Pelayan mengambil kembali surat itu setelah aku memasukkan kertas surat dan menutup segel surat. Aku kembali menatap Ibunda.
“Sesuatu yang akan membantu kerajaan seperti apa?”
Seperti apa, ya? “Memperkuat kerajaan kita.”
“Apa ada kaitannya dengan hubungan Kerajaan Gudena dan Kerajaan Olean?”
“Tidak, Bu.” Aku menggeleng.
Kami berdua diam. Ibunda memecah keheningan yang menggantung di langit-langit tinggi ruang makan. “Kalau begitu apa?”
Aduh, kalau begini aku harus menjawab apa? Aku membalas tertatih-tatih, “Seperti ... menenangkan rakyat pelihal perang itu agar membantu kalian menangani kepanikan mereka. Semacam itu.” Tepatnya menangani salah seorang rakyat, Mufav Dikalav.
“Kalau begitu mengapa tidak mampir ke Ibu Kota?”
Rafnov menggerak-gerakkan tangannya. “Rakyat tidak hanya berada di Ibu Kota, Ibunda, rakyat ada juga di desa-kota lainnya.”
“Kau baik-baik saja sepanjang perjalanan? Aman?” Ibu mengangkat tangan ke beberapa pelayan, isyarat untuk meletakkan piring dan gelas dari gerobak nampan ke atas meja panjang. Pelayan memenuhi meja kami dengan berbagai lauk pauk. Ada soto, daging sambal, sayur-mayur, buah-buahan. Tak ketinggalan mengisi gelas dengan susu sapi dan air.
Bagaimana menjawabnya, ya? Setengah-setengah, hah? Aku mengangguk. “Pengawal Nuwar mengawalku dengan baik, Ibunda.” Abangku. Bagaimana reaksi mereka jika kuberi tahu Pengawal Nuwar adalah Wunar? Bagaimana sikap mereka? Wunar yang sudah lama pergi tetapi kembali sebagai orang lain? Aku tidak yakin Ibunda atau Ayahanda akan senang. Wunar akan disuruh kembali menjadi dirinya dan oh, ya, apa yang sebenarnya terjadi dengan Wunar? Aku harus menanyainya.
“Bagus kalau begitu.” Ibu melanjutkan, “Kau setelah ini tidak akan pergi kembali, ‘kan? Apakah rencanamu sudah selesai?”
Aku mendesah dalam hati sementara aku menahan napas. Belum selesai. Bagaimana bisa akhirnya aku kalah seperti itu? Namun rencanaku tidak bisa dilanjutkan lagi, dengan ekspresi sanur Mufav yang terus berkembang. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Harus berbicara dengan Pengawal Nuwar setelah ini.
“Litsva?” panggil Rafnov. Dia sudah memungut satu jeruk besar.
“Aku tidak begitu yakin itu sudah selesai.”
“Mengapa belum?” Ibunda menjatuhkan garpu dan sendok dari tangannya ke atas piring besarnya. Aku tersentak. “Perjalanan kemana lagi mengelilingi sepenjuru kerajaan kita?” Darimana dia tahu aku mengitari kerajaan? Insting seorang ibunda memang bagus.
Aku mengupas jeruk yang Rafnov ambil dan berbagi dengannya juga Hujula. Buih air jeruk terciprat ke kedua tanganku. Kami bertiga menyuapkan sekeping jeruk. Manis asam jeruk beradu padan di dalam mulutku.
“Asal kau tahu, kau bisa memaparkan detail rencanamu di surat yang kau tinggalkan untuk kami, ‘kan?”
Aku masih terbuai akan segar yang jeruk suguhkan. “Maaf, Ibunda, suratnya singkat saja karena aku buru-buru malam itu. Mengenai menenangkan rakyat, aku harus memastikan apakah mereka benar-benar sudah tidak khawatir lagi dengan berkunjung ke kota-desa mereka, Ibunda.”
Ibunda duduk tegak. Dia mengatur ulang posisi tiaranya. “Baiklah jika begitu. Kau sudah besar, sebagai seorang putri kerajaan ini kau memang harus turut andil dalam pemerintahan kita. Ibunda yakin kau akan pulang ke sini lagi.” Kedua orang tuaku membiarkan aku mengatasi permasalahan ini dengan caraku sendiri.
* * *
Ayahanda hari ini sibuk, mediasi perang. Kerajaan Gudena berhasil mengambil sebagian wilayah Kerajaan Olean. Di peta, lurus ke barat dari tengah Hutan Dain sampai situ wilayah Kerajaan Gudena sekarang, atau berubah lagi setelah ayah melakukan mediasi terhadap mereka. Perang terjadi, kedua kerajaan sama-sama ingin memperluas wilayah ke masing-masing. Bertahun-tahun yang lalu Kerajaan Olean menyerang Kerajaan Gudena yang serta-merta membalasnya.
Ah tidak apa-apa, setelah dia pulang dari perbatasan kedua kerajaan aku akan menemuinya.
Setelah sekolah sebagai pengganti waktu perjalananku, hari ini Sabtu sebenarnya libur, aku mendatangi Hujula yang sedang berdiri bersandar di pilar bulat koridor. "Dik Hujula, apa kau melihat Pengawal Nuwar?"
“Tadi ada aku mengobrol dengannya, sekarang tidak tahu dia berada di mana.” Aku berjalan cepat kembali, melewati Hujula. “Kakak ingin menemuinya?”
Aku menghentikan langkah, tidak langsung menjawab. “Ya.”
“Mau ikut, Kak!” Aduh. Aku berjalan cepat, adik laki-lakiku menyusul, menuju pos tempat biasa Pengawal Nuwar berjaga. “Buru-buru ya, Kak?”
Aku mengangguk tak acuh. Kami menyeberangi halaman, memasuki koridor pinggir halaman, belok kiri ke dalam istana. Berbelok beberapa kali.
“Bagaimana perjalanan kakak, Kak?” Aku belum menjawab ketika dia meneruskan, “Aku dan Bang Rafnov ingin menemuimu langsung ketika Kakak belum membalas surat lebih dari tenggat hari yang kami tetapkan.”
Aku berhenti.
“Tetapi aku tidak diizinkan, setelah Ayahada, Ibunda, dan Bang Rafnov berbicara, karena Bang Rafnov putra mahkota, pewaris takhta pertama ... dan Bang—.” Hujula memutus kalimatnya, dia membuka mulut untuk berbicara tetapi menutup mulut kembali. Wajahnya memucat.