Hari ini aku harus menemuinya. Matahari musim semi beraroma bunga-bunga yang bermekaran di halaman paling depan Istana Gunelia. Rerumputan bertemu langsung dengan rok gaun berompiku. Kain menjuntai dari ujung atas topi kerucutku mengayun seiring aku berlari menuju istal kuda. Sanggul rambutku bergoyang pelan. Bunga kembar merah tulip dan popi masih harum, pengawal yang berjaga di halaman paling depan istana suka menguatkan aroma bunga terlebih saat musim semi.
Aku sampai di istal kuda istana, bunga halaman belakang berangsur menghilang wanginya. Sepatu bot menjejak jerami alas istal. Bau khas kuda, pakan mereka, dan kotorannya langsung ada di udara. Aku segera menutup hidungku dengan sebelah tangan. Tangan ini dingin, namun tak sedingin ketika musim dingin akhir dan awal tahun. Aku menuju salah satu kuda putih bertanduk dua dan membuka pagarnya.
Sekarang dengan menunggangi kuda putih ini aku menuju gerbang kayu istana. Aroma bunga halaman paling depan kembali melayang di udara. Jantungku bersemangat memompa darah saat berada, duduk di atas kuda, memacu kudaku, Fediv. Entah kapan terakhir kali aku menunggangi kuda. Putri Litsva, aku, lebih serius mengikuti sekolah daripada berpaku pada kuda. Sejujurnya aku sendiri lebih menyukai berkuda daripada mengikuti pelajaran sejarah dengan membaca buku teks tentang raja-ratu yang pernah memerintah Kerajaan Gunelia.
Sebelum aku melanjutkan kembali kebahagianku berkuda, Rafnov sudah berdiri di depan Fediv. Membuatku harus menghentikan kuda. Dia terentak, aku melindungi mukaku dari kedua tanduk kerucut yang terletak di atas kedua matanya. Aku kembali membuka wajah. Ibunda sedang sibuk membantu Ayahanda mengurusi urusan penting kerajaan, jadi Rafnov yang merintangiku dari gerbang istana.
“Apa?” seruku keras. Putri keluarga inti kerajaan boleh bepergian keluar istana tanpa anggota keluarga lain.
“Mengapa tidak memakai kereta kuda? Kau mau bepergian ke mana?”
“Ke Hutan Kenja!” sahutku. Wajar saja bukan aku ke Hutan Kenja, ‘kan di hutan itu tempat salah satu cenorv?
“Sendiri saja?” Rafnov berlari berusaha secepat mungkin. Melewati kudaku. Ke belakang diriku menuju istal kuda!
Aku mendesah dan khawatir. Bagaimana jika dia ingin menemaniku, membawa kudanya sendiri ke sana? Aku ingin menemui pelaku itu berdua saja dengannya. Sebelum kekhawatiranku berlanjut aku harus menenangkan abangku. “Aku ingin pergi sendiri saja, Bang!”
Rafnov cepat tanggap. Seorang pengawal berusia dua puluh tahun yang kecil dan berwajah lonjong dengan cepat memacu kuda cokelat mudanya ke arahku. Tali busur panjang melingkari bahunya dengan tas penuh anak panah di punggung. Tas-tas besar berisi perbekalan siap sedia terpaut di kiri-kanan kuda bertanduknya. Aku melupakan perbekalan pribadi untuk satu-dua hari pulang-pergi ke Hutan Kenja.
Rafnov berlari di dekatnya. “Tidak didampingi pengawal?”
Aku menghembuskan napas kasar yang jutek. Walaupun anak keluarga inti kerajaan boleh bepergian sendiri, tetap harus dikawal pengawal! Aku geram jika begini. Nanti aku bertemu dengan orang itu bagaimana jika kepergok oleh pengawal satu ini? Pengawal satu ini, Pengawal Nuwar, orangnya tertarik pada untaian-untaian benang yang diluar jarumnya, lagi.
“Pengawal Nuwar saja!” Aku dan Pengawal Nuwar memacu kuda masing-masing menuju gerbang kayu besar istana. Dua pengawal yang menaiki kuda menjaga di masing-masing sisi gerbang besar istana.
