Keramik jatuh terpecah di belakangku. Aku menoleh ke belakang. Kativ yang aslinya Litsva menutup mulutnya yang menganga. Dia menatap abang kandung kedua aslinya. Wunar hilang semenjak bertahun-tahun yang lalu. Litsva alias Kativ menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Wunar ialah pemilik Lapisan Topeng selain kami berdua. Ternyata yang pecah adalah mangkuk keramik berisi buah-buahan, kini itu di lantai depan ruang tamu rumah Kativ.
Kativ masih berdiri mematung di posisinya. Litsva di balik dirinya syok, terkejut, bahagia, juga terharu menemukan abangnya yang bertahun-tahun hilang kini berdiri dalam kondisi sehat di hadapannya. Kondisi aman masih hidup. Terlalu lama hilang menyebabkan munculnya kemungkinan bahwa dia telah berpulang. Namun kemungkinan itu terpatahkan begitu keluarga inti kerajaan tidak menemukan mayatnya di manapun, bahkan di kerajaan-kerajaan tetangga yang terdiri atas Kerajaan Gudena, Kerajaan Olean, maupun Kerajaan Munama.
Aku tetap bereaksi sebagai Litsva itu sendiri. “Ka ... Kativ, dia adalah Pangeran Wunar, abang kandung keduaku yang telah lama hilang sejak aku berusia sembilan tahun.” Aduh, ini aku terbata-bata. Ternyata Wunar hilang semenjak Litsva berusia sembilan tahun tepatnya, dari mulut Litsva, mulutku sendiri. Litsva itu ‘kan aku. Aku menceritakan singkat pada Wunar bahwa aku sudah mengungkap jati diriku sebagai Putri Litsva pada Kativ.
Kativ tersentak seakan baru tersadar bahwa dia sekarang berdiri di dalam rumahnya sendiri. Dia pelan-pelan maju menghadap Bang Wunar. “Pasti keluarga kerajaan sudah mencari-cari Pangeran sedari lama, sampai pada akhirnya mereka meyakini bahwa Pangeran akan pulang ke rumah kalian, istana.” Kativ seakan-akan menyampaikan itu langsung dari lubuk hati terdalam Litsva.
Kativ mengusap pipinya, seolah-olah ada air mata jatuh di sana, padahal Litsvalah yang terharu dalam hati. Dia berganti mengambil sapu dan sodokan. Membersihkan kepingan keramik mangkuk tadi beserta buah-buahannya di lantai kayu depan ruang tamu. Kalau tidak salah dia sesegukan selama aku berbincang dengan Wunar.
“Jadi Abang harus kasih tahu aku sekarang juga mengapa Abang menyamar menggunakan Lapisan Topeng jadi Pengawal Nuwar.” Nada suaraku penuh penakanan pada tiap frasa.
Kalau aku sudah menuntut seperti ini, Rafnov tidak bisa menolak permintaanku, apalagi Wunar adiknya. Wunar melirik jendela ruang tamu sesaat. Bunyi deru kilat melintas di angkasa. Semakin banyak rintik air yang jatuh di kaca jendela, berebutan menjumpai tanah terlebih dahulu. Melalui sela-sela jendela masuk hawa dingin, semakin dingin saja di sore hari kelabu ini.
“Saat aku berusia tiga belas tahun, aku mendapati ayah tidak melindungi rakyat kita seperti yang dia umbar-umbar ke publik. Pidatonya kosong semua. Aku malu menjadi anak laki-lakinya.
“Aku berhasil memiliki Lapisan Topeng dan menyamar menjadi Nuwar. Aku menemukan informasi tentangnya dari seorang kenalan. Nuwar yang asli sudah hilang menurut orang-orang terdekatnya. Padahal dia kabur ke Kerajaan Olean, mengganti nama belakangnya, nama marga sesaudara kandungnya. Tahun ini dia menjadi prajurit kerajaan itu. Dia sudah meninggal dalam perang melawan Kerajaan Gudena.”
Wunar melompat ke cerita lainnya. “Ketika kau berusia sebelas tahun, sekarat di Hutan Dain, aku yang menyamar menjadi Nuwar menyelamatkan Adik.” Kativ yang menyimak diam-diam menghentikan gerakan menyapunya sebentar. “Tepat sebelum Adik bangun, aku buru-buru kabur. Karena kalau melepas rindu denganmu, kupikir itu berarti aku merupakan bagian dari keluarga inti kerajaan padahal aku sendiri tidak mau seperti itu. Aku menyelamatkanmu karena masih sayang sama kau, Dik.”
Suasana hujan memperkeruh suasana sendu ini. Aku mengusap air mata yang menggenang di pipi.
“Tahun ini di usiaku yang kedua puluh tahun aku menjadi pengawal untuk melindungi keluarga kita, yang memimpin rakyat. Kalau tidak ada yang memimpin rakyat, bagaimana rakyat bisa terlindungi, bukan?”
Kami bertiga diam. Bagaimana bisa keluarga kerajaan yang hangat, memiliki sanur yang besar, memiliki dua anak yang memiliki dan mengenakan Lapisan Topeng menjadi orang lain? Bukankah hidup mereka sudah berkecukupan dan mewah?
Kativ selesai membereskan pecahan keramik dan isinya, membuangnya. Dia bergabung bersama kami. “Maafkan aku, buahnya sudah berjatuhan dan bercampur dengan pecahan keramik mangkok. Hanya buah itu yang bisa kusuguhkan kepada kalian. Tolong maafkan aku, Putri, Pangeran, tidak ada makanan yang bisa kusuguhkan kepada kalian.”
Wunar mengangkat kedua tangan. “Tidak apa-apa, Kativ. Susu sapi boleh-boleh saja kalau ada, ada?” Dia berbicara kepada Kativ yang tanpa dia ketahui sejatinya Litsva yang asli, adik perempuannya sendiri, berada di balik tubuh fisik Kativ.