Setelah berlari-lari dari satu pemikiran ke pemikiran lainnya, aku menemukan cara bagaimana kami pergi ke Cenorv Kenja, walaupun memiliki risiko seperti pemikiran lainnya, tetapi daripada kami melalui Pegunungan Tumpuk, lebih baik cara ini.
Kami berhenti makan siang pakai nasi goreng kentang dan beristirahat cukup lama di pinggir, tetapi tidak terlalu pinggir, selatan Hutan Dain. Ini bagian yang berisiko besar, kami pergi ke timur melintasi Padang Rumput Nayu sampai sore ke gunung yang terletak di utara Hutan Kenja. Daripada kami melintasi perbukitan Pemukiman Barisan terus ke selatan, masuk ke Pegunungan Tumpuk dan melewati Desa Todan II, tempat kami menuju selanjutnya.
Aku tidak bisa mengubah rencana menjadi Desa Todan II dulu baru bertemu Mufav, menghalaunya langsung di sana tanpa persiapan apapun seperti ekspresi sanur. Itu jika kami bertemu Mufav di sana, mungkin saja dia lebih memilih Cenorv Senun yang lebih dekat dengan kotanya. Ah, jika memang dia memilih pergi ke Cenorv Senun atau Cenorv Tinggi dan kami pergi ke Desa Todan I-VI mengira dia berada di sana, untuk apa kami pergi ke Desa Todan II?
Sekarang kami harus bisa melintasi Padang Rumput Nayu untuk menuju Cenorv Kenja tanpa hambatan terlebih dahulu. Soal menghalau langsung Mufav, kami harus mengekspresikan sanur dulu. Aku akan mencoba mengekspresikan sanur-ku tanpa Pengawal Nuwar menyadarinya, jika gagal, akan kepergok aku bukan Litsva.
Dan jauh di sekitar kami berlalu lalang beberapa prajurit kerajaan mengenakan pakaian berlambang Kerajaan Guneli beserta senjata seperti pedang. Ada sekelompok prajurit menuju ke Hutan Dain, mungkin hendak ke tempat peperangan antar kerajaan tetangga kami tumpah. Entahlah rencana Ayahanda lagi terhadap hubungan Kerajaan Gudena dan Kerajaan Olean itu kecuali aku mengirim surat kepadanya sebagai Putri Litsva. Tidak. Aku tidak boleh, nanti mereka akan mengetahui aku berada di mana dan mencariku.
Berarti aku tidak bisa, belum bisa bertukar kabar dengan keluarga lagi seperti hari-hari biasa. Tidak, aku ‘kan dalam perjalanan menghalau mereka menjadi lemah, dan kami akan baik-baik saja setelah itu.
Untuk menghindari kecurigaan para prajurit terhadap siapa aku, aku sudah melepas topi bertiara dan aksesoris putri kerajaan sedari tadi pagi, juga melepas sanggul rambutku, rambut panjang Litsva yang biasa disanggul menjuntai ke gaun berompi. Kuharap mereka tidak menyadari siapa aku.
Aku menoleh ke belakang. Pengawal Nuwar sudah mengganti topi lebar pengawalnya menjadi topi lebar yang jahitan ukirannya berbeda dengan topi dan pakaian pengawalnya sudah berubah menjadi kemeja berikat pinggang dan celana panjang rakyat, biasa. Busur dan panahnya masih menggantung di punggungnya. Tidak apa-apa sesekali rakyat biasa membawa senjata kemana-mana
Gunung salju utaranya Hutan Kenja di kejauhan selari dengan kuda kami di bukit Padang Rumput Nayu yang semakin melandai. Sekelompok prajurit yang menaiki kuda dari landaian bukit itu mendapati kami. Jantungku bergerak lebih cepat.
“Kalian berasal dari mana?” Salah satunya berteriak.
“Desa Todan II, hendak ke Cenorv Kenja!” seruku sambil terus memaku pandang pada gunung barat laut Cenorv Kenja. Seorang penduduk Desa Todan I-VI tidak apa-apa mengenakan gaun berrompi, terus hari ini aku mengenakan gaun yang lebih merakyat.
Prajurit yang kudanya berdiri di sebelah prajurit itu mengernyit. Aku melirik. “Bukankah di Desa Todan V sedang ada Cenorv Gunung?”
Aku sontak menghentikan Fediv. Aku dengan cepat menoleh ke prajurit itu. “Desa Todan V?” seruku.
“Ya!”
Desa Todan V kurang lebih terletak di balik Desa Todan II selatannya Hutan Kenja. Desa itu dikelilingi oleh lima Desa Todan lain. Namun bagaimana jika Mufav bertemu kami dahulu sebelum kami mencapai Cenorv Gunung sana?
Aku segera melirik kuda bertanduk cokelat muda Nuwar, memeriksa keadaannya. Dia meringkik bersamangat, masih sanggup berlari mencapai Desa Todan V. Walaupun demikian, kami butuh istirahat di tengah perjalanan.
“Baiklah, terima kasih.” Aku memacu Fediv menuruni bukit, melewati sekelompok prajurit itu. “Ayo!” seruku kepada Pengawal Nuwar.
Kaki kudanya berbunyi menyusulku. Tetapi hadir suara Pengawal Nuwar mengobrol sebentar dengan para prajurit. “Mengapa banyak prajurit menuju arah Hutan Dain?” Aku terus memacu Fediv.
“Pertabrakan di batas Kerajaan Gudena dan Kerajaan Olean, penduduk Permukiman Barisan harus diperingatkan.”
Tunggu. Ada sesuatu. Aku menunggu. Apakah mereka menyadari kalau Pengawal Nuwar sebenarnya pengawal istana? Kecepatan lari Fediv masih sama, tidak melambat ataupun bertambah cepat.
“Istana Gunelia terlalu dekat dengan Kerajaan Gudena, bukan? Hanya dihalangi Pegunungan Kecil dan Pegunungan Tinggi.”