Dari jendela dalam rumah Kativ, bulan seolah-seolah semakin terang cahayanya menerangi malam yang gelap gulita. Bintang-bintang berpencar di langit, membantunya menerangi. Kami menyalakan perapian di ruang tamu rumah ini.
Pengawal Nuwar berujar, “Putri, kita belum makan siang.” Ternyata perutnya sudah meronta-ronta riuh sedari tadi. Kasihan abangku, Wunar.
Kativ meletakkan kecapinya untuk bersandar pada dinding ruang tamu. Aku mengangguk. “Baiklah, kita makan siang sekaligus makan malam.” Tak mengungkap prihatin terhadap Pengawal Nuwar, itu bukan respons Litsva yang biasanya.
Alis mata Kativ tertekuk ke atas. “Kalian pasti lapar sekali semenjak siang. Mau kumasak?” Dia buru-buru menambahkan, “Aku bisa membuatkan kita bertiga nasi goreng daging sapi.”
“Terima kasih, Kativ. Kita bertiga akan malam malam seraya membahas rencana kerja sama.”
Baru saja Kativ beranjak, Pengawal Nuwar mengajukan pertanyaan. “Bagaimana dengan kedua orang tuamu? Apakah mereka belum pulang kerja?” Itulah keahlian Pengawal Nuwar, memastikan keamanan perjalanan kami.
“Oh itu ..., ibunda masih bekerja, sedangkan ayahanda pasti sedang menongkrong dengan teman-temannya setelah dari ladang. Tenang saja.” Kativ sudah berdiri, hendak melangkahkan kaki ke dapur di belakang rumahnya.
Oh, iya, bagaimana dengan kedua orangtuanya sendiri? Aku turut mengajukan pertanyaan kepadanya sebelum dia meninggalkan ruang tamu ini. “Aku lupa menanyakan ini padamu sebelumnya, Kativ. Kau sudah mendapatkan izin orang tua untuk pergi bekerja sama bersama kami?”
Kativ menepuk dahinya. “Sepulang mereka akan kutanyakan. Kalian akan menginap di mana malam ini? Belum langsung melanjutkan perjalanan, ‘kan?”
“Di penginapan dekat toko buku tempat kita bertemu tadi saja.” Daripada mencari-cari penginapan lagi ‘kan malam-malam.
“Tidakkah terlalu jauh?” tanya Kativ.
“Tidak apa-apa.” Oh, ya, ada satu pertanyaan lagi untuknya. “Terus bagaimana kau akan meminta izin kepada orang tuamu? Apa yang akan kau katakan?” Eh, itu dua pertanyaan.
Kativ merapatkan bibir. Dia menggoyang-goyangkan bahunya seraya berdiri menjulang depan kami berdua yang masih duduk.
Pengawal Nuwar mengangkat tangan kanan. “Maaf menginterupsi, tetapi sebaiknya kau, Kativ, tidak membocorkan kerja sama kita kepada mereka secara gamblang. Bukan kami tidak percaya dengan orang tuamu, tetapi ....”
“Makin sedikit yang mengetahuinya, makin besar peluang kita untuk mengalahkannya. Bukan begitu, Kativ?” Aku mengangkat alis. Bersitatap dengan Kativ. Seakan-akan mengingatkannya akan pembicaraan kami di kamarnya tadi sore.
“Ba-baiklah, Pengawal, Putri.” Kativ terbata-bata, bersitatap dengan Putri Litsva, diriku. “Aku katakan saja hendak bepergian ke luar kota bersama teman-teman selama beberapa hari.”
“Bagaimana jika sampai berminggu-minggu?” Pengawal Nuwar meragukan linimasa perjalanan kami secara keseluruhan. Sejauh ini saja sudah hampir dua minggu kami berjibaku dengan misi ini.
Kativ diam sebentar. “Aku akan pulang terlebih dahulu ke kota ini.”
“Apakah kau sering bepergian ke luar kota bersama teman-temanmu?” Pengawal Nuwar terus mengajukan pertanyaan. Kalau begini, bagaimana jadinya Kativ mau memasak makan malam?