Lapisan Topeng

Rona Awan
Chapter #21

21. Berlatih Belati

Tidurku semalam dalam. Mungkin Kativ dan Pengawal Nuwar juga. Sewaktu aku bangun, Kativ tengah menulis surat, duduk di atas kursi-meja kayu kamar. Lengkap dengan selembar perkamen dan pena bulu juga tintanya. Aku membersihkan diri duluan. 

Kami bertiga keluar dari kamar dengan tas masing-masing, siap berangkat. Berikutnya sarapan dengan mie pipih daging dan susu sapi di restoran penginapan. Menunya tidak bervariasi dari aku dan Pengawal Nuwar menginap di sini beberapa hari lalu. Kami bertiga menarik keluar kuda bertanduk masing-masing dari istal kuda penginapan. Menyampirkan tas-tas di sisi ketiga kuda dan pada akhirnya melajukan kuda menuju kantor pos Ibu Kota dahulu.

Urusan mengirimkan surat Kativ di kantor pos berjalan lancar. Kami tidak menemukan hambatan yang berarti sejauh ini. Berpapasan dengan Mufav lagi pun tidak. Saatnya berangkat ke destinasi berikutnya, toko pandai besi dan ahli senjata.

Harum bunga di semak-semak dan di pepohonan pinggir jalan menyerebak. Para bunga suka ria menemui musim semi.

Kami bertiga masuk ke salah satu toko pandai besi dan ahli senjata terdekat, setelah menanyai-nanyai penduduk sana-sini. Pintu kaca terayun begitu kami membuka pintu. Akibatnya lonceng di atas pintu berkerincing.

Kami berhenti di depan meja kasir yang menghadap pajangan berbagai senjata seperti busur dan panah, tombak, pedang, dan belati. Di atas pajangan ada spanduk terpampang bertuliskan "Toko Pandai Besi dan Ahli Senjata Lancar Jaya, Jalan Ubi No. 35, Ibu Kota Gunelia, Kerajaan Gunelia.” Atap toko itu cukup rendah. Walaupun tokonya kecil, tetapi toko ini hasil rekomendasi para penduduk yang kami temui. Ada satu-dua pembeli lain di dalam sini. Toko ini cukup lembab dan berwangi bahan senjata.

Seorang bapak-bapak penjual yang tidak mengenakan topi lebar berdiri menyambut kami di balik kasir. “Hendak membeli senjata apa, Nak? Silahkan dilihat-lihat dahulu.”

Aku dan Kativ mendekat ke pajangan khusus belati lengkap dengan sarungnya. Pengawal Nuwar mengawasi kami. Terserah kami mau memilih yang mana. Aku menjawab pertanyaan si penjual. “Yang mana belati yang ringan, mudah digunakan pemula, Pak?”

Penjual menghampiri pajangan belati sesuai kriteria yang kusebutkan. Dia mengarahkan tangan ke situ, menghadapku dan Kativ. “Ini ada beberapa, silahkan dipilih saja sesuai kesukaan.” Ada belati yang ramping nan panjang, ada yang meliuk-liuk, ada pula yang bermotif tanaman. Yang mana, ya?

“Yang itu saja, Pak.” Aku menunjuk pelan belati yang meliuk-liuk. Akan lebih mudah kami ayunkan dan lebih tepat mengenai sasaran, yaitu Mufav.

Penjual itu mengangguk. Dia hati-hati menyerahkan belati dalam sarungnya kepada kami. “Dua butir emas gev.” Dia mengajukan telapak tangan.

Pengawal Nuwar memberikan uang dua koin emas ke atas telapak tangan penjual. Penjual menyunggingkan senyum. Aku menarik belati ini dan memasukkannya ke balik rompi gaun. Nanti akan kusimpan di tas begitu menemui Fediv di luar.

Kativ bercanda. “Lah, abang yang bayarin kita, Purina.” Dia terkikik. Aku dan Pengawal Nuwar tertawa pelan.

Sedari tadi Pengawal Nuwar tidak membantu kami memilihkan belati, eh dia yang bayar. Entah maksudnya Bang Nuwar atau Bang Wunar, biarkan saja. 

Aku familier dengan dompet kain yang Pengawal Nuwar keluarkan untuk membayar. Diam-diam dia mengambil dompet dari tasku di Fediv sebelum masuk toko. “Eh, bukannya itu uangku, ya?” Tawa Kativ dan Pengawal Nuwar meledak. Aku membulatkan mata.

Kami keluar toko. Memacu kuda masing-masing. Atas diskusi bersama, kami menuju lapangan terbuka yang sepi di Ibu Kota ini. Kami harus memutari Ibu Kota untuk mendapatkan lapangan yang sesepi mungkin. Sesampainya di lapangan ini, kami menambatkan tali ketiga kuda pada dahan pohon pinggir jalan. Kami berhadap-hadapan di tengah lapangan.

Sinar mentari pagi menghujani tanah tanpa rumput lapangan. Angin perlahan-lahan. Bunga wangi semerbak dari semak-semak lapangan. Sudah menjelang siang. Kami harus berangkat ke Kota Kemnar hari ini juga. Latihan belati tidak akan memakan waktu lama.

Pertama-tama Pengawal Nuwar memberi contoh cara mengayunkan belati meliuk tanpa sarung itu kepadaku dan Kativ. Kedua, aku dan Kativ bergantian mencoba menggerakkan belati. Pengawal Nuwar memperbaiki posisi tangan, kaki, dan tubuh kami berdua. 

Lihat selengkapnya