Lapisan Topeng

Rona Awan
Chapter #22

22. Kota Kemnar

Kami menempuh perjalanan selama dua hari ke Kota Kemnar. Ada juga beristirahat dan makan di tengah jalan. Tak lupa memberi makan-minum ketiga kuda bertanduk. Ini pagi dua hari berikutnya. Akhirnya sampai juga di kota asal Mufav. Pertanyaannya sekarang, di mana keluarga Mufav tinggal? Sewaktu bertemu denganku kala itu dia memberi tahukan dia berasal dari kota ini tanpa menyebutkan alamat rumah detailnya. Eh, aku sebagai Litsva ‘kan tidak mengenalnya.

Kativ mengajukan kami ke kantor pos untuk mengirim surat ke Kota Kenava terlebih dahulu. Aku menolak sarannya dengan dalih sekalian nanti mengirim surat untuk Mufav saja. Kami harus mencari keluarga intinya Mufav dulu.

Pengawal Nuwar bersama Kativ membahas ciri-ciri fisik Mufav dan pertemuan-pertemuan kami dengannya selama ini. Mereka heboh membahas itu di atas Kudawar dan Tiv. Aku menoleh ke mereka dan meletakkan telunjuk di depan bibir, mengisyaratkan kecilkan suara kalian.

Jadinya kami mendatangi satu persatu perumahan di kota ini. Menanyakan di mana rumah Mufav Dikalav kepada penghuni perumahan. Perumahan-perumahan sepi, orang-orang pada pergi bekerja pagi ini. 

Akhirnya setelah sebagian perumahan terlewati, kami menemukannya. Seorang ibu-ibu muda yang mengenakan penutup kepala berlembar-lembar kain dililit, dress berompi, dan sepatu bot menjawab atas pertanyaan kami, “Kalav adiknya Dikav? Yang sedikit gemuk sama matanya sipit sekali itu, ‘kan? Ohh itu tetangga saya.”

Mungkin saja di sini Mufav dipanggil dengan nama yang berbeda, Kalav contohnya. Seperti aku dulu yang Bibi Nediv panggil ‘Kinat’. Eh, aku bukan Kinatev, aku selalu menjadi Litsva.

“Benar. Boleh tolong antarkan ke rumahnya, Bu?” tanya Pengawal Nuwar mewakiliku yang termangu.

Ibu itu pun memandu kuda kami menuju rumahnya sendiri. “Ini rumah saya, rumah Kalav di sebelah kirinya. Asal kalian tahu saja, saya hampir tidak pernah melihat Kalav di rumahnya maupun di sekitar kota ini lagi. Kalian tahu dia sedang bepergian ke mana? Apakah keluar kota? Dia memang sering sih, ke cenorv-cenorv kata ayahandanya. Namun mengapa tidak pulang-pulang, ya? Oh ya, kalian siapanya Kalav?”

Kativ sambil tersenyum lebar dan matanya berbinar-binar menjawab satu persatu pertanyaan dia. “Ka-kami temannya Mufav dari luar kota. Dia memang memiliki teman dari ... daerah lain. Kami tidak tahu dia kemana. Kami pun sedang mencari-carinya.” Pandai sekali Kativ bersilat lidah, meskipun terbata-bata tidak apa-apa.

“Teman? Setahu saya temannya Kalav itu-itu saja.” Jantungku mencelos. Akankah kepergok kami sebenarnya bukan teman Mufav? Ibu itu mengibaskan tangan dan memberi cengiran. “Saya maklum, lah, kalian temannya dari luar kota ini, pantesan saja saya belum pernah melihat kalian bersamanya. Sudah dulu, ya, saya mau bersih-bersih rumah dulu.” Dia berlalu ke dalam rumahnya sendiri.

Jadi teringat aktivitasku sehari-hari di Permukiman Barisan selama bertahun-tahun sebelum aku memiliki Lapisan Topeng, yaitu menjadi pembantu rumah Bibi Nediv. Aku tidak pernah menganggap rumah kayu itu sebagai rumahku sendiri. Tidak, aku ialah Putri Litsva yang tinggal di Istana Gunelia sedari lahir enam belas tahun yang lalu.

Telunjukku menunjuk rumah di sebelah kiri rumah tadi. Kami menjalankan kuda bertanduk ke rumah kayu-batu Mufav beratap jerami. Ketiga kuda meniti halaman rumahnya yang lebih luas daripada halaman rumah Kativ. Rerumputan setinggi lutut kuda terpampang memenuhi halaman. Bunga pada rerumputan musim semi harum. Kami turun dari kuda, menambatkan tali mereka di tiang lampu minyak yang mati depan rumah Mufav.

Aku menahan napas begitu kami bertiga berdiri berderet di depan pintu kayu rumahnya. Pengawal Nuwar menunjuk pintu, menaikkan alis menatapku, menanyakan apakah dia ketuk terus. Aku mengangguk singkat. Atas perintahku, dia mengetuk pelan-pelan pintu kayu ini. Siapa yang berada di rumah Mufav sekarang? Apakah pintu ini akan keluarganya buka? Bagaimana reaksi mereka bertemu kami, ‘teman-teman’-nya Mufav?

Tidak ada jawaban dari dalam rumah ataupun pintu dibuka. Kami bertiga menghela napas kecewa. 

Pengawal Nuwar bertanya dengan volume suara rendah, “Bagaimana langkah kita selanjutnya, Putri?”

Apakah keluarganya Mufav sedang bekerja dan bersekolah, ya? Abangnya Mufav, Dikav, mungkin iya. Bagaimana dengan ayahanda dan ibundanya? Kalau begini, seharusnya kami tidak mendatangi rumahnya, melainkan ke sekolah abangnya ataupun kantor orang tuanya. Susah mencari lokasi tempat-tempat itu lagi.

Lihat selengkapnya