Lapisan Topeng

Rona Awan
Chapter #19

19. Sosok

Kami makan siang pakai risol sayur daging yang Kativ masak di kaki gunung berumput ini. Angin dingin gunung berhembus di sekitar kami. Kami menggelar satu tikar panjang untuk duduk. Di hadapan kami ada api unggun yang Pengawal Nuwar bangun. Kuda ditambatkan pada batu.

Aku menelan kunyahan risol yang gurih dan sarat akan sayur serta daging. “Kativ. Adakah kau membawa berlembar-lembar perkamen, pena bulu, dan botol tinta untuk mengirim surat dari kota-kota juga desa kelak teruntuk keluargamu?”

“Ada, Putri. Seandainya aku tidak membawanya, aku bisa membelinya di sana nanti.”

“Kau membawa uang koin berapa banyak, Kativ?” Aku jadi menanyakan hal yang sama dengan yang Pengawal Nuwar tanyakan ini.

“Hasil tabunganku, tidak begitu banyak. Kurasa cukup-cukup saja jika aku berhemat. Kita tidak perlu membeli banyak hal, ‘kan?” Aku mengangguk dan meneguk air.

Aku dan Kativ memakan risol berikutnya. Pengawal Nuwar menurunkan risol ketiga dari mulutnya. “Bagaimana dengan papan Basket Meja Gunelia juga kecapimu?”

Kativ menggeleng diiringi senyuman tipis. “Tidak muat kubawa, Pengawal.” 

Pengawal Nuwar menepuk udara. “Yah, sayang sekali. Padahal bisa kita mainkan sambil beristirahat.” Kalau saja dia menjadi abang keduaku, sudah kusikut dia sekarang juga. Sebagai gantinya, aku menghadiahinya pelototan.

“Maaf, Putri. Jika ada Pangeran Hujula bersama kita, maka saya dan dia sudah bermain-main berbagai olahraga Gunelia.” Oh, iya. Hujula dan dia sesekali suka bercengkrama dan bermain-main di istana.

“Pangeran Hujula itu adik kalian, bukan?” Kativ menguji ingatannya atas pelajaran Sekolah Kota yang dia dapatkan. Rakyat hanya mengetahui nama putri-pangeran ratu-raja mereka, tanpa mengenali diri fisik mereka kecuali mereka mengenakan mahkota atau tiara dan atribut keluarga kerajaan. Aku mengangguk lagi.

Kativ membuka topik pembicaraan baru. “Bagaimana perjalanan sejauh ini menurut kalian, Pangeran, Putri?”

“Tolong panggil saya Pengawal saja, seperti tadi. Saya ialah Pengawal Nuwar.” Pengawal Nuwar langsung menyambar.

Perjalanan sejauh ini, ya? “Lancar-lancar saja.” Aku mengalihkan pandangan dari mereka, sibuk mengigit risol balik. Acuh tak acuh seperti biasanya Litsva. Eh, Listsva yang asli kan berada di sini, di balik diri Kativ. Tidak. Aku ialah Litsva asli.

“Seru pastinya, Kativ.”

“Iya kann!” Aku dan Kativ serempak bersahutan. Mulut kami berdua terbuka. Wajah kami rileks. Kami bertiga tertawa-tawa.

Perjalanan ini seru selama belum bertemu Mufav, apalagi aku menaiki Fediv. Aku gemar menunggangi kuda. Jantungku bertalu-talu kuat selama menungganginya.

Aku menyudahi makan siang den meninggalkan mereka. Biarlah Kativ dan Pengawal Nuwar mengobrol berdua sambil menghabiskan risol. Momen ini lebih indah dan hangat kalau saja mereka berdua melepaskan Lapisan Topeng dan menjadi adik-abang kandung.

Aku membawa keranjang, menuju ke arah lain kaki bukit yang lebat akan semak-semak hijau. Memetik beri di sini. Apa aku buka Lapisan Topeng, memetik beri sebagai Kinatev? Urung begitu ekor mata menangkap sekelebat sosok lain di semak-semak. Jantungku berdebar-debar kencang. Keringat dingin mengalir di pelipis. Aku awas dan siaga kalau-kalau ada yang mau menyerang.

Apakah itu Mufav? Atau Kativ, Pengawal Nuwar? Pengawal Nuwar tidak akan mendapatiku dalam sosok Kinatev, ‘kan? Kativ tidak apa-apa mendapatinya, dia sudah tahu aku memiliki Lapisan Topeng.

Aku mengikuti sosok itu memasuki pepohonan rapat-rapat. Sosok itu berlari ke dalam sini. Aku berjalan cepat-cepat, masih menenteng keranjang penuh beri.

Lihat selengkapnya