Lapisan Topeng

Rona Awan
Chapter #15

15. Kota Kenava

Akhirnya beberapa jam baru kami berhasil menyusul Mufav dan kudanya saat hendak memasuki Kota Kenava. Fediv dan Kudawar meniti jembatan sungai panjang di atas sungai kota ini dan tiba menghadap kuda bertanduk Mufav yang berbalik ke arah kami.

“Senang bertemu denganmu dan mengalahkanmu lagi, Putri.” Mufav menatapku dengan cermat. Perlahan alisnya menukik tajam ke bawah. Dia sedang marah besar, berdasarkan memori sendiri kala dulu rencana yang kami berdua buat tidak mungkin terwujud, ekspresi wajah lonjong yang sama.

“Namun aku sangat tidak suka seseorang mencuri barang milikku, Putri.” Dia menekan setiap kata. Baguslah dia tidak mengungkap identitas asliku sebagai Kinatev. Tidak, aku nyatanya ialah Putri Litsva. Jika dia mengungkapnya, dia takut aku memberi tahu keluarga kerajaan bahwa dialah pelaku di balik pencurian sanur mereka yang kuharap tidak akan pernah terjadi.

Mufav mengangkat tangannya, siap mengeluarkan ekspresi sanur apapun yang dia miliki.

Pengawal Nuwar cepat tanggap menarik busur dan mengambil panah dari tas panah di punggungnya. Dia memposisikan panah yang mengandakan dirinya sendiri di tali busur. Sanur duri-duri besar emasnya berkilau-kilau indah di sekitar panah ganda itu. Kami siap melawan Mufav.

Sepertinya begini kejadiannya. Mufav sengaja memancing kami untuk mencuri barang-barangnya di padang rumput dengan cara mengeluarkan semuanya dari tasnya. Kami pun terpancing untuk mengambilnya dan jadilah menyimpannya di tas tidak terlihat itu.

Ketika kami tidur, dia mengendap-endap ke tempat kami dan mencari barang-barangnya di mana. Dia menyerang kami pakai ekspresi sanur-nya agar kami tidur nyenyak sekali. Dia meraba tas itu dan menemukan barangnya. Walaupun tas itu tidak terlihat olehnya, tetapi bisa dia raba. Dia serta-merta mengambil tas itu beserta isinya yang merupakan miliknya sendiri. Dia membiarkan kami mencuri barangnya agar kami seolah-olah menang, padahal sudah kalah.

Aku menggeram dan menyentak lantang. “Kalau kau sendiri tidak suka, mengapa kau hendak mencuri sanurkeluargaku?” Menanggapi pernyataan Mufav tadi.

Mufav tidak menjawab pertanyaanku, malah mengutarakan hal lainnya. “Perihal kalian mencuri barangku semalam semakin membulatkan tekadku untuk mencuri sanur keluarga kalian.”

“Hei, jawab pertanyaanku!” Bukan jenis ‘hei’ yang ramah.

“Hanya aku yang boleh mencuri sanur besar kalian sekeluarga, kalian sedikitpun tidak boleh mengambil milikku!” Mufav mengentakkan tangannya ke arah diri Pengawal Nuwar. Mungkin untuk menghilangkan sanur-nya sementara agar pertikaian ini cepat usai.

Ekspresi sanur tameng transparan penghalang ekspresi sanur tidak dia gunakan lagi! Dia masih sangak. Aku menendang perut Kudawar kuat-kuat. Kudawar meringkik. Pengawal Nuwar beserta kudanya oleng. Sanur Mufav yang berbentuk pecahan-pecahan kayu melewati diri Nuwar. Setidaknya serangan ekspresi sanur Mufav meleset.

Mufav melompat dari kudanya yang dia biarkan berdiri mematung. Dia berlari cepat sekali menuju kami. Sanurberbentuk pecahan-pecahan kayu mengitari sepatu botnya. Kali ini Pengawal Nuwar cepat tanggap, dia mengarahkan panah ganda menuju Mufav. Ayo, cepat lepaskan! Dia melepaskan anak panah dari genggaman, panah gandapun melesat ke arahnya.

Lari Mufav terhenti. Panah itu jatuh di belakangnya. Dia memegang bahunya yang tergores akan anak panah. Kudanya jauh di sana meringkik, panik menyaksikan panah melesat ke arah penunggangnya. Dia berlari terbirit-birit memasuki Kota Kenava sambil menenteng tas Mufav. Tinggal Mufav seorang tanpa kuda dan barang bawaannnya. Ini sekaligus menjadi kerugian bagi kami yang ingin mengambil balik tas tak terlihat. Mufav harus melawan kami dengan tangan kosong.

“Pengawal, kita harus mengejar kuda Mufav untuk mendapatkan tas kita balik!” 

“Baiklah, kita kejar terus, saya akan melindungi Putri!” Pengawal Nuwar bekerja sama denganku baik-baik. Dia mengangkat lengan kirinya, sontak tameng transparan penghalang ekspresi sanur muncul. Duri-duri besar emas mengelilingi tameng. Aku memacu Fediv memasuki kota untuk mengejar kuda Mufav yang jejaknya sudah hilang. Pengawal Wunar menjagaku di belakang dari serangan ekspresi sanur Mufav sewaktu-waktu. 

Pengawal Nuwar mengacungkan tameng, menghalangi diri kami berdua darinya. Dia mencuri-curi kesempatan memanah Mufav. Mufav berlari kencang mengejar kami sambil mengangkat tangannya siap mengeluarkan ekspresi sanur merebut sanur Nuwar.

Kami bertiga dan dua kuda sudah masuk ke Kota Kenava. Bangunan kayu batu yang tidak semewah di Ibu Kota mencuat ke langit dengan satu sampai tiga lantai. Hiruk pikuk penduduk kota ini sudah mengambang di udara. Orang-orang segera menyingkir dari jalan berbatu yang hendak kami lalui. Kami berbelok-belok. Sesekali jalan yang kami lalui luas, sesekali sempit. Entah berlari kemana kudanya Mufav.

Lihat selengkapnya