Aku menarik tali Fediv, memberhentikannya. Fediv meringkik. Aduh, bunyinya jangan sampai ke Mufav di bawah sana. Kudawar ikut berhenti. Insting kuda pengawal istana lebih terlatih dibandingkan insting kuda putri kerajaan.
Aku berbisik kepada ketiga makhluk di sini. “Turun sesenyap mungkin ke belakang, ya.” Kami harus memantau Mufav dari balik bukit. Bagaimana caranya? Dengan membawa kuda mundur? Bagaimana jika kuda kami sampai terjatuh ke belakang? Lebih baik aku dan Pengawal Nuwar turun pelan-pelan dari kuda. Dan itulah yang kami lakukan. Kami menggiring kuda merangkak ke belakang. Kedua kuda berbeda warna ini menurut, sudah terbiasa kami naiki. Berempat tiarap, memantau dari balik puncat bukit ke arah kaki bukit. Jantungku berdetak kuat-kuat.
Bukit ini terhampar padang rumput tanpa adanya sungai. Beberapa hewan seperti kuda memakan rumput. Jangan-jangan Fediv dan Kudawar tergiur makan rumput pula. Suasana senyap di atas sini. Angin bukit berhembus kencang menerbangkan helai pakaian yang kami kenakan. Cukup menggigil sebenarnya. Kuda Mufav tahu tidak, ya, kami memantau mereka berdua? Oh iya, ekspresi sanur Pengawal Nuwar yang satu itu!
“Pengawal, gunakan ekspresi sanur-mu agar diri kita tidak terlihat orang lain.” Aku berbicara kepada pengawal di sebelahku menggunakan bahasa isyarat. Meskipun aku ragu suara kami berdua sampai ke bawah.
Pengawal Nuwar mengangkat tangannya. Sontak sanur berbentuk duri-duri besar emasnya berjarak setengah meter darinya melingkupi diriku dan dirinya. Sudah aman.
Berpuluh-puluh menit lamanya kami memantau Mufav dari sini. Sementara Mufav sibuk meniti kudanya di padang rumput menuruni bukit. Aku menahan napas sebentar-bentar.
Pengawal Nuwar mengangkat topik pembicaraan baru dalam bahasa isyarat. “Purina, eh Putri, kapan kita selesai memantaunya dan beranjak?” Dia kelepasan memanggilku Purina, padahal di sini tidak ada orang asing lain. Tidak apa-apa menggunakan sapaan ‘Putri’ saja. Terserah saja.
Mufav sudah sampai di bawah sana. Dia memacu kudanya berlari di lembah berumput. Kami harus mengikutinya, tetapi dengan menggunakan apa kami bersembunyi? Padang rumput bukit hampa akan pohon. Namun, ‘kan, ada ekspresi sanur Nuwar yang melindungi kami dari pandangan orang lain.
“Kita ikuti dia.” Aku menepuk-nepuk kedua tanduk di kepala Fediv pelan.
Wajah lonjong Pengawal Nuwar terpaku pada Fediv. “Maksud Putri bagaimana?”
“Kita turunin bukit, ikuti Mufav, tetap jaga jarak.”
“Ohh.” Pengawal Nuwar mengangguk-angguk. “Serius kita ikuti Mufav dari belakang, Putri? Bagaimana jika dia menyadari keberadaan kita dan langsung menyerang kita berempat sementara kita tidak tahu ekspresi sanur aja yang dia miliki?”
Aku mengabaikan Pengawal Nuwar yang entah sudah mengerti atau belum. Aku dan Pengawal Nuwar sehening mungkin beranjak, menaiki kuda masing-masing. Dia sepertinya mengikuti saja apa pergerakanku.
Kami menuruni bukit dan menahan kuda-kuda agar tidak merosot. Kami harus mengikutinya untuk tahu apa sanurPengawal Nuwar yang sekiranya bisa diekspresikan untuk mehambat perjalanannya. Berharap ekspresi sanurPengawal Nuwar pada diri kami tidak terlihat Mufav.
Kedua kuda berlari-lari kecil saat berada di lembah. Jantungku berdebar kegirangan. Kami beratus-ratus meter jauhnya di belakang Mufav. Sejauh ini dia belum berhenti untuk makan ataupun beristirahat.
Saat matahari kian rindu pada horizon, saat itulah kami memasuki area padang rumput tempat beberapa batang pohon mencuat dari tanah berumput. Sungai kecil mengalir. Ekspresi sanur Pengawal Nuwar yang melindungi diri kami dari pandangan orang lain pada akhirnya habis. Sanur-nya tetap ada, tidak menghilang, tetapi ekspresi sanurnya yang satu itu sudah habis. Kami segera membiarkan Mufav dan kudanya melaju sejauh mungkin di depan sana, sementara kami menggiring kuda bersembunyi di balik pohon besar.
“Sekarang bagaimana, Putri?” Kami masih menggunakan bahasa isyarat untuk berdiskusi.
“Kita bawa kuda berlari pelan-pelan saja.” Aku di atas kuda bertanduk sama halnya dengan Pengawal Nuwar.
Pengawal Nuwar tertawa tanpa suara. “Putri bisa lucu juga, ya, ternyata. Bagaimana maksudnya berlari tetapi pelan? Berlari itu ‘kan cepat.”
Ih, ingin aku masukkan apel utuh ke dalam mulutnya. Aku tidak bermaksud bercanda, tetapi dia malah sempat-sempatnya tertawa. Namun dia menggunakan bahasa isyarat, dia tidak berbicara dengan mulut melainkan pakai gerakan tangan, jadi untuk apa aku menyumpal mulutnya?