Lapisan Topeng

Rona Awan
Chapter #3

3. Keluarga Kerajaan Gunelia

Sanur besarku berbentuk awan-awan. Awan-awan keemasan yang berjarak setengah meter mengengelilingi sepenjuru tubuh seorang Litsva. Awan-awan itu berputar cepat bagai awan-awan di langit sana. Orang-orang di depanku bertepukan tangan. Aku terharu, aku tersenyum lebar sampai ke mata. Memiliki sanur, ternyata hari-hari ini akan datang. Saat aku bisa seperti tetanggaku dan yang lain. Lima tahun sudah berlalu semenjak identitasku berubah menjadi Litsva.

Adik laki-lakiku yang kini berusia empat belas tahun, Hujula, di sebelah bertepuk tangan keras. Aku segera menoleh ke arahnya. Hujula yang mengenakan kemeja, jas, dan celana panjang khas pangeran menyengir.

Aku menarik napas. Aku menarik sesuatu yang ada di luar tubuh ke dalam. Sanur awan-awan bercahaya keemasan lenyap dari pandangan kami. Kerumunan orang, termasuk para bangsawan, pelayan, dan pengawal istana berangsur pergi. 

“Kakkk.” Hujula berlari dan sanur berbentuk gelombang air emasnya menciprat ke arahku. Semakin kusut saja pakaian berlambang kerajaan Hujula. Sanur hangat di Kerajaan Gunelia yang dingin—kata keluarga Kerajaan Olean, kerajaan yang terletak di selatan kami, kerajaan kami amat dingin suhunya sampai-sampai membuat mereka mengigil dan tidak tahan. Kami sudah terbiasa dengan suhu ini. Paling memakai topi dan menambah pakaian dasar kami dengan mantel hangat panjang.

Aku setengah berlari menyusulnya dengan riang, menjinjing kedua sudut gaun megah berompi. Tiara dan topi kerucut ujung bawahnya bulu dan ujung atasnya kain menjuntai hingga pinggang tetap di tempatnya, pun dengan rambut disanggul rapi. Tak ketinggalan kalung, anting-anting, dan gelang masih aman. Namun sepatu bot berderap seperti kaki kuda yang berjalan. Putri Litsva, aku maksudnya, sering melakukan ini, berjalan dengan tidak anggun.

Waktu Ibunda Ratu menangkapku berjalan seperti ini, Ibunda memberikan tatapan yang kuat dan tegasnya padaku. Dia berjuang keras mendidikku sebaik mungkin menjadi putri satu-satunya Kerajaan Gunelia. Sering dia memberikan hukuman jika aku kepergok tidak berperilaku sesuai didikannya. Seperti boleh memakan seporsi kecil nasi dan satu lauk saja ketika makan sekeluarga. Ataupun tidak memberikan izin jalan-jalan mengelilingi istana bersama Hujula.

Aku dan Hujula berjalan santai namun tetap tegak, berjalan tegak seperti abang kami berdua, Rafnov, setidaknya Hujula berusaha. Sebagai anak bungsu keluarga inti kerajaan Hujula bersikap biasa saja seperti rakyat biasa tetapi tetap berusaha menjadi seperti abang-kakaknya. Dia ‘kan pewaris tahta urutan terakhir setelah Rafnov dan aku.

Aku dan Hujula melewati kolidor demi kolidor panjang istana, baik kolidor terbuka maupun tertutup, juga pintu-pintu berbagai ruang pemerintahan tanpa memasuki mereka.

Kami memandangi orang-orang yang berjalan pergi keluar istana, melewati halaman di samping kolidor yang sedang kami lalui. “Kak, yang bangsawan seumuranku perempuan bergaun biru tua dan berompi coklat itu yang dua hari lalu pergi ke sini yang kasih kue bolu pandan ke kita kemarin itu, Kak ….”

Bangsawan perempuan itu dua hari lalu menghadiahi kami berdua kue bolu, entahlah, mungkin ingin berteman denganku, aku satu-satunya anak perempuan di keluarga inti kerajaan ini, kedua saudaraku laki-laki semua. Mungkin dia mengira aku butuh teman sesama perempuan, dari kalangan bangsawan.

