Lapisan Topeng

Rona Awan
Chapter #7

7. Cenorv Gunung

"Kau ingin melakukan apa, Putri?"

Menggigil, aku menoleh ke belakang sekilas. Kembali mengenakan topi bertiaraku. Menahan napas. Mufav wajahnya datar. Aku membuka mulut. “Menghentikanmu.” Ya. Aku menipiskan bibir. Kuharap hatiku tidak mengeluarkan air mata sekarang.

Mata Pengawal Nuwar melebar. Iya, aku, Putri Litsva akan menghentikannya, Pengawal Nuwar!

Sedangkan Mufav diam. Ekspresi wajahnya sulit kuartikan apa.

Mufav berlari keluar dari kubah. Menyentuh semua ujung panah Pengawal Nuwar. Sementara Pengawal Nuwar berlari masuk kubah. “Uakav egina asun ayov cenorv gunu.” Pengawal Nuwar berhasil masuk. “Lari, Putri!”

Dengan Pengawal Nuwar berada di dalam kubah dan aku dengan Mufav berada di luar, aku harus cepat menemukan jalan keluar. Pengawal Nuwar akan mengekspresikan sanur-nya seperti apa untuk menghalau Mufav? “Menghilangkan daya lari kuda, Pengawal Nuwar!” Pengawal Nuwar berlari menuju kolam bundar cenorv yag dikelilingi petak-petak batu sambil melihatku dengan kedua alis mata bertaut. “Ekspresi sanur-mu!”

Aku membelokkan Fediv ke kanan. Fediv lekas berlari atas arahanku, kami bersepakat dalam hal ini. Di belakangku kaki berlari lurus berbunyi. Di ujung pandanganku Mufav masuk ke dalam Desa Todan V. Aku menghentikan Fediv. “Cepat, Nuwar!” Mufav mungkin akan mengumbar identitasku di dalam desa, jadi aku terpaksa memanggilnya tanpa ‘Pengawal’. Walaupun dia lebih tua empat tahun dariku, aku tidak memanggilnya ‘Bang Nuwar’, terdesak.

Pengawal Nuwar berdiri tepat di hadapan bukaan kubah. Oya, ekspresi sanur harus dia tes berhasil atau tidak. ”Kudamu di kiri!” Aku menyingkirkan Fediv ke kiri. Pengawal Nuwar menjulurkan tangannya ke kudanya di kanan, konsentrasi. Dia segera berlari, menaiki kuda bertanduknya. Memacu kudanya untuk berlari, tetapi ia terpacu untuk berjalan saja.

Suara derap kaki kuda yang berlari mendekat. Aku memacu kuda putih ini berlari maju. Kira-kira di depanku, utara, adalah Desa Todan III. Fediv terus berlari sementara dari barat dayaku larian kuda bertanduk hitam Mufav berbunyi. Dia kini sudah bersama dengan kudanya, menyusulku. Telunjuknya mengacung, Fediv membelok ke kanan, balik kanan. Telunjuknya gagal menunjuk mulutku.

Fediv semakin cepat berlari. “Nuwar!” Mulutku terbuka, tetapi tidak mengeluarkan suara apapun. Mufav berhasil mengekspresikan sanur-nya kepadaku! Ini genting sekali. Bagaimana jika Mufav sewaktu-waktu bisa menghabisi kami langsung di sini? Bagaimana dengan keluargaku?

Pengawal Nuwar menatapku, aku mengangguk tegas padanya, bermaksud mengisyaratkan gunakan ekspresi sanurbarumu sekarang. Pengawal Nuwar melihat melewatiku. Dia mengulurkan tangannya dan telapak tangannya menegang ke arah belakangku. Suara larian kuda Mufav di belakangku tidak lagi hadir, melainkan hadir suara Fediv.

Aku menghentikan Fediv di depan bukaan cenorv, menoleh ke belakang. Tameng transparan biru berbaris menghalangi aku dengan Pengawal Nuwar dan Mufav. Aku menepuk-nepuk tanduk kiri Fediv. “Nuwar, cepat gunakan—”

Mufav menggerakkan kedua tangannya untuk mengambil sesuatu ke arah Pengawal Nuwar. Sanur-nya yang berbentuk pecahan-pecahan kayu menghilang begitu menembus barisan tameng. Aman. Aku mendesah.

Tangan Mufav terjulur ke tengah barisan tameng. Barisan tameng biru hilang. Mufav menarik kembali tangannya dengan cepat. 

Aku menoleh ke Pengawal Nuwar. "Lari!"

Pengawal Nuwar menarik tali kudanya. "Saya tidak bisa meninggalkan Anda, Putri!" Mungkin ‘lari’ mudah dibaca bagi seorang pengawal Istana Gunelia.

Pengawal Nuwar tersentak. Sanur-nya yang berbentuk duri-duri besar berjarak setengah meter dari tubuhnya ditarik ke tangan Mufav yang terjulur padanya. 

Mufav memutar balik kudanya dan memacunya berlari.

Fediv berpacu secepat yang dia mampu ke Pengawal Nuwar. Aku menyambar busur dan dua anak panah dari tas punggungnya. Fediv berbalik. Aku menembak ke arah depan Mufav yang belum jauh. Aku belajar menggunakan senjata di sekolah. Yang paling mahir kugunakan adalah panah dan busur, walaupun jauh tidak setepat Pengawal Nuwar.

Panah terpaut ke tanah di depan kuda hitamnya. Kuda Mufav terlonjak dan meringkik. Dia mendaratkan lagi kedua kaki depannya. Mufav menoleh ke arahku. Aku menembakkan anak panah lainnya padanya, siap membidik. "Jika kudamu bergerak ... aku akan memanahmu.” Ternyata dia sudah melepaskan ekspresi sanur-nya untuk mengunci mulutku.

Hidung Mufav kembang-kempis. "Kudaku, ‘kan?" Mufav melompat dari kudanya dan berlari ke arahku. 

Begitu dia menjulurkan tangannya ke panah dan busur ini, hendak melenyapkannya, aku memacu Fediv berlari ke belakang kami. Aku terus memacunya dengan cepat ke timur, panah dan busur aku lindungi dengan tangan kanan. Tangan kiriku kembali memasukkan topi bertiara ke dalam tas.

Aku memasuki Desa Todan VI bersamaan dengannya yang berjalan kaki berhasil menyejajariku. Kami berhenti. Desa Todan VI cukup ramai. Mereka sedang bercengkrama, juga hilir mudik ke satu bangunan kayu-batu ke bangunan lainnya. Sesekali delman lewat di jalan besar.

"Jangan ambil ini," ucapku ke Mufav, merujuk pada panah dan busur Pengawal Nuwar.

Mufav menatapku dengan cermat lama. Matanya yang sipit sekali semakin sipit lagi. Dia memalingkan pandangan dariku. "Mengapa kau melakukan ini?" Suaranya pelan.

Aku diam sebelum membalasnya. Aku memegang busur berisi satu panah dengan kedua tangan.  "Kau pikir aku akan diam saja di istana sementara kau mencuri sanur keluargaku?" 

"Kau tidak akan!" Dia menatapku dalam. Melalui sorot matanya yang sendu aku teringat matanya kala kecil ketika menemuiku di Permukiman Barisan, mengajakku dalam rencananya. Tepatnya sorot mata sendu dan menggebu-gebu dari sejak dia lebih muda dulu. Panah dan busurku disentuhnya dan menghilang. Apa? Apa yang barusan terjadi?

Lihat selengkapnya