Lapisan Topeng

Rona Awan
Chapter #5

5. Keputusan dan Pelarian Kuda

Sekarang sore. Sebenarnya sudah jadwal pulang sekolah, aku menukar jadwal sekolah ketika aku mengunjungi Hutan Kenja kemarin dengan sekarang. Guru enggan memberiku kelas. Jadinya aku duduk di ruang belajar, mengerjakan tugas darinya berupa esai tentang pengaruh geografi Kerajaan Gunelia terhadap perekonomiannya. Dia memantauku dari sofa. Aku duduk di meja belajar tengah-tengah lantai bekarpet. Pencahayaan berasal dari matahari yang menyusup ke balik jendela panjang ruangan. Perapian masih padam.

Bunyi coretan penaku menggaung. Suhu tidak terlalu dingin melayang-layang di sepenjuru ruang kosong dalam ruangan. Wangi perkamen, tinta, dan megahnya ruangan dalam istana.

Aku sesekali menghentikan laju pena bulu di atas berlembar-lembar perkamen ini, tidak dapat menjauhkan otakku dari pemikiran mengenai kabar buruk dan pertemuanku dengan pelaku asalnya. Apakah satu keluargaku akan aman dari pencurian sanur Mufav? Apa yang semestinya aku lakukan untuk mengamankan keluarga sendiri? Aku atau kami sebagai keluarga kerajaan harus bertindak apa?

Tidak bisakah kabar itu tidak pernah tersiar? Kami semestinya baik-baik saja menjalani hari berlima bersama, bercanda dan berkeluh-kesah. Semua ini akan menjadi mudah seandainya saja Mufav tidak pernah berencana merebut sanur mereka. Aku akan tetap menjadi Litsva. Namun pada kenyataannya pelaku satu itu merencanakan hal itu, sehingga dia layak untuk kulemparkan ke tengah-tengah perang Kerajaan Gudena dan Kerajaan Olean. Malas sekali aku menghadapi Mufav.

Guruku melirik ke arah sini dari balik kacamata beningnya. Ternyata pena bulu sudah kubiarkan di atas meja tanpa jemari kananku menjemputnya. Aku buru-buru membubuhkan pena bulu ke botol tinta dan menulis apa saja yang terlintas di kepala bertiara ini.

* * *

Air dari awan terjun beramai-ramai ke penjuru Istana Gunelia. Bunyi kilat dan derasnya mereka membanting-banting kaca jendela tinggi ruang makan luas. Suhu cukup dingin di dalam sini. Kami berkumpul di meja makan panjang. Lilin menyala satu persatu di atas meja. Makanan mewah dan banyak tersaji, pun dengan berbagai jus. Aroma ayam, daging, sop, dan lainnya bertabrakan di udara ruang berlangit-langit tinggi ini. Aku menyuap kentang dan wortel ke dalam mulut. Di lidah terecap segar, asin khas sayuran.

Aku menghentikan gerakan sendokku. Aku sungguh tidak ingin kehilangan Ayahanda, Ibunda, Rafnov, dan Hujula yang sedang makan malam di sekitarku. Aku barusan berbicara pada Ibunda mengenai penjagaan para pengawal yang semakin ketat sejak besok. Tetapi Mufav akan mencari cara untuk melewati mereka, manusia satu itu akan bekerja keras menjalankan rencananya satu itu.

Tidak. Aku tidak bisa membiarkannya. Jika kuberi tahu Ibunda untuk menangkap saja Mufav, dia akan bertanya bagaimana aku tau Mufav ialah pelaku yang menginginkan sanur kami. Aku menjawab dengan membuka Lapisan Topengku dan menceritakan dulu aku pernah bekerja sama dengannya untuk mengambil sanur mereka? Tidak.

Bagaimana jika aku yang menghalaunya langsung? Menghalaunya mendapatkan sanur keluargaku susah. Aku menoleh pada para pengawal yang berjaga di sekitar kami, Ibunda dan Rafnov. Dengan cara lain lagi aku bisa bekerja sama dengan Ibunda menghalau Mufav mendapatkan sanur kami tanpa ketahuan, atau Rafnov. Namun sama saja, tidak bisa. Aku mendesah. Hujula tidak mungkin. Kalau Ayahanda?

Aku bisa bercanda dengan Ayahanda dan mengatakan, “Ayahanda, aku tau siapa yang menginginkan sanur keluarga kita … karena kami dulu pernah bekerja sama, hihihi.” Candaanya terlalu kejam.

