Fajar menyingsing. Angin Pegunungan Tinggi menerbangkan kain yang menjuntai dari ujung atas topi kerucutku. Pengawal Nuwar buru-buru melepaskan Lapisan Topengnya. Muncul Wunar yang besar dengan mahkota dan pakaian pangerannya duduk di atas Kudawar. “Dik Litsva! Siapa Kinatev? Mengapa dia memanggilmu Kinatev?” Wunar menutup mulutnya yang menguap dengan punggung tangan kiri. Aku dan dia tidak ada tidur tadi malam.
Fediv serta Kudawar menuruni lereng curam pegunungan. Sampai di bawah, kami memacu kuda menuju tenda bundar kami bertiga di timur Danau Senun, tempat Kativ berada. Apakah dia sudah bangun dari pingsan kehilangan begitu banyak darah? Wunar terus mengejar-ngejar jawaban atas kedua pertanyaannya kepadaku. Aku mengabaikannya. Tidakkah dia menyadari bahwa aku sedang berada dalam kekalutan hebat? Aku kehilangan keluarga nyataku sebentar lagi.
Rintik air jatuh dari awan, mendarat beramai-ramai di tanah berpasir sekitar Danau Senun. Kami berdua memacu kuda di bawah lebat hujan. Sesekali muncul selarik cahaya petir diikuti bunyi petir menggaung di langit. Kedua api unggun semalam seketika padam. Seharusnya aku bisa membawa Fediv menerjang Mufav ke arah salah satu api unggun semalam agar dia terbakar.
Pada siang hari kami sampai di tenda bundar dengan Tiv parkir di dekatnya. Hujan mereda. Ketiga kuda ditambatkan pada pohon yang sama. Kami membangun tenda bundar satu lagi tempat Wunar mengistirahatkan diri sejenak. Sebelum aku masuk ke tenda bundar Kativ, aku menginjak-injak tanah berpasir danau pakai sepatu botku. Mufav satu itu! Lebih baik dia terjun saja ke Kerajaan Olean agar prajurit Kerajaan Gudena melindasnya! Bisa-bisanya dia berhasil mengekspresikan sanur-nya!
Aku masuk ke tenda. Kativ belum bangun. Aku menggelar matras di samping matrasnya. Aku berbaring menatap atap kubah tenda bundar.
Seharusnya aku tidak pernah bekerja sama dengan Mufav, membentuk segala rencana itu. Seharusnya aku bisa menghentikannya melatih ekspresi sanur untuk merebut sanur orang lain. Seharusnya kami berhasil dalam misi ini. Seharusnya dia tidak menuju Istana Gunelia sekarang juga. Seharusnya dia batal memperlemah keluargaku, keluarga inti kerajaan Gunelia. Segala seharusnya.
Mufav sudah berhasil mencuri sanur orang lain pakai ekspresi sanur-nya. Bagaimana ini? Bagaimana caranya mencegah Mufav mencuri sanur keluargaku? Dia akan tiba di rumah kami, istana, dan segera mencuri sanur keluargaku. Keluargaku sebentar lagi akan melemah, sekarat. Sepulang dari sini siapkah aku mendapati mereka dalam kondisi seperti itu? Siapkah aku berpisah dengan mereka? Ibunda, Ayahanda, Rafnov, dan Hujula akan menipis setipis debu, ya.
Tidak, tidak. Aku harus menghentikan Mufav, menyusulnya sekarang juga! Namun fakta bahwa Wunar sudah diambil sanurnya dan Kativ belum bangun di sebelahku menampar pipiku keras-keras.
Aku mengambil keranjang dari dalam salah satu tas kulitku. Singgah sebentar ke padang rumput depan pasir danau, tempat semak-semak beri. Aku memilah-milih, memetik satu-persatu beri, memasukkan mereka ke keranjang.
Aku sesungguhnya tidak siap berpisah dengan keluargaku sendiri. Mengapa mereka melemah di tengah kecamuk kerinduanku dan mereka? Kami sudah lama tidak bertemu. Mengapa mereka semua dalam waktu yang sama melemah? Secepat inikah? Aku tidak memiliki keluarga lagi jika itu sampai terjadi.
