahu.