Lapisan Topeng

Rona Awan
Chapter #23

23. Berdarah

Setelah langit biru tua tanpa sinar kejinggaan berkibar di atas sana, Pengawal Nuwar dan Kativ mengambil duduk di sebelahku, menghadap Danau Senun. Masih ada sisa ngos-ngosan serta tawa mereka berdua.

Pengawal Nuwar menoleh kepadaku. “Putri, pelaku satu itu, Mufav, lama sekali datangnya. Apa tidak lebih baik kita menginap di Desa Konap atau menginap dalam tenda bundar di sini?”

“Sini saja,” balasku mengacuhkannya.

Kami makan malam, menghidupkan api unggun. Tidak perlu memasak, kami sudah membeli dumpling kukus di Desa Konap tadi. Tinggal menyantapnya saja seraya duduk mengitari api unggun menghadap danau. Angin malam yang berhembus kuat berkali-kali memadamkan api, Pengawal Nuwar bertugas menjaganya agar tetap menyala. Sesekali kami bertiga juga mengusap-usapkan tangan di atas api unggun untuk menghangatkan diri. Kami memakai mantel hangat yang panjangnya sebetis.

Kami mengobrol. Cahaya bulan remang-remang membasahi kami yang duduk di atas tikar atas pasir. Dumpling sudah habis. Kami menyimpan peralatan makan ke tas. Kami hendak beranjak memberi makan kuda lagi dan membangun dua tenda bundar.

Kativ menunjuk seseorang di seberang danau sana. Ada api unggun lainnnya depan seorang pemuda yang duduk di atas kursi kecil atas pasir. Pemuda itu cukup gemuk, berambut hitam, matanya sipit sekali, juga garis-garis lekuk wajahnya mirip seseorang yang aku dan Pengawal Nuwar rekognisi. Mufav. Dia tengah duduk meminum teh hangat juga memakan kue kering. Dia membiarkan remah-remah jatuh di tanah berpasir, tidak membersihkannya. Kami dengannya dekat, terpisah beberapa belas meter.

Pengawal Nuwar menoleh ke sekitar Mufav, kelimpungan mencari berada di mana kuda hitamnya untuk dia tarik tanduknya tanpa menyentuh. Maka dia tidak bisa menggunakan ekspresi sanur yang satu itu. Pandangan Mufav terlanjur terpaku pada kami bertiga. Kedua api unggun masih menyala. Ketiga kuda kami masih terpaut pada pohon di atas pasir.

Pengawal Nuwar mengarahkan tangannya sepintas kepadaku. Sanur berbentuk duri-duri keemesan menyelimuti diriku yang sontak menghilang dari pandangan tiga manusia lain di sini. Pengawal Nuwar bersiaga dengan busur di hadapan, menarik anak panah dari tas punggung. Memposisikannya di tali busur. Kativ mengangkat tangan di hadapan tasnya pada kuda cokelat mudanya. Sebuah belati berliuk-liuk muncul di tangannya. Sanur bebatuan kecilnya berkilau-kilau indah di sepenjuru belati dan lesap.

Pengawal Nuwar menembakkan anak panah ke arah Mufav duduk. Begitu anak panah melesat hendak mengenai kepalanya, dia menghilang dan muncul di sisi lain danau. Sanur pecah-pecahan kayu keemesan memindahkan dirinya menjauh dari kami. Aku segera berlari ke tempat Mufav dalam kondisi tidak terlihat.

Kativ berseru cepat kepada Pengawal Nuwar di sebelahnya. “Buat aku melompat jauh!”

Pengawal Nuwar masih di tempatnya berdiri memegang busur. Dia mengarahkan tangan ke diri Kativ. Sepatu bot yang dia kenakan berkilau-kilau sanur emas duri-duri besar. Kativ melompat-lompat tiga meter menuju tempat Mufav. Sambil-sambilan melayangkan belati tanpa menyentuhnya. Sanur berbentuk bebatuan kecil keemesan mengitari belati meliuk-liuknya.

Pengawal Nuwar siap memanah Mufav dari sana, memosisikan titik yang tepat. Aku sudah berada di dekat Mufav. Mengibas-ngibaskan tangan di atas kepala, menginstruksikan Kativ untuk melempar/melayangkan belatinya ke tanganku. Kelupaan. Kativ ‘kan tidak dapat melihatku. Kalau berteriak pun Mufav langsung tahu. Namun coba saja, lah. “Belatinya sini!”

Setelah melompat-lompat jauh Kativ mendarat berdiri kokoh di pasir. Dia melirik ke arah suaraku berasal. Kativ melempar belati tanpa menyentuhnya ke arahku. Namun kedua tanganku gagal menangkapnya. Terlalu jauh, Kativ tidak mengetahui di titik mana ku berdiri. 

Apa aku minta Pengawal Nuwar memunculkan diriku balik, ya? Ah, tidak usah, terlalu berisiko. Aku punya ide lain menyerang Mufav. Aku akan memacu Fediv hingga menerjang diri Mufav. Aku pun berlari kembali ke kuda putihku, Fediv.

Pengawal Nuwar melepas anak panah untuk melesat ke arah Mufav. Dia kombinasikan dengan ekspresi sanurSanur duri-duri keemesan membawa anak panah itu melayang liuk-liuk hingga mengenai sasaran. Mufav menghilang dan muncul lagi di pinggir danau.

Pengawal Nuwar terus mencoba menembaki Mufav dengan panahnya. Pengawal Nuwar membuat Kativ melompat tiga-tiga meter ke arah Mufav sambil Kativ melayangkan belatinya. Sementara Mufav berpindah-pindah tempat dengan hilang-muncul hilang-muncul. 

Konsentrasi Pengawal Nuwar terpecah antara melesatkan panah beserta membuat Kativ melompat. Kalau terus-terusan seperti ini, bisa-bisa serangan mereka berdua gagal mengenai Mufav dan Mufav sudah bersembunyi ke Desa Konap. Aku semakin dekat dengan Fediv.

Giliran Mufav yang menyerang. Dia menghilang dan muncul di bawah belati. Kativ yang sedang melompat di udara pun gagal melayangkan belati ke titik vital diri Mufav. Mufav menangkap belati itu, dia tersenyum sumringah nan angkuh. Ekspresi sanur Kativ terlepas dari belati. Kativ mendarat di tanah sambil salto ke depan. Dia berdiri hadap-hadapan dengan Mufav. 

Lihat selengkapnya