Terbayang tawa dan senyum tulus mereka berempat di benak. Hangatnya keluargaku. Semua itu akan lenyap begitu Mufav tiba di istana. Aku baru memiliki sebuah keluarga yang hangat, mengapa langsung tiada lagi begitu saja? Menghalau dan menghentikan Mufav pun aku gagal. Tidak bisakah aku bertemu mereka sebentar sebelum mereka melemah? Nyatanya tidak sempat. Begitu kami sampai di istana, semuanya sudah terlambat. Aku tidak memiliki keluarga lagi. Menggapai-gapai mereka pun semu.
Nyatanya aku hanya bisa menggapai-gapai beri di semak lain. Kedua tanganku terjulur untuk memegang erat-erat pegangan keranjang. Tidak bisakah aku selamanya memiliki keluarga yang hangat? Aku selalu tinggal sebatang kara sedari kecil. Air menitik di pipi kiri-kananku. Pipiku basah.
Ternyata menjadi Putri Litsva seperti ini. Menjadi Putri Litsva tidak menjauhkanku dari masalah, beban kehidupan. Sewaktu-waktu dirinya, keluarganya, dan kehidupannya bisa terancam pula. Litsva juga melalui sesuatu seperti halnya seorang Kinatev. Menjadi anggota keluarga kerajaan, Wunar dan Litsva mengalami masalah di keluarga mereka yang kukira hangat.
Aku malah mencuri kehidupan Litsva dengan menjadi dirinya. Enggan menjadi Mufav yang menghancurkan kebahagian orang lain. Menjadi seorang putri kerajaan ini atau menjadi diri sendiri, rakyat biasa, Kinatev Gibrata, sama saja. Toh sama-sama melalui sesuatu. Tidak ada gunanya aku masih mengenakan Lapisan Topeng.
Aku meraba-raba wajah mulus Listva, melepas Lapisan Topeng. Membayangkan sosok Kinatev Gibrata. Aku berubah jadi Kinatev yang kurus balik. Kulitku pucat. Pakaianku berubah jadi dress bercelemek, penutup kepala kain, dan sepatu bot murah. Dua kepangan rambut tergerai ke depan pundak.
Aku kembali ke dalam tendaku dan Kativ. Aku meletakkan beri di atas matrasku, duduk berhadapan dengan Kativ. Kativ sudah bangun, dia duduk di atas matrasnya. Aku dalam wujud Kinatev sambil menahan kantuk menceritakan apa yang terjadi selama Kativ pingsan di dalam tenda kami. Tak lupa menyimpan Lapisan Topeng sendiri dalam tasku. Kami sambil-sambilan memakan beri dari keranjang ini.
Kativ meraba wajah dan melepaskan Lapisan Topeng miliknya. Tidak ada lagi sosok pemudi yang kulitnya bewarna cukup gelap dan ada tanda lahir di jidat. Yang adanya sosok berkulit cerah, rambut disanggul dalam balutan gaun sutra berompi putri, topi kerucut dengan tiara putri, serta kalung, gelang, dan anting-anting. Sepatu bot berkelas dia letakkan dekat pintu tenda bundar. “Aku akan menjadi Litsva seterusnya mulai saat ini, Kinatev.”
“Mengapa Putri memutuskan hal itu?” Suaraku lembut. Aku mengambil satu beri lagi dan menyuapkannya ke dalam mulut. Asam.
Putri Litsva tidak segera menjawab. Dia menggulum bibir, melirik ke langit-langit atap kubah tenda bundar. Selesai menyusun kata-kata dan menatapku. “Karena Ibunda yang mendidikku secara keras kuyakini tetap menyayangiku tidak peduli apapun yang terjadi, dan aku tetap menyayanginya. Kami menginginkan yang terbaik bagi satu sama lain. Apapun yang terjadi, sebuah keluarga akan terus saling menyayangi tidak peduli seberapa banyak pertikaian di antara mereka.” Litsva mengusap air yang mengalir di pipinya, terharu.