Lapisan Topeng

Rona Awan
Chapter #25

25. Pertempuran

Tangan Putri Litsva menunjuk tasnya di lantai ruangan. Beberapa bongkah buah dari Kota Kenava muncul bersamaan dengan kilau-kilau keemasan berbentuk awan-awan di kedua tangannya. Dia mengangkat kedua tangan, melayangkan belatinya bersama buah-buahan ke atas kepala Mufav. Sesampainya mereka di atas kepala Mufav, buah-buah itu Litsva ‘potong’ pakai belati. Sanur-nya menghilang dari potongan buah-buahan yang jatuh menabrak diri Mufav.

Mufav kelimpungan dan terduduk, melindungi wajahnya dari hujan potongan buah. Mungkin bisa-bisa dia sambil memakan potongan buah lezat itu. Seusai semua potongan buah mendarat di lantai, Mufav mengambang di udara. Sanur pecah-pecahan kayunya melingkupi dirinya. Dia melesat merebut belati ber-sanur Putri Litsva yang tengah mengambang. Sanur Putri Litsva pun lenyap dari belati.

Mufav mengambang di udara, mengejar-ngejar satu pengawal yang masih hidup dengan belati kami. Pangeran Wunar berulang kali menembakkan anak panah ke arahnya yang terbang, tetapi selalu meleset. Dia ‘kan tidak ahli menggunakan panah, sebagai Pengawal Nuwar saja dia ahli.

Mufav berhasil menancapkan belati di leher pengawal itu dan cepat melepasnya. Pengawal rubuh, terbaring dalam kondisi darah melesat keluar membasahi lantai. Sanur pecah-pecahan kayu keemesan Mufav hilang dari dirinya. Dia melompat dan mendarat sempurna di lantai, menggenggam erat-erat belati di tangan kanan.

Pangeran Wunar menembakkan satu lagi anak panah ke arahnya. Sebelum Mufav sempat menghilang lagi, panah itu tertancap di tungkai Mufav. Dia muncul di sudut ruangan, memegangi tungkainya yang bercucuran darah. Celana panjangnya terobek.

Pangeran Wunar dan Putri Litsva bergabung dengan keluarga mereka. Para pengawal sudah habis semua, pada meninggal, tiada pengawal lain yang dapat melindungi mereka berenam. Mendatangkan prajurit pun perlu waktu. Mereka harus melawan Mufav sendiri tanpa bantuan.

Pangeran Wunar mengarahkan tangan ke arah belati meliuk-liuk yang dipegang Mufav. Namun ekspresi sanur-nya gagal merebut balik, melayangkan belati ke tangan adik perempuan satu-satunya. Mufav memegang kuat-kuat gagang belatinya.

Ratu Lavnema mengangkat tangan, menunjuk luka di tungkai Mufav. Sanur-nya yang berbentuk tali-temali bersinar-sinar di sana. Luka itu pun semakin dalam, semakin banyak darah melesak keluar, Mufav berteriak tertahan. Dia merobek bagian bawah mantel panjangnya, menggunakan robekan itu untuk menekan luka, membalutnya.

Mufav memasang posisi kuda-kuda. Dia mengambang lagi di udara, menuju ke atas keluarga kerajaan. Saat dia sampai, Pangeran Rafnov mengangkat lengan kanan ke atas, mengeluarkan ekspresi sanur keemesannya yang berbentuk ombak-ombak. Tameng kaca yang memantulkan cahaya matahari siang muncul lebar di atas mereka berenam, menghalangi dari Mufav. Masalah bagi Mufav bukan tameng itu, melainkan cahaya yang dipantulkan menusuk matanya. Mufav menghilang dan muncul di tengah-tengah ruangan.

Dia menerjang keluarga kerajaan pakai belati kami. Raja Ruwerda maju di hadapan para anggota keluarganya. Dia mengangkat lengan kanan. Sanur coret-coretan pena bulunya mengoper tameng kaca kepada lengannya dari sanurPangeran Rafnov. Tameng kaca raja dan belati Mufav berjumpa dan beradu.

