Lapisan Topeng

Rona Awan
Chapter #9

9. Nuwar

“Kalah?” Aku segera mengambil panah dan mengaitkannya pada tali busur. Mengarahkan anak panah kepada Mufav. Sementara dia masih menunjukku sambil mengunyah kue kering di tangan kanan. Remah-remah kue jatuh di tanah bersalju gunung.

Mufav menggigit potongan terakhir kuenya. Dia menoleh ke belakang, ke arah Danau Senun. “Pengawalmu sudah kuambil sanurnya,” dia kembali menatapku intens, “terus menerus.”

Aku melebarkan mata. Apa yang baru saja dia katakan? 

Mufav dengan cepat membuka telunjuk dan kepalan tangannya. Sanur-nya yang berbentuk pecah-pecahan kayu melingkupi tas panah dan busur di tanganku yang seketika menghilang.

“Kau tidak memiliki apapun untuk menghentikanku lagi.”

Aku menghela napas bercampur mendesah kasar. Menginjak-injak tanah bersalju putih. Pengawal Nuwar sudah melemah, busur sudah hilang, ah panah! Dan Fediv! Aku melempar sepanah kepadanya yang dari busur yang menghilang tadi sambil segera berlari ke Fediv. “Ayo!” Aku segera menungganginya. Sementara panah itu menghilang di tengah jalan menuju Mufav.

Aku memacu Fediv mendaki turun gunung. “Fediv, tolong cepat.”

Saat tinggal beberapa pijakan lagi, hadir suara seorang pemuda kepangeranan. “Dik Litsva!” Aku menoleh ke asal suara. Alisku terpaut, mulut terbuka. Seorang pemuda besar pipi dobel itu mengenakan mahkota pangeran di depan topi lebar bermotif istana, kemeja berikat pinggang berlambang kerajaan, mantel hangat panjang, serta celana panjang dan sepatu bot. Itu bukan Rafnov. Dia sekitaran umur dua puluh tahun. Apakah dia abangku?

Aku, Litsva menitikkan air mata. Aku memiliki abang satu lagi? Aku tidak bisa berkata-kata. “Bang Wunar?”

Oh iya, aku ingat sekarang. Dia abang kedua Litsva. Sebenarnya dia pewaris tahta urutan kedua setelah Rafnov, bukan aku. Beberapa tahun yang lalu dia sebenarnya menghilang dari istana, tidak ditemukan di sepenjuru Kerajaan Gunelia.

Sepertinya raja, Ayahanda, mengekspresikan sanur-nya yang besar untuk membuat rakyat melupakan sosok pangeran kedua mereka, kecuali keluarga inti kerajaan yang tetap ingat kepadanya. Dengan sanur-nya yang besar dan situasi yang memungkinkan untuk melupakan seseorang yang lenyap selama bertahun-tahun, dia berhasil mengekspresikan sanur-nya. Sepertinya bukan melupakan ya, tetapi merelakan. Mungkin juga ekspresi sanur itu akan terhapus begitu kami bertemu sosok asli Pangeran Wunar.

Pangeran Wunar berlari arahku sambil memandang ke atas gunung. Dia berdiri di belakang Fediv, menghalangiku dari Mufav. Mufav yang berpijak di tanah yang lebih tinggi dari kami menoleh ke arahku. Tangannya bergerak untuk menujuk abangku.

“Jangan!!” teriakku histeris.

"Kau tau jawabanku selalu tidak." Dia menunjuk Wunar.

Tetapi tidak ada yang terjadi. Wunar masih berdiri merentangkan tangannya. Di kepalan tangan Mufav tidak ada sanur apapun. Dia tidak berhasil. Aku menghela napas.

Wunar menunjukkan sanur-nya berupa benang-benang kusut emas setengah meter dari sepenjuru tubuhnya. "Mengapa kau ingin mengambil sanur keluargaku?"

Mufav menggeram. Dia berlari secepat angin kencang memanjat gunung, ke arah Cenorv Tinggi. Entah di mana kuda hitamnya.

