Sore hari kami sampai di Ibu Kota Gunelia dan pergi ke jantung kota, pasar. Bagaimana cara mencari Mufav? Mustahil menyebar poster orang hilang berciri-cirikan dirinya. Aku menghalau Mufav ‘kan merupakan misi rahasia antaraku dengan Pengawal Nuwar alias abang kandungku, Wunar. Kalau begitu dengan cara apalagi, ya?
Pasar berisi meja-meja penjualan di bawah tenda-tenda rendah yang berkesinambungan. Para penjual berada di balik meja. Para pembeli memadati kerumunan di meja penjualan. Orang-orang mengenakan pakaian hangat. Tidak apa-apa tanah becek, kami semua mengenakan sepatu bot. Ada yang menjual daging sapi, daging ayam, sayur-mayur, serta buah-buahan. Bau berbagai bahan mentah makanan itu menusuk udara dengan cara yang pelan.
Beberapa rakyat menggiring tali kuda sambil berjalan ke satu meja ke meja lain seperti kami. Kami sudah turun dari Fediv dan Kudawar, menarik tali mereka mengelilingi pasar yang penuh hiruk pikuk. Tak lama waktu berselang, sebagian penjual menutup gerai tenda mereka. Tidak terlalu banyak, malam masih cukup lama, selain itu ini merupakan pasar di Ibu Kota.
Pengawal Nuwar menghampiri meja penjualan cabai, aku mengikuti. Begitu sampai di depan penjual ibu-ibu itu, kami berhenti. Pengawal Nuwar mengenakan pakaian yang merakyat hari ini, tidak seperti pengawal istana, jadi aman. Dia mengajukan pertanyaan. “Akhir-akhir ini adakah Ibu melihat seorang pemuda berusia delapan belas tahun sedikit gemuk, rambutnya hitam, wajahnya lonjong, matanya sipit sekali?”
Dahi ibu penjual cabai berkerut. Dia melirik ke langit cerah di balik atap tenda, menggeleng pelan. “Perasaan ibu tidak ada.”
Pengawal Nuwar menanyai baik penjual maupun pembeli yang sedang tidak terlibat aktivitas jual-beli sehingga tidak menganggu mereka. Dia melebur sebagai rakyat pemuda biasa berusia dua puluh tahun. Sejauh ini hasilnya hampa. Sambil dia menanya-nanyai, benakku berpacu pada pemikiran kira-kira berada di mana Mufav sekarang.
Coba pahami jalan pikiran Mufav. Sekiranya jadi dia, apa yang akan kulakukan? Kami terakhir mendapati dia di Pegunungan Tinggi, lima hari yang lalu. Terus? Dia orang yang pekerja keras. Sepertinya dia sambil berlatih di Cenorv Tinggi menginap di Desa Konap. Kalau menginap di Pegunungan Tinggi ‘kan terlampau dingin. Antara di Desa Konap atau di lembah padang rumput depan Danau Senun dalam tenda bundar.
Apa jangan-jangan dia mampir ke Kota Kenava, ya? Namun ketika kami melintasi Kota Kenava untuk menuju Istana Gunelia, kami tidak menjumpainya. Tidak mungkin dia ke Kota Kenava. Dia masih di sekitar Danau Senun kala itu. Terus setelah dia berhasil mengekspresikan sanur untuk mengambil sanur orang lain selama bermenit-menit, kemana dia pergi dari Desa Konap?
Oh, dia pulang ke Kota Kemnar di selatan Desa Konap. Dia melakukan apa di sana? Istirahat begitu saja? Tidak mungkin seorang Mufav membiarkan dirinya istirahat selama berhari-hari lamanya, dia orang yang pekerja keras. Mungkin istirahat selama beberapa hari saja di Kota Kemnar, untuk mengobati luka-luka bekas banyaknya latihan ekspresi sanur. Setelahnya kemana?
Tangan seseorang menarik jatuh topi kerucutku. Aku lekas mengalihkan pandangan ke arah orang itu. Orang itu ternyata di sebelahku sendiri. Pengawal Nuwar menyunggingkan senyum jahil. Sepintas seolah-olah menatap wajah abang sendiri, Wunar. Sepintas saja. “Ada apa, Pengawal?” Litsva langsung menembak. Tidak seperti seorang Kinatev di balik dirinya, yang terpaku pada momen hangatnya persaudaraan barusan.
Pengawal Nuwar memasangkan topi kerucut ke atas kepalaku. “Bapak ini bilang dia pernah melihat orang itu.” Hah? Aku kontan menoleh ke bapak-bapak penjual daging ayam di depan kami. Dia tengah melayani pembeli dua ibu-ibu, kami berdua menyingkir ke sudut pasar yang sepi.
Penjual itu pernah bertemu Mufav? Atensiku kembali ke pengawal istana satu ini. “Cepat, kapan dia melihatnya? Apakah di pasar ini?” Pasar ini ‘kan terletak di Ibu Kota Gunelia yang di timurnya ada Kota Kemnar.
“Benar, di pasar ini Putri, ketika ....” Aduh, sudah kusuruh padanya cepat, dia malah menahan kalimatnya di udara. Pengawal Nuwar menggulum bibir.
Sinar matahari menyusup samar-samar ke balik riuhnya pasar. Semakin banyak meja penjual yang kosong. Para penjual dan pembeli pada meninggalkan pasar kembali ke rumah masing-masing ataupun kota/desa asal.
“Sehari-ke-kemarin, Purina, kala siang menjelang sore.” Pengawal Nuwar mengubah kata gantinya kepadaku, ada gerombolan orang lewat di dekat kami.
Sehari yang lalu Mufav berada di pasar ini? Berarti kami tidak terlalu jauh darinya. Ada apa saja jarak sehari dari pasar ini? Dia masih di Ibu Kota, Hutan Kenja di barat, atau Pegunungan Tumpuk di barat daya? Yang penting juga, bagaimana keadaanya saat bapak tadi bertemu Mufav kemarin? “Bapak penjual kemarin melihat dia sedang apa?”
“Dia membeli buah-buahan, untuk perbekalan pastinya. Kemudian dia keluar pasar.”