Aku melewati gerombolan rusa pendek yang duduk terlelap. Burung hantu hitam berderik. Adakah hewan buas di hutan ini? Aku cukup jarang masuk ke Hutan Dain. Aku berlari sambil detakan jantung sendiri melaju. Aku gugup. Bagaimana jika Bibi Nediv mendapati aku lari dari rumahnya? Setelah dari Hutan Dain, ke manakah ku menuju? Ke arah mata angin apa aku pergi? Entahlah kemana kaki ini berlari.
Lariku terhenti kala semakin menuruni bukit Permukiman Barisan dan Hutan Dain. Ekor mataku menangkap sesuatu yang ganjal di sebelahku. Di balik semak sebelah ada seseorang!
Kaki menghampiri orang itu, mataku tertarik dengan Lapisan Topeng di sebelahnya. Jika benar itu Lapisan Topeng, tetapi ya! Berbentuk wajah, teksturnya seperti lapisan gel pipih, seperti lapisan yang menyamarkan diri.
Aku menoleh ke seseorang itu. Tunggu! Anak perempuan seumuranku berkulit cerah tersebut mengenakan tiara indah khas putri Kerajaan Gunelia di depan topi kerucut dengan kain menjuntai di puncak atasnya, gaun berlambang kerajaan, jubah bertudung, dan sepatu bot. Sanggulan rambutnya yang berantakan sedikit menutupi sepasang anting-anting di telinganya, kalung dan gelangnya lepas tercerai-berai.
Belati berlumer tinta darah keluar dari tas ransel kulit besarnya yang terbuka, isinya paling ada beberapa helai pakaian mewah dan kotak-kotak yang berceceran makanan.
Ini, mustahil ini, hah Putri Litsva? Walaupun kami, rakyat Kerajaan Gunelia tidak mengingat bentuk fisik seisi keluarga kerajaan, kami menandai mereka dari tiara, mahkota, dan pernak-perrnik pakaian mereka yang khas keluarga Kerajaan Gunelia, juga mengingat usia mereka, raja atau ratu atau pangeran atau putri. Tanganku bergetar sampai Lapisan Topeng miliknya terhampas ke tanah berumput pendek hutan dengan warna merah darah.
Namun yang menjadi masalah adalah Putri Litsva tidak bernapas. Helai gaun putri di bagian atasnya tercoret darah merah. Tanah di sekitar tubuhnya bergelimang darah. Putri Litsva juga memejamkan mata untuk terakhir kalinya. Ada luka tercabik di salah satu lengannya, lengan panjang gaunnya terobek.
Aku berdiri menjauh, perlahan menutupi kedua mata dengan kedua tangan. Bagaimana bisa Putri Litsva meninggal di hutan ini? Hutan Dain memang terletak di barat daya Istana Gunelia, rumahnya. Apakah dia jauh-jauh bepergian ke sini tanpa pengawal istana melindunginya? Putri Litsva yang sudah meninggal bagaimana bisa dengan Lapisan Topeng? Aku menelan ludah. Pemilik Lapisan Topeng ini Putri Litsva, untuk apa dia menggunakannya?
Aku masih mengingat bacaan buku tua di perpustakaan Sekolah Desa di Permukiman Barisan! Segelintir sekali murid yang membaca buku mengenai Lapisan Topeng.
Lapisan topeng bisa menyamarkan seseorang menjadi orang lain. Cara kerjanya membuat seseorang berperilaku, bertingkah seperti orang yang dia samar. Dengan syarat orang yang ingin menggunakan harus sama umurnya dengan yang ingin disamar dan sesama perempuan atau laki-laki. Dan orang yang ingin disamar ialah orang yang telah meninggal, kan. Lapisan Topeng bisa berganti kepemilikan. Belum ada sanur yang bisa mendeteksi jika seseorang menggunakan Lapisan Topeng atau tidak.
Jadi, aku bisa menggunakannya untuk menjadi Putri Listva! Senyumku mengembang seperti kue mangkuk yang biasa kubuat untuk Bibi Nediv seorang.
Akhirnya, akhirnya, aku bisa menjalani kehidupan seorang putri Gunelia! Aku bisa saja melonjak kegirangan, akhirnya melepaskan kaki untuk melompat. Aku berlari memungut Lapisan Topeng.
Begitu mau mengenakan Lapisan Topeng gel pipih di wajahku, aku teringat tetapi bagaimana jika di akhirnya penyamaranku terungkap sebagai seorang Kinatev lagi dan lagi? Dan akhirnya aku kembali ke kehidupan ITU? Aku sesak napas.
Aku memandang tanah berumput di depanku, sambil berusaha mengalihkan pandangan dari ke arah Putri Litsva. Ah, nanti penduduk Pemukiman Barisan akan mendapati aku pergi dari rumah. Cepat, apakah aku memiliki Lapisan Topeng ini atau tidak?
Ah begini saja, aku mengambil Lapisan Topeng dan bangkit berdiri. Aku akan menjadi Putri Litsva terus dan tidak melepas-lepasnya, meskipun Lapisan Topeng bisa kulepas kapan saja aku mau. Tidak akan terungkap jati diriku sebagai Kinatev Gibrata. Aku tersenyum sambil mengibas kedua kepangan rambutku ke balik pundak. Aku sekarang memiliki sanur, hidup di istana, menjadi putri Kerajaan Gunelia!
Aku memegang sisi kanan dan kiri Lapisan Topeng dan menempelkannya di wajahku. Tekstur lapisan gel pipih langsung melesap ke kulit wajah pucatku. Aku membayangkan sosok Putri Litsva dan seketika ya, fisikku berubah menjadi dirinya.
Tubuhku kini tidak sekurus Kinatev Gibrata, persis seperti tubuh Putri Litsva. Warna kulitku lebih hidup dari Kinat itu. Rambut kepang duanya berubah menjadi rambut disanggul berantakan. Aku kini mengenakan topi kerucut di belakang tiara putri Kerajaan Gunelia di kepala, gaun mewah penuh aksesoris utuh, jubah bertudung menutupi topi kerucut, dan sepatu bot mahal. Tas kuliku sudah hilang, kan yang mengenakannya Kinat. Berganti tas ransel kulit besar anak keluarga kerajaan.