Jantungku bersemangat memompa lebih banyak darah lagi ketika gerbang kayu besar menutup dengan aku, Fediv, Pengawal Nuwar, dan kudanya sukses keluar dari istana. Suara Rafnov tidak begitu jelas di sini. Ya, aku berhasil keluar dari istana dengan satu pengawal saja! Satu pengawal saja akan mudah kutangani saat bertemu dengannya. Mudah.
Aku baru saja kembali memacu kuda ketika hadir bunyi tali dan roda berputar di belakang kami. Katrol gerbang dibuka lagi! “Buka gerbangnya!” seru siapa lagi kalau bukan abangku satu-satunya yang protektif terhadap adik-adiknya. Ada entakan ketika gerbang kayu besar itu jatuh berbaring di tanah.
Aku segera menoleh. Empat pengawal lainnya menunggangi kuda mereka melesat keluar dari istana. Tas-tas besar berisi perbekalan siap sedia terpaut di kiri-kanan masing-masing kuda. “Bang Rafnov!” Jantungku semakin berdebar, yang berbeda daripada saat gerbang menutup, lantaran khawatir.
“Minimal lima pengawal kata Ibunda!” Suara berwibawa kepangeranan Rafnov jelas dan lantang.
Ibunda dan Rafnov pasangan bekerja sama! Aku bisa saja mengerang ke langit di atas. Aku tidak mau menampakkan diriku yang asli, jaga-jaga orang itu lupa siapa Kinatev, di depan para pengawal ini! Bagaimana jika mereka memberi tahu keluargaku? Aku menggeram bercampur mendesah. Aku tidak akan kembali menjadi Kinat! Ataupun Kinatev! Aku Litsva!
Namun kami, kami berenam tetap memacu dengan cepat, aku yang memimpin, melewati Padang Rumput Nayu, padang rumput yang berada di depan istana. Terus ke selatan. Pengawal Nuwar entah mengapa terus berusaha menyejajari kudaku, meskipun aku yang selalu berada paling depan di antara kami berenam.
Kami melewati kaki gunung yang berada di utara Hutan Kenja agar lebih cepat, daripada harus melewati keseluruhan Padang Rumput Nayu baru masuk hutan itu. Pengawal Nuwar setuju pada akhirnya, dia sempat menyanggahku, mungkin ini efek Rafnov yang memintanya pertama kali mengawaliku. Aku tidak kelepasan menggerem bercampur mendesah di akhir argumen kami.
Kami bermalam dan makan malam sekedarnya di kaki gunung ini. Perbekalan para pengawal cukup untuk memberi makan diriku. Paginya setelah sarapan dan bersiap-siap, keenam kuda bertanduk melewati gunung itu menuju timur ke Hutan Kenja. Memasuki hutan itu dalam siraman cahaya lembut matahari pagi. Hutan masih cukup dingin suhunya, akan memanas seiring matahari ke atas kepala. Dari tadi jantungku masih bersemangat memompa lebih banyak darah tetapi sekarang ditambah dengan hal yang membuat jantungku berteriak.
Orang itu ialah Mufav. Entahlah nama lengkapnya. Aku menggeram ketika menguraikan ini. Mufav, yang dulu aku sempat aku bekerja sama dengannya, aku menggigit bibirku, ternyata yang kini ingin mengambil sanur keluargaku! Mengambil sanur keluargaku! Siapa dia ingin memperlemah keluargaku? Mengambil sanur keluarga inti kerajaannya!
Memang dulu sebelum aku kabur dari rumah bundar bibiku di Permukiman Barisan kami bekerja sama untuk mengambil sanur keluarga kerajaan, tetapi sekarang itu keluargaku! Keluarga nyataku setelah bertahun-tahun bersama Bibi Nediv yang bahkan tidak bisa kuanggap sebagai ibundaku!
Aku terlanjur menjadi Putri Litsva, alias aku, jadi dia melanjutkan rencana itu sendiri! Dan sekarang dia ingin menjalankannya.
Hal yang membuat jantungku berteriak dan mengeluarkan air mata adalah dia pernah, waktu itu, dulu, dengan bekerja sama dengannya kami akan megambil sanur kelaurga inti kerajaan kami yang besar, dan aku akan menjadi orang yang memiliki sanur seperti mereka, tetangga-temanku. Tetapi kini tidak, lebih baik menjadi Putri Litsva sepenuhnya.
Dan dia TETAP tidak bisa mengambil sanur keluargaku seperti itu!