“Oh gitu.” Nada suaraku berganti ke nada bicara jutek Litsva yang biasa. Tidak, Litsva itu aku. “Tetapi kan, Hujula, mengapa dia menitipkannya ke pelayan ya, mengapa tidak memberikannya langsung padahal kemarin kita kan ada pas-pasan sama dia?”

Hujula mengangkat bahu. “Malu, kali, Kak, kan baru pertama kali kalau tidak salah ketemu kita.”

“Mungkin juga.” Masih dengan nada cuek. “Namun mengapa ya, kau tidak kasih aku makan bolunya duluan, Dik? Kamu lagi, yang habisin. Perasaan bangsawan itu sebenernya kasihnya untuk kakak.”

Hujula tergelak-gelak. Dia memegang perutnya. Aku berjalan mendahuluinya di koridor berlangit-langit tinggi ini. Dia entah sudah menyusulku atau malah berbelok ke koridor lainnya.

Aku terperanjat ketika ada sesosok pangeran berdiri menjulang di hadapan. Aku seketika berhenti. “Dor!” Hujula mengangkat kedua tangannya, menakut-nakutiku. Atau lebih tepat disebut mengangetkan aku?

Aku mengelus-elus rompi berkilauku. “Hujula! Aku masih punya jantung, ya!”

“Aku juga masih punya, Kak.” Wajah bulat jenakanya semakin jenaka saja. Hujula kembali berjalan di sebelahku. Kami tertawa-tawa tanpa suara. “A, terus kan, Kak, yang pelayan yang ….” Kami mengobrol tentang pembicaraan kami yang biasa. Sesekali bercanda. “A, itu Kak. Nama pengawal yang kecil, hampir sebesar Kakak itu—”

Aku menepuk lengan jas Hujula. Menurut Ibunda kami tidak sopan menyebut seseorang seperti itu, apalagi menunjuknya nyalang. Aku mengikuti arah pandangan Hujula.

“Eh, maaf, intinya maksudku begitu, Kak. Dan yang wajahnya lonjong itu kak—” Hujula hendak mengangkat tangan untuk menunjuk pengawal itu, dia segera menurunkan kembali tangannya. 

Pengawal yang Hujula maksud sedang berkumpul bersama para pengawal lain, wajah lonjongnya kaku membicarakan sesuatu kepada mereka di dekat dinding batu abu-abu istana sana. Mereka mengenakan topi pengawal dan baju-celana panjang berpelindung khas pengawal Istana Gunelia. “Oh, yang itu.” Nada bicaraku cukup peduli.

“Iya, Kak. namanya Pengawal Nuwar, Kak. Usianya dua puluh tahun. Orangnya baik gitu Kak, a,” Hujula menepuk sebelah tangannya sekali, “Dari dialah aku tahu kalau yang kasih kue itu bangsawan gaun biru tua berompi cokelat, soalnya ‘kan kak, dia lihat ada apa ini bangsawan anak perempuan maju-mundur masuk ke pintu ruangan santai kita sambil bawa kotak kue.”

Aku baru mengacuhkan eksistensi Pengawal Nuwar dari adik  laki-lakiku hari ini. Sebelumnya aku tidak pernah mengacuhkannya. “Terus terus, yang pengawal yang sedang menanggapi ceritanya Pengawal Nuwar itu?”

Hujula mengarahkan pandangannya ke pengawal yang aku maksud. “Ohh, kalau yang itu, Kak …”

Itu Hujula, adikku satu-satunya kalau abangku satu-satunya berbeda lagi. Iya, Litsva, aku memiliki dua saudara kandung. Dia memang jarang jalan-jalan bersamaku dan Hujula seperti ini. Rafnov adalah pewaris takhta teladan dibandingkan aku dan Hujula. Terkadang ditemukan bersama ayah kami, Raja Gunelia, sedang berdiskusi mengenai masalah kerajaan kami. Atau seperti saat ini, aku dan Hujula menemukan pangeran bergaris wajah kaku sedang menatap tugas sekolahnya yang duduk di meja belajar. Dia berusia dua puluh dua tahun, sebentar lagi tamat sekolahnya.

Lihat selengkapnya