Sore aku, Pengawal Nuwar, dan Kativ baru sampai ke rumah Kativ. Kami menaruh Fediv dan Kudawar di istal kuda setempat. Kami berdua menenteng tas-tas bersama. Rumah Kativ kecil dan memiliki satu lantai. Halaman rumahnya sempit seperti halnya halaman rumah di kota ini, tidak seperti di Ibu Kota. Bunga musim semi harum di halaman.
Kativ membuka pintu kayu rumahnya dan mempersilahkan kami berdua masuk. “Orang tuaku sedang bekerja. Ayahku bekerja di ladang dan ibuku bekerja membersihkan rumah orang lain, seperti sapu, pel, cuci piring, sama cuci baju.” Bahasa kasarnya ‘pembantu’. Aku jadi teringat masa lalu sebelum aku menginjakkan kaki di usia sebelas tahun dan menyamar menjadi Putri Litsva menggunakan Lapisan Topeng. Bibi Nediv memperlakukanku layaknya pembantu, padahal dia satu-satunya anggota keluarga yang tinggal bersamaku, disuruh ini-itu.
Namun itu semua sudah berlalu. Sekarang aku ialah Litsva dan akan terus menjadi Litsva kedepannya.
Kami masuk ke rumah Kativ yang berlantai kayu setelah melepas sepatu bot di halaman. “Aku anak tunggal, jadi tidak ada saudara kandung untuk berbagi nama Fet.” Penamaan rakyat biasa di Kerajaan Gunelia berupa nama panggilan ditambah nama marga sesama saudara kandung. Nama akhir diberikan pada anak pertama yang baru lahir dan adik-adiknya mengikuti nama akhir yang sama.
“Kalian kalau mau beristirahat, istirahatlah di sini.” Kativ cekatan menggelar dua matras yang berjauhan untukku dan Pengawal Nuwar masing-masing di lantai bekarpet atas ruang tamu. Ada karpet dan meja besar di ruang tamunya. Dinding rumah memilki corak tersendiri.
Anak satu ini niat tidak, memberikan kami tempat menumpang? Mengapa kami tidak istirahat di atas tempat tidur dalam kamar saja? Apa kamar di rumah ini kecil dan dan hanya dua, milik orang tuanya dan Kativ? Namun setidaknya kami sudah diberikan matras.
Aku dan Pengawal Nuwar menjatuhkan tas-tas kami ke sisi karpet. Pengawal Nuwar langsung merebahkan diri di atas matras. Dia lelah sekali ternyata, sudah melemah. Sepertinya sudah terlelap dalam. Aku mengalihkan pandangan ke jendela berbingkai kayu ruang tamu. Rintik-rintik air berkumpul di permukaan kaca jendela.
Eh, Kativ dimana? Kami tidak boleh melepaskan pandangan darinya. Dia tidak ada di ruang tamu. Aku masuk semakin dalam ke rumah. Kedua kamar di rumah ini berseberangan. Aku sudah sampai depan dapur rumah ini. Mana kamar Kativ? Mungkinkah dia berada di kamarnya kini, ruangan pribadinya? Mungkin kamar Kativ yang lebih kecil daripada yang satunya.
Aku mendatangi kamarnya yang pintunya ditutup. Menggedor-gedor pintu kamar. Kalau Ibunda melihat ini dia akan mencapku tidak sopan berkelakuan seperti ini, tidak pantas bagi seorang putri. “Kativ, kau di sini?”
Pintu kayu Kativ terbuka pelan dari dalam. “Masuklah.” Dia menjulurkan tangannya ke luar. Tanpa kuduga dia menarik kain yang menjuntai dari topi kerucutku. Aku pun ke dalam kamarnya. Kativ menutup pintu balik.
Kamar Kativ kecil, berisi satu tempat tidur sempit, satu meja lebar, dan satu lemari kayu pendek. Satu kata, sederhana. Kativ berdiri di balik pintu, menghalangiku untuk keluar. Raut wajahnya mengerikan. Dia melotot dan mengerucutkan bibir. Kativ melangkah maju, semakin mendekat. Aku pun mundur perlahan-lahan sampai punggungku bertubrukan dengan dinding kamar. Kativ berhenti semeter di depanku.
Dia mengangkat tangannya ke arah wajah. Dengan cepat dia melepaskan Lapisan Topeng dari wajahnya. Penampakan seorang Kativ kini hilang, berganti dengan sosok pemudi seumuranku dengan gaun putri, sepatu bot, rambut bersanggul, topi kerucut bertiara putri. Dia serupa denganku. Bagaimana mungkin? Kami sama-sama Putri Litsva, tetapi dia yang versi asli dan aku yang menyamar pakai Lapisan Topeng sendiri. Putri Litsva yang asli menyamar sebagai Kativ ternyata.
Terkuak sudah ketiga pemilik, semua, Lapisan Topeng. Aku, Litsva, dan Wunar.
“Mengapa kau menyamar menjadi aku? Siapa kau sebenarnya? Buka Lapusan Topengmu!” Litsva asli berteriak jutek.
Berharap pengawal Nuwar yang tengah tidur di ruang tamu rumah ini tidak mendengarnya. Jangan sampai aku ketahuan Wunar. Aku segera membekap mulut sosok yang seperti kembaranku itu.