Lapisan Topeng

Rona Awan
Chapter #11

11. Bersiap-siap

Sore hari kami bertemu kelima pengawal paling dipercaya Ayahanda yang dikirim ke Ibu Kota mengenai suratku di balas orang lain. Di tengah Padang Rumput Nayu itu aku menyuruh mereka kembali ke istana. Memberitahukan bahwa aku sudah mendapat izin dari Ratu Lavnema, Raja Ruwerda baru pulang ke Kerajaan Gunelia.

* * *

Pagi keesokan harinya kami mendaki gunung bersalju barat laut Cenorv Kenja. Angin berhembus kencang di sini. Aku menoleh ke Pengawal Nuwar. Tidak bisakah dia kembali menjadi abangku? Menemani perjalanan sebagai abangku?

Malam kami sampai di Cenorv Kenja. Sambil istirahat di pepohonan paling pinggir tanah lapang depan kubah cenorv kami menunggu sampai tidak ada lagi orang di dalam kubah. Sejam berlalu, tiba giliran Pengawal Nuwar. Aku enggan rakyat sini tahu aku Putri Litsva yang dikawal salah satu pengawal istana, menyembunyikan rencanaku sebenarnya dari keluarga, tidak apa-apa mengantri.

"Kau siap?" Kecuekkanku berkurang setelah mengetahui dia sebenarnya abangku di balik Lapisan Topeng.

Pengawal Nuwar mengangguk. Setelah kuberi tahu apa saja yang harus dia ekspresikan, dia melangkah ke kubah Cenorv Kenja. Aku masih duduk di pohon depan kubah.

Dan dia mengekspresikan sanur-nya di sana tanpa aku bisa mengekspresikan sanur-ku juga. Aku tersenyum pada Cenorv Kenja yang berpetak-petak kayu. Berusaha sekuat mungkin agar air mataku tidak keluar. Aku tidak bisa mengekspresikan sanur. Pengawal Nuwar menatapku di tengah ekspresi sanur-nya. Aku tersenyum pada Cenorv Kenja.

Aku tidak bisa menjadi Kinatev. Aku menyembunyikan wajahku dari Pengawal Nuwar dan Cenorv Kenja di balik pohon. Sebelah tanganku menempel pada batang. Semua akan baik-baik saja. Tanganku meraih topi kerucut bertiara di atas kepalaku. Kau ‘kan seorang Litsva. Putri Gunelia Litsva Ruwerda.

Aku mengabaikan gemuruh jantung. Cenorv Kenja yang sanur pengawal Nuwar kembali berada tepat di atas cenorv, berkilau-kilau indah. Aku teringat sanur awanku. Aku mengeluarkan sesuatu di dalam diri keluar, mempertunjukkannya. Awan-awan keemasan mengelilingi berjarak setengah meter dari gaunku.

Pengawal Nuwar menyelesaikan saat menjelang tengah malam. Dia bilang akan melanjutkan saat pagi buta. Entah pagi buta ada orang atau sepi, katanya.

* * *

Pagi-pagi buta aku terbangun oleh kicauan burung bersayap kupu-kupu di Hutan Kenja. Kami merayap keluar dari tenda bundar berukuran kecil masing-masing. Kami memasang tenda tidak terlalu dekat dengan Cenorv Kenja, tetapi dekat dengan sungai di hutan ini. Tepatnya di area terbuka yang cukup luang dari pepohonan hijau-coklat. Begitu keluar tenda, langsung disambut pemandangan Fediv dan kuda Pengawal Nuwar menunduk memakan rerumputan. Kedua ikatan tali kuda ditancapkan di rerantingan pohon.

Kami menggantung lampu minyak di ranting salah satu pohon, matahari masih setia bersembunyi.

Oh, ya, Siapa nama kuda bertanduk cokelat muda satu itu? Sambil bangkit berdiri, aku melongokkan kepala kepada Pengawal Nuwar. “Kudamu punya nama? Namanya siapa, Pengawal?” Tidak bisakah kupanggil ‘abang’ saja, di balik lapisan topeng itu dia sebenarnya abangku?

“Putri mau saya menamakannya apa?” Dia malah tanya balik. Pengawal Nuwar sedang merobohkan tenda bundar tempatnya tidur semalam. Tepatnya bukan merobohkan, melainkan menarik kain pelapisnya dan membongkar rangka kayunya.

“Terserah padamu saja.” Nada suara cuek Litsva yang biasa. Eh, aku kan Litsva itu sendiri. Lidah terpeleset menyebutkan ‘Bang Wunar’ di ujung kalimatnya. Nyatanya yang saat ini berada di sini ialah Pengawal Nuwar, bukan abang keduaku.

Pengawal Nuwar memandang ke dedaunan lebar hijau pohon di atas sana. Dia menggulum bibir. “Kalau Kudanuwar saja menurut Tuan Putri bagaimana?”

“Sudah kubilang, terserah kau saja.” Mungkin bagi Litsva percakapan ini kurang penting, berdasarkan gelagat Litsva sendiri, tetapi aku sebagai Kinatev ingin menanyakannya. Jadi aku yang memakai Lapisan Topeng menjadi Litsva tetap menanyakannya, basa-basi saja. Selama tidak keluar dari karakter Litsva, maka bisa kulakukan. Eh, namun ‘kan sebenarnya aku beneran Litsva itu sendiri, tidak sedang menyamar.

Lihat selengkapnya