Ah, aku kasih tau Ibunda “Ibunda, aku pergi ke Cenorv Kenja kemarin dan aku tau siapa yang menginginkan sanurkita!” Ketika para pengawal atas titah Ayahanda menangkapnya Mufav akan memberitahukan kalau aku Kinatev yang menggunakan Lapisan Topeng untuk menjadi putrinya! Namun aku ‘kan Litsva. Ah, intinya Mufav akan berkata seperti itu dan mengatakan kalau kami pernah bekerja sama. Tidak, aku tidak pernah bekerja sama dengan manusia satu itu untuk mengambil sanur keluarga sendiri!

Jadi aku akan menghalaunya sendiri secara langsung, untuk itu aku harus keluar istana dan ya, aku bisa melakukannya. Menghalaunya secara langsung? Namun kata Ibunda sejak besok aku harus dikawal minimal tujuh pengawal untuk keluar istana. Aku akan keluar dari istana secara diam-diam tanpa ketahuan! Aku harus memercayai Pengawal Nuwar untuk pergi bersamaku, jangan sampai sementara aku pergi dari istana dia memberi tahukan kalau aku tahu siapa pelaku yang membuat mereka menjaga keluarga inti kerajaan lebih ketat.

Bisakah aku melakukannya? Menghalau Mufav secara langsung sendirian, Pengawal Nuwar tidak, dia tidak boleh tahu! Namun dia sudah tahu siapa pelakunya duluan dari mulutku sendiri, berhasil menghalaunya dan kembali lagi ke istana dan “Kita sudah aman!” Memberi tahunya tentang aku yang bertemu dengannya dan aku dengan ekspresi sanur-ku dan Pengawal Nuwar melawannya dan dia kalah! Akhir bahagia bagi kami sekeluarga kerajaan!

“Kak Litsva, ada apa?” Hujula memotong sepotong dari ayam utuh bakar di piring tengah meja. Dia menangkap wajahku yang mencerah.

Aku berlagak cuek. “Tidak apa-apa.” Aku kembali menyendokkan nasi uduk dari piringku. 

Berarti, sepertinya, kemungkinan aku bisa melakukannya. Namun pertama-tama aku harus keluar dari istana dulu, sebelum itu aku harus melakukan persiapan diam-diam dan berbicara dengan Pengawal Nuwar. Sementara itu deras jatuhnya air di luar sana semakin meronta-ronta garang.

* * *

Aku baru tidur beberapa jam, tetapi sudah bangun tengah malamnya. Setelah membuka mata, aku berbaring sebentar. Langit-langit tempat tidur penuh lukisan. Bagaimana, ya, nasib keluargaku?

Kamarku luas, dindingnya bercorak-corak khas istana. Hawa masih cukup dingin, bekas hujan semalaman. Ada tempat tidur, lemari besar, dan meja rias menempel pada dinding. Aku mencengkram tiang tempat tidur, menarik diri sendiri untuk duduk. Masih bertumpu pada tiang ini, aku menjejakkan kaki di lantai ubin dan melangkah ke lemari.

Aku memasukkan beberapa pasang pakaian ke ransel kulit besarku. Baik pakaian putri, maupun pakaian yang lebih merakyat untuk menyamarkan diri di tengah-tengah kota dan desa. Entah akan kemana saja aku dan Pengawal Nuwar pergi menghalau Mufav. Berpindah dari satu cenorv ke cenorv lainnya. Harus ada pakaian yang cocok kukenakan di alam bebas dan permukiman penduduk. 

Serius ini aku berangkat menyelamatkan keluarga sendiri? Aku menutup pintu lemari dan mengunci ransel. Memasang sepatu bot di kaki. Kalau aku tidak melakukan ini, aku akan kehilangan keluargaku satu-satunya. Jadi ya, aku harus berangkat menghalau Mufav jelek. 

* * *

Aku mengendap-endap keluar kamar sambil menenteng ransel berisi pakaian. Aku berjalan biasa.

Ada pelayan ber-dress hitam bercelemek putih dan penutup kepala kain putih yang berpapasan denganku. “Putri hendak ke mana?”

Aku menjawab dengan tatapan cuek merengutku, “Ke dapur.”

“Tuan Putri ingin mengambil makanan atau segelas air? Biar saya ambilkan saja, Putri.” Aku berjalan tertatih-tatih, pelayan itu menghadang di depan sambil membungkuk.

Lihat selengkapnya