Wunar berbalik kanan dan menuntun Fediv memanjat turun. "Beritahu aku bagaimana kamu mengenalnya, Dik," ujar Wunar serius.

Bagaimana ini? "Ada suatu masa singkat kala aku mengenalnya." Tunggu. Litsva, aku, maksudnya kan aku bukan Kinatev, pernah tau Mufav? Aku tak mengenal Mufav.

"Di mana?" Di Hutan Dain. "Mufav, Siapa dia?" Dulu teman kerja sama Kinatev. "Dari mana dia berasal? Apakah dia seorang bangsawan?" Kota Kemnar. Bukan. "Jadi bagaimana bisa kamu bertemu dengannya dulu?" Fediv berhenti.

Wunar menembus dalam mataku, menelusuri rahasia apa yang tersimpan dalam jiwa ini. "Litsva, jika kau tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tolong jawab ini. Jadi bagaimana bisa kau tahu dia pelakunya?" 

Tidak mungkin aku memberitahunya tentang Lapisan Topeng yang kumiliki. Tidak, aku ialah Litsva asli, adik kandung perempuan Wunar.

"Apa Mufav Dikalav memberi tahumu? Mengancammu? Dan kau menjaga rahasianya untuk selamanya?"

Tidak memberitahu bahwa aku bukan adik perempuanmu, ya. Aku bisa menjawab segala pertanyaan itu sebagai Kinatev. Tetapi air mataku tidak keluar. Aku adik perempuannya Wunar. 

"Aku tahu," kataku pelan dan tegas. Aku memandang ke depan. Biru air permukaan Danau Senun tenang dari gunung ini, di bawah sana. Rumput hijau membentang membelah Pegunungan Tinggi dan danau itu. Bulan menyinari pemandangan ini. "Dan tolong, teramat tolong jangan menanyakanku tentang Mufav lagi." Aku melanjutkan, "Aku tidak mau membicarakannya lebih lama lagi." Perbedaan nada ada di tiga kata terakhir.

Wunar diam. Sampai kami turun dari gunung dan menginjakkan kaki di tanah rerumputan, baru dia membalas, "Baiklah, tidak apa-apa jika kau tertekan menjawabnya." Dia menatapku diiringi senyuman samar. "Kita saudara, bukan, saling memercayai?"

Sepertinya memang begini memiliki seorang saudara, kami memercayai satu sama lain ketimbang orang asing. Saudara melembutkan hati kita yang keras nan kaku akan ketengangan. Memaklumi jika aku tidak baik-baik saja. Aku sungguh tidak ingin kehilangan Wunar lagi setelah bertahun-tahun dia menghilang.

Aku menatapnya dalam. Suaraku melembut, "Iyaa, Bang Wunar." Tunggu—Wunar—Nuwar?

Wunar tersenyum. Matanya berkaca-kaca terharu. "Senang bertemu dengan Adik lagi, setelah waktu yang sangat lama."

"Sama denganku," jawabku dengan nada ramah yang biasa kepada saudaraku.

"Malam ini kita beristirahat di sana." Suara kepangeranan Wunar masih jelas. Dia seperti memberi titah kepada orang lain. Bagaimana jadinya jika dia kembali ke istana sebagai pewaris tahta kedua? Wunar menunjuk ke ruang kosong di bawah batu besar pada Pegunungan Tinggi.

Fediv dan Wunar berjalan menuju tempat itu. Kami berusaha bergerak secepat mungkin.

Aku masih menggenggam tali kuda putih ini. "Namun di mana kau selama ini?" Aku siap dengan jawaban apapun. Termasuk apakah dia pindah kewarganegaraan ke kerajaan tetangga, bersembunyi di sudut muram pegunungan, apa saja. Sebenarnya dia berada di mana sampai-sampai kami gagal menemukannya?

Wunar berhenti dan menoleh ke arahku. Tatapannya sulit kuartikan. "Menyamar sebagai Pengawal Nuwar menggunakan Lapisan Topeng."

Lihat selengkapnya