Lapisan Topeng

Rona Awan
Chapter #20

20. Adik-Abang

Litsva dan Wunar bersitatap duduk dalam tenda bundar. Suara Litsva tidak kalah tegas darinya. “Keluarga kita sedang dalam bahaya besar. Abang harus menemaniku sebagai diri asli Bang Wunar untuk pergi menghalau pelaku kejam satu itu. Tolong sekali.” Seorang Litsva tidak biasanya memohon-mohon seperti itu kepada siapapun. Berarti dia berharap permohonannya terwujud.

“Oke, abang melepaskan Lapisan Topeng abang selama perjalanan ini, mengenakan pakaian sebagai rakyat pemuda biasa. Rakyat tidak akan tahu abang pangeran, apalagi abang sudah lama hilang. Namun bagaimana jika di tengah jalan pengawal istana ataupun keluarga kita menangkapku dalam wujud Wunar? Aku tidak mau itu terjadi, Dik.”

“Kau bisa langsung mengenakan Lapisan Topengmu balik, ‘kan?”

Mereka berdua diam. Wunar menimbang-nimbang. Sementara Litsva sudah lanjut memasak sop di kuali atas api unggun. Dia berharap sekali abang keduanya mau menyetujui permintaannya.

Kakiku yang menggantung dari atas dahan pohon tergelincir. Aku menumpukan sebelah tangan ke batang pohon. Huh, hampir saja terjatuh dari pohon yang tinggi ini. Namun Wunar segera melirik ke arah pohon ini. Aduh, bagaimana ini? Apa aku pakai Lapisan Topeng balik, ya? Eh, jangan jangan.

Mata Litsva yang mendapatiku di sini pun membulat. Dia menepuk pelan pundak Wunar untuk mengalihkannya dariku. “Bagaimana, Bang?”

Wunar yang dahinya berkerut kembali menatap Litsva. Aku di sini menahan hembusan napas lega keluar dari mulut. Wunar yang takut ketahuan memasang Lapisan Topeng dari tanah ke sisi-sisi wajah. Dia menjadi Pengawal Nuwar lagi, tanpa mahkota pangeran.

Litsva menatap Wunar sambil merengut. “Eh, Pengawal, sepertinya Kativ sudah selesai memberi makan Tiv dekat sungai. Aku menjemputnya dulu, ya.” Itu merupakan kode buatku agar kembali ke sungai tadi.

Pengawal Nuwar mengangguk. Litsva pun beranjak. Tanpa menyaksikan Litsva melangkahkan kaki, aku buru-buru memanjat turun pohon, menuju sungai tadi sambil menggiring Tiv. Aduh, Tiv malah meringkik lagi. Aku mengelus-elus lehernya. Kami pun sampai di sebelah sungai. Inginnya cepat-cepat menjadi Litsva balik, diriku yang asli.

Litsva sudah memasang Lapisan Topengnya dan balik menjadi Kativ. Aku menyerahkan tali pengikat Tiv untuk dia giring. Aku buru-buru mengenakan Lapisan Topeng dan menjadi Litsva lagi. Kami kembali ke bukaan tanah dalam hutan tempat tenda bundar kami berada.

Kuali kosong masih berada di atas api unggun yang padam. Pengawal Nuwar melongok dari tenda bundarnya, mengizinkan aku dan Kativ masuk. Kami duduk di depan meja dalam tenda. Sop sayurnya sudah Pengawal Nuwar tuang ke dalam ketiga mangkok disertai sendok. Tak ketinggalan gelas air. Asap mengepul tipis-tipis di atas udara tenda. Kami makan sambil mengobrol. Hangat sop dan segarnya sayuran melewati mulut dan kerongkonganku.

Pengawal Nuwar menghabiskan sopnya lebih dahulu dariku dari dan Kativ. “Ayo pergi ke Cenorv Kenja.”

Kativ bertugas membereskan mangkok-mangkok, sendok-sendok, gelas-gelas, meja, serta kuali. Pengawal Nuwar bertugas meluluh lantakkan api unggun. Aku dan mereka berdua bersama-sama merobohkan tenda bundar ini. Kami mengemas tas masing-masing dan menyangkutkannya di sisi ketiga kuda. Kami melepas kaitan kuda dari pohon. Memacu mereka menuju Cenorv Kenja.

Sejam-dua jam berlalu akhirnya kami sampai di Cenorv Kenja. Antrian di depan kubah kayu Cenorv Kenja ramai akan rakyat. Antriannya panjang sampai ke dalam pepohonan hutan Kenja. Maklum, hari libur. Pengawal Nuwar dan Kativ mengantri di belakang mereka. Aku menjaga ketiga kuda kami di bawah pohon rindang nan sejuk. Kativ tidak perlu bertanya mengapa aku tidak ikut mengantri bersama mereka, sudah tahu aku tidak memiliki sanur. Aku memilikinya ya, aku ‘kan Litsva.

Pengawal Nuwar menoleh kepadaku yang berada di luar antrian. “Pu—Purina, ekspresi sanur apa saja yang harus kami berdua lakukan?”

Sebelum menimbang-nimbang jawaban pertanyaan dia, aku bertanya terlebih dahulu kepada Kativ. “Kativ. Sesering apa kau mengekspresikan sanur-mu?” 

“Umm ... tidak begitu sering, Pu—Purina.” Mengapa lidah mereka berdua sama-sama terpeleset menyebutku ‘Putri’? “Eh, Kak Purina. Eh, kita ‘kan seumuran. Purina.” Kativ dan aku tertawa tanpa suara. Pengawal Nuwar terkekeh.

Lihat selengkapnya