Lapisan Topeng

Rona Awan
Chapter #1

1. Dari Permukiman Barisan

“Kinat!”

Suara keras di ruang tamu memberhentikan langkahku dari keluar pintu depan rumah bundar ini. Diriku yang berbalut dress bercelemek tersentak. Bagaimana ini? Keranjang yang kugenggam terlalu lebar untuk kusembunyikan di balik tubuh kurus keringku.

"Kinat!" Dia bersuara keras ketika sampai tepat di belakangku. Dengan tegas Bibi Nediv Dinana merebut keranjang di tangan pucatku.

"Kau hendak ke mana? Memetik beri lagi?!" Dia memberi jeda untuk tergoresnya hatiku. "Lantai ruang tamu ini belum disapu, Kinat!" Semua yang tinggal di rumah ini, kami berdua, mengerti siapa yang menyapunya. Aku.

Aku memejamkan mata. Mengapa dia harus memanggilku dengan nama itu, alih-alih Kinatev Gibrata, nama asliku? Atau nama panggilanku saja, Kinatev?

Bunyi sapu jatuh di sampingku. "Kinat." Nada suaranya merendah dengan menekan, nada suara yang tak kusukai. Nada suara yang membuatku terpaksa menuruti permintaannya untuk mengambil sapu.

Bibi Nediv membanting keranjang kosong di tangannya ke meja kayu ruang tamu. Aku menyapu lantai ruang tamu ini sampai keseluruhan isi rumah bundar. Rumah bundar beratap kubah kami di Permukiman Barisan ini kecil, ukuran masing-masing ruang tamu, dapur, dua kamar, dan satu ruang membersihkan diri serba pas-pasan.

Bibi Nediv yang mengenakan dress berompi bermotif dan topi kerucut masih menghadap pintu. Lekuk wajahnya yang selalu cemberut berbeda jauh denganku, malah tidak mirip seperti bibiku. Nada suaranya mengawang. “Bertahun-tahun yang lalu keluargamu membuangmu, aku yang menampungmu.”

Adik perempuan ibundaku itu menampungku dengan mengubah namaku menjadi Kinat, menjadikanku pembantunya. Aku lupa nama ibundaku sendiri, yang marga sesaudara kandungnya Dinana juga. Aku juga lupa segala hal mengenai seorang kakak untuk berbagi nama akhir Gibrata. Sama halnya dengan ayahandaku. Entah mengapa keluarga inti membuangku sejak kecil sekali. Aku berhenti menyapu. “Mengapa mereka membuangku?” Suaraku bergetar.

Bibi Nediv mendengus. “Tidak ada yang bagus dari dirimu.”

Nihil hal baik? Jadi dia menyatakan bahwa aku sesia-sia itu untuk hidup bersamanya ataupun keluarga intiku. Aku kurang beharga untuk keluargaku temui sejak aku lahir. Aku seburuk itu untuk dihargai sebagai seorang anggota keluarga dalam sebelas tahun kehidupan ini.

“Apa karena aku tidak punya sanur?” Sanur adalah energi ajaib di dalam diri seorang Gunelia. Sebagian orang memilikinya, tidak termasuk aku orangnya. Bibi Nediv memilikinya. Sanur bisa mereka tunjukkan dan ekspresikan.

“Seorang Kinatev Gibrata layak diperlakukan demikian.” Bibi Nediv mengenakan sepatu bot berhak sebelum keluar pintu depan rumah, pergi kerja. Dia sendiri belum menikah. Dia membuka payung di bawah guyuran air dari langit mendung. “Setelah ini kau berangkatlah sekolah, pulanglah menjelang siang, sebelum sekolah usai, untuk melanjutkan pekerjaan rumahmu.” Dia membanting pintu kayu saat menutupnya.

Aku terdiam. Aku layak diperlakukan demikian? Diriku terjatuh, tetapi masih mengenggam gagang sapu. Rambut kepang dua menutupi wajah. Penutup kepala kain khas pembantu tersentak. Lantai masih berdebu di kaki yang bebas dari sepatu bot. Sisi ujung dress-ku terkena debu.

Jadi aku layak diperlakukan, memiliki hidup seperti ini, tidak ada yang bagus dari diri ini. Memang, seorang Kinatev Gibrata kekurangan hal yang baik dari dirinya, senihil mungkin hal baik jadi dia layak diperlakukan seperti ini. Aku menepuk-nepuk rok dress-ku.

Apakah aku bisa tidak perlu menjadi Kinatev Gibrata lagi?

* * *

Aku terkadang saja masuk Sekolah Desa, sisa waktunya menjadi pembantu Bibi Nediv. Aku juga mencuri-curi kesempatan untuk memetik beri dekat Hutan Dain, kalau lepas dari pandangannya. Namun pagi tadi gagal pergi memetik beri, hari ini pun sepulang sekolah harus melanjutkan pekerjaan rumahnya lagi. Rumah bundar beratap kubah Bibi Nediv tidak pernah kuanggap rumahku sendiri. Rumah seharusnya hangat dan nyaman, ini tidak.

Lihat selengkapnya