Petak-petak kolam Cenorv Kenja berupa kayu. Kami semakin dekat dengan kubah cenorv itu yang berjejalin ranting kayu, dan aku belum selesai menimbang-nimbang Nuwar setelah mengekspresikan itu akan mengekspresikan apa, dengan mengantri lagi. Panah melayang sendiri, melompat, melompat sejauh tiga meter setidaknya. Terus yang memakan waktu dua jam dinding batang pohon. Menahan gerakan tangan dan kaki. Pola lantai gerakan. Batu tidak terlihat yang memerangkap untuk melindungi. Keranjang untuk membawa air. Aku menyampaikan mereka semua pada Pengawal Nuwar. Selain juga ekspresi sanur untuk memblokir orang dari memasuki cenorv.
"Tetapi Pu—" Aku melebarkan bola mata. "Purina, Ada beberapa yang membutuhkan beberapa kali latihan." Pengawal Nuwar segera menambahkan, "Tetapi ada juga yang mudah. Yang satu itu …," Dia berbisik, "Pola lantai gerakan aku tidak pernah mencoba mengekspresikannya."
Aku menarik napas. Yang itu juga penting. "Baik." Kami berjalan ke depan begitu dua orang keluar dari kubah. Di hadapan kubah Pengawal Nuwar mengucapkan, "Uakav egina asun ayov cenorv kenja." Dia masuk.
Aku segera berlari ke belakang antrian, lebih tepatnya pepohonan kami meninggalkan Fediv dan kuda satu lagi. Hari ini aku mengenakan gaun yang kurang merakyat daripada gaun di hari aku bertemu Mufav terakhir kali, cukup menyerupai gaunku sehari-hari sebagai seorang putri. "Fediv, ayo kita pergi. Kita akan berhenti saat istirahat makan siang."
Beberapa saat berikutnya aku sudah menunggangi Fediv yang berada di sebelah bukaan depan kubah jejalin ranting kayu. Pengawal Nuwar melongok ke arahku, namun kedua kakinya masih dalam kubah. Dia menunjukku. Sanur duri-duri emasnya sampai menyelimutiku, Fediv, dan kedua tas kulitku. Aku segera memacu Fediv berlari. Secepat mungkin, eskpresi sanur tidak bisa tersentuh ini berakhir dalam satu jam.
Melalui Hijau-hijau Hutan Kenja tepat di atas kepalaku jika menggunakan topi kerucut bertiara. Jantungku memompa darah lebih cepat. Aku tersenyum ringan. Aku dan Fediv menuju timur.
Tepat sebelum keluar Hutan Kenja kami istirahat makan siang. Fediv makan rumput dan minum air sungai. Aku menyuguhinya sisa apel yang kumakan. Aku tidak bisa membangun tenda bundar sendiri, harus dengan bantuan Pengawal Nuwar. Dia sedang sibuk melatih ekspresi sanur-nya di Cenorv Kenja sana. Oh ya, ekspresi sanur-nya terhadapku tadi sudah habis. Sia-sia saja jika sampai di sini aku belum bertemu Mufav. Namun aku juga tidak mengharapkan sebongkah pertemuan dengannya.
Daerah depan lebih kering, jadi aku bisa tidak perlu mengenakan topi bertiara ke depan. Aku dan Fediv sekarang berlari di padang rumput barat daya Danau Senun, danau terbesar di Kerajaan Gunelia. Dan kira-kira aku sedang berada di tengah-tengah kerajaan. Ternyata aku sudah bepergian jauh dari rumah di barat laut kerajaan.
Bagaimana kabar keluargaku, mereka di istana? Berapa hari aku meninggalkan mereka? Tiga hari. Tidak bisakah kami bersama-sama memacu kuda kami berlari saat ini? Tidak bisakah aku berubah menjadi Kinatev saja untuk bersama mereka?
Tidak. Kinatev memiliki bibi yang tidak seperti ibunda, dan Litsva punya keluarga lengkap. Litsva merindukan keluarganya. Tidak bisakah mereka ikut? Aku memberhentikan Fediv sebelum melajukannya lagi.
