Seorang pria bermantel panjang sampai di depan rumah ini. Perdebatan kami otomatis berhenti. Aku tertegun. Pria itu melintasi halaman menuju pintu masuk rumah. Dia mengajukan pertanyaan kepada kami dengan nada suara defensif. “Kalian siapa? Sedang apa di rumah saya?”
Aku lekas berdiri dan menunduk tipis-tipis. Jika aku Kinatev, rakyat biasa, aku sudah membungkuk dan segera menyingkir dari lokasi. Ratu Lavnema, ibundaku, tidak mendidik seorang Putri Gunelia seperti itu. “Maaf, kami hanya orang luar yang singgah ke Ibu Kota ini untuk melaksanakan suatu keperluan. Kami di sini untuk sekadar makan malam. Maaf menganggu ketenangan rumah Bapak sekali lagi.”
Pengawal Nuwar berdiri tegap. Jantung kami berdua hendak terjatuh dari peyangganya ketika pria itu mendatangi kami.
Pria itu menunjuk wajah kami. “Perlu saya ingatkan, ya, kalau makan itu di restoran sana, bukan di halaman rumah orang lain.” Volume suaranya membesar. Apakah terdengar penghuni rumah-rumah di sekitar? Oh iya, besok aku dan Pengawal Nuwar sarapan di salah satu restoran, membeli perbekalan makanan di pasar saja.
Aku menggeram dalam hati. Tidak sepatutnya dia membentak seorang putri kerajaannya, aku, seperti itu. Kalau ada anggota keluarga inti kerajaan yang lain di sini, mereka akan memarahi pria ini sekeras mungkin dan pria ini akan bertekuk lutut serta hormat dalam kepada kami. Wunar ada di sini, sayangnya dia masih berada di balik diri Pengawal Nuwar.
“Maafkan kami, Pak, kami tidak ada mencemari lingkungan rumah ataupun menganggu istirahat keluarga Bapak. Baik, kami akan pindah.” Pengawal Nuwar sebagai seorang pengawal aslinya tidak terlalu bersopan santun dengan pria ini.
Kami membereskan remah-remahan roti di bangku ini dan menghabiskan roti yang tinggal sepotong kecil. Kami memaku tas-tas kembali ke sisi Fediv dan Kudawar, menarik tali pengait mereka, dan segera meninggalkan rumah dengan menaiki kuda masing-masing. Pria itu masuk ke rumahnya sendiri.
Kami memacu kuda bertanduk menuju salah satu penginapan yang jalannya dituntun Pengawal Nuwar yang hapal peta Ibu Kota Gunelia. Kami menginap semalam di dalam kamar yang berbeda selepas membayar uang koin satu butir emas gev dan lima butir perak gev. Hari ini sungguh melelahkan, dan paling nyaman merebahkan diri ke tempat tidur.
* * *
Paginya aku dan Pengawal Nuwar bersiap-siap memulai hari. Hari ini aku mengenakan gaun berompi dan sepatu bot tinggi yang gayanya seperti kemarin tetapi berbeda model dan warna. Rambut aku kepang, sanggul. Tak lupa mengenakan topi kerucut dengan kain menjuntai ke bawah tanpa aksesoris. Pengawal Nuwar mengenakan pakaian yang gayanya kurang lebih sama seperti kemarin. Hari ini dia menambahkan mantel hangat panjang untuk laki-laki jaga-jaga kalau kami bepergian keluar kota ke alam bebas.
Kami ke lantai satu menuju restoran penginapan. Kami duduk berhadapan di meja yang sama, menikmati santapan mie pipih dengan daging. Makan dengan tangan. Asin mie dan daging beradu padan di dalam mulut. Wangi mie pipih dengan daging ini segar. Riuh rendah Penghuni restoran bersuara riuh-rendah.
Saatnya membahas ke mana kami sebaiknya menuju untuk mencari Mufav. Tanpa tendeng aling-aling Pengawal Nuwar langsung mengutarakan hal yang ku ingin utarakan pula. “Ke mana lagi Purina hendak menuju untuk mencari dia?”
Baru saja aku ingin mengajukan pertanyaan yang sama. Entahlah. Benar-benar buntu dalam hal ini. Wunar bisa memecahkan persoalan ini, mungkin. Atau Rafnov jika dia ikut kami, dia ‘kan pewaris tahta Ayahanda yang pintar.
Aku menelan mie pipih. “Atau kita cari dia di sepenjuru timur dan barat Ibu Kota? Namun akan membuang banyak sekali waktu, ya.”
“Benar, Pu-Purina.” Lidah Pengawal Nuwar terpeleset menyebutku ‘Putri’. Di restoran penginapan ini ‘kan padat orang, banyak meja terisi.
Kalau ke arah timur dari sini, berarti Mufav ke Kota Kemnar. Kalau ke arah barat dari sini, berarti dia ke Hutan Kenja ataupun Desa Todan di Pegunungan Tumpuk. “Menurutmu dia pergi ke kota, hutan, atau desa, Nuwar?”