 Mufav terperosot mundur. Tangan kanannya masih mengadu belati. Tangan kirinya menarik ke belakang, seperti menarik sesuatu yang padat. Sanur pecah-pecahan kayu keemesannya muncul menjelajahi apa yang seperti kilatan cahaya. Kilatan cahaya itu dia adukan ke tameng kaca. Kedua tangan masing-masing mengadu belati dan kilatan cahaya ke tameng situ.

Aku punya sebuah ide. Bagaimana jika mereka berlima selain raja memancing Mufav keluar ke halaman istana tempat Tiv berada? Dengan begitu aku bisa mengejarnya dari belakang sambil menunggangi kuda Putri Litsva. Aku mengarahkan tangan ke pintu besar yang menjeblak terbuka. “Kalian ke halaman depan! Percaya padaku!” Berteriak selantang mungkin kepada keluarga kerajaan agar suaraku sampai di ujung sana.

Putri Litsva dan Pangeran Wunar mengangguk, meyakinkan keluarga mereka untuk mengikuti himbauanku, orang asing bagi mereka. Mereka mengerti bahwa aku teman perjalanan Putri Litsva dan Pangeran Wunar, jadi cukup bisa dipercaya.

Mereka berlima berlari ke arah luar ruang singgasana. Begitu sampai di belakang raja, Pangeran Wunar membuat mereka melompati tiga meter pergulatan raja dan Mufav. Mereka berlari lagi ke halaman istana. Tidak bisa melompat jauh lagi, ekspresi sanur Pangeran Wunar yang satu itu sudah habis. 

“Pangeran! Lemparkan busur dan tas panahmu ke arahku!” Pangeran Wunar memenuhi permintaanku yang berhasil mendapatkannya.

Mufav berbalik, selesai berkutat dengan Raja Ruwerda. Dia berlari menyusul keluarga inti kerajaan ke halaman depan.  Sambil berlari, Pangeran Hujula menoleh ke belakang sejenak, mengarahkan tangan ke lantai tempat Mufav berlari. Sanur gelombang-gelombang air keemesan pangeran satu itu memunculkan genangan air di lantai. Mufav terpeleset di lantai. Memberi waktu bagi keluarga kerajaan untuk kabur lebih jauh.

Aku berlari menyusul mereka sambil menenteng busur. Cepet, di mana, ya, anak panah satu itu? Setelah menemukan anak panah yang kami coret-coret pakai tinta, tas anak panah kusampirkan di punggung. Raja Ruwerda berlari di belakangku.

Keluarga kerajaan terus kabur menghindari Mufav di halaman paling depan luas istana. Cahaya siang menyoroti kepala kami semua di musim semi ini. Pangeran Wunar mengangkat tangan. Sontak sanur-nya yang berbentuk gumpalan-gumpalan benang kusut keemesan menarik kedua tanduk Tiv agar mendekat kepadaku. Saat Tiv sampai di hadapanku, sanur-nya lesap dan aku memanjati Tiv.

Aku menunggangi Tiv, membawanya berlari di antara kelebatan rerumputan halaman. Aku cukup yakin untuk membantu keluarga kerajaan seperti aku membantu menunjang kehidupan Bibi Nediv di Permukiman Barisan dulu. Busur sudah ku arahkan ke depan, ke atas kepala dan di tengah kedua tanduk Fediv. Aku mengisinya dengan anak panah yang kami coret-coret pakai tinta.

Tiv sampai pada aku bisa mendapati Mufav berada di ujung kelebat. Aku menembakkan anak panah kepada sang pelaku yang tengah mengangkat tangan kanan ke arah keluarga kerajaan. Tepat mengenainya, panah itu menghilang. Dia terduduk, belati terlepas ke tanah berumput. Tiv sampai di depannya. 

“Kinatev ….”

Aku perlahan menuruni kuda cokelat muda ini. Berdiri di depannya sambil memegang leher Tiv yang meringkik. Tiv diam menemaniku.

Lihat selengkapnya