Tidak bisakah aku mengirim surat di Ibu Kota Gunelia yang sekarang dekat untuk mengajak mereka ikut? Atau aku tinggal bersama mereka di istana, bersantai di samping api unggun dan para prajurit yang mengejar Mufav? Aku melarikan kembali Fediv. Tidak. Aku yang memahami dirinya. Aku Kinatev. Dan Kinatev tidak memiliki keluarga. Tidak. Aku Litsva yang memiliki ibunda, ayahanda, adik, abang yang tetap tinggal bersamanya di rumah. Tetap tinggal.
Aku terburu menghentikan Fediv lagi. Kalau begitu untuk apa aku mengejar Mufav? Berlagak aku memahami dirinya, Kinatev pernah bekerja sama dengannya. Lapisan Topeng yang seperti gel pipih tersamar ke kulit wajahku. Aku bukan Litsva asli. Aku terpeleset dari Fediv. Aku mengeluarkan satu tetes air mata.
Tidak. Aku menurunkan tangan dari wajah dan memegang kedua tanduk putih Fediv. Itu aku dulu, Kinatev. Sekarang aku Putri Gunelia Litsva Ruwerda. Dan aku menghentikannya sebagai Putri Litsva, dia ingin mengambil sanur keluargaku! Aku mengusap air mata, memacu Fediv berlari cepat kembali.
Malam kami beristirahat di bukit. Aku memasak nasi goreng daging untuk diri sendiri. Ekspresi sanur Pengawal Nuwar berupa menjaga agar makanan tetap segar masih ada. Tidak bisa membangun tenda bundar sendiri, jadi aku duduk berusaha terlelap di atas batang pohon. Tali Fediv kutambatkan ke pohon ini, dia lebih mudah terlelap daripadaku.
* * *
Setelah sarapan dengan apel, aku menunggangi Fediv menuju utara, Hutan Oftov. Hutan Oftov lebih gelap dari Hutan Kenja. Dedaunan dan rerantingan di atas kepalaku lebih beramai-ramai menutupi tanah berumput hutan.
Aku bertemu Pengawal Nuwar. Sebelumnya kami sudah janjian untuk bertemu di Hutan Oftoh sebelum pergi ke cenorv di dekatnya. Akhirnya dia berhasil menyusulku yang segera menghentikan Fediv.
Melihatnya maksudku. Kuda bertanduk cokelat mudanya berlari melewati pepohonan di depanku. Aku menahan napas. Bagaimana ini, aku harus ke Cenorv Tinggi sendirian. Di ujung, tidak terlalu, Pengawal Nuwar memberhentikan kudanya. Kudanya meringkik. Pengawal Nuwar refleks mencengkram surai cokelat muda kudanya dan menoleh. Wajahnya kaku, waspada tetapi tetap lonjong. Ya iya, lah, orang wajahnya lonjong. Pengawal Nuwar membelalakkan mata mendapatiku. "Purina?"
Aku mengalihkan pandangan ke sekitar. Tidak ada siapapun. "Ke mari!"
Kuda Pengawal Nuwar berjalan ke sini. Saat kudanya sudah berada di dekatku, aku berkata pelan, "Kita cari Mufav." Pengawal Nuwar menyimak. "Dia berada di Cenorv Tinggi atau Cenorv Senun."
Cenorv Tinggi berada di Pegunungan Tinggi, utaranya Danau Senun tempat Cenorv Senun di bawah air danaunya. Kami sedang di Hutan Oftov, baratnya Danau Senun. Aku mengenal Mufav dengan cukup baik dalam waktu yang sesingkat itu dulu. Dia orangnya suka bosan, lebih menyukai berpindah-pindah cenorv untuk mengekspresikan sanurdaripada menetap di satu cenorv. Cenorv Kenja dan Cenorv Gunung sudah dia kunjungi, maka tersisa pilihan kedua cenorv lainnya.
Kami ke arah timur, menuruni bukit yang melandai di hadapan. Dedaunan dan rerantingan di sini lebih enggan menerima kehadiran sinar matahari. Kedua kuda kami berlari hati-hati.
"Putri, bagaimana bisa Anda mengenalnya?"