Laporan Jumat Malam

Hendi Ardiansyah
Chapter #1

Pukul 04.00

Alarm dari ponsel tua yang tergeletak di samping bantal meraung dengan sangat bising tepat pukul 04.00 pagi. Suara melengking itu menusuk gendang telinga, mengganggu lelapnya tidur Adnan yang sempat memejamkan mata dua jam lalu. Matanya belum sanggup terbuka lebar, berat seolah direkatkan oleh selapis perekat tebal. Jemari tangannya meraba-raba permukaan kasur busa yang sudah menipis, berusaha merengkuh benda persegi yang terus mengeluarkan bunyi dahsyat itu.

Begitu tombol penghenti alarm digeser, keriuhan di kamar sempit itu seketika tenggelam. Kini hanya tersisa suara lenguhan dan nguapan khas laki-laki berumur 22 tahun yang sedang berusaha keras memusnahkan rasa kantuk yang menggelayut di kepalanya.

Seperti biasa, sebelum bergegas merubah posisi tubuhnya menjadi duduk, Adnan menatap langit-langit kamar kontrakan yang sudah banyak mengelupas di berbagai sudut. Cat putihnya berganti dengan bercak-bercak cokelat akibat resapan air hujan dari atap yang bocor. Tubuhnya pegal luar biasa, sendi-sendi di area bahu dan pinggangnya seakan terkunci akibat kurangnya istirahat dan jadwal harian yang terlampau padat.

Pagi hari, ia harus menyelaraskan jadwalnya untuk bimbingan skripsi bersama dosen yang terkenal sulit ditemui. Siang hari, ia mengayuh sepeda motor tuanya untuk mengajar les privat matematika dari satu rumah ke rumah lainnya di pinggiran kota. Malamnya, tidak ada waktu untuk menyandarkan punggung, ia harus menjalani shift malam sebagai barista di salah satu kedai kopi murah dekat kampusnya hingga menjelang subuh. Siklus itu terus berulang, bergulir seperti roda gerinda yang tak henti mengikis fisiknya.

Apa boleh buat? Tidak ada kata menyerah apalagi sampai mengeluh yang terlontar dari bibir Adnan. Di dalam rumah kontrakan beratap seng itu, dia bukan sekadar seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang bertarung dengan tenggat waktu akademis. Lebih dari itu, Adnan adalah seorang kepala keluarga, satu-satunya pencari nafkah, sekaligus figur orang tua tunggal bagi adik perempuan satu-satunya, Maya.

Sejak kecelakaan naas empat tahun lalu yang merenggut nyawa kedua orang tua mereka dalam sekejap mata, dunia Adnan hancur dan ditata ulang secara paksa. Di usianya yang baru menginjak 18 tahun saat itu, usia di mana remaja lain sedang menikmati masa-masa kebebasan, Adnan dipaksa beranjak dewasa dalam semalam. Setiap hari ia memaksakan diri untuk berdiri tegak di hadapan Maya, menenangkan ketakutan sang adik, dan memastikan bahwa roda kehidupan mereka tetap berputar layak, meski harus dibayar dengan mengorbankan masa mudanya sendiri.

Kalau ditanya apakah dia heran? Jawabannya, bukan lagi heran, tetapi dia kebingungan. Tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikirannya bahwa dia akan bertanggung jawab penuh atas kehidupan adik kandungnya di tengah dia juga sedang butuh bimbingan dan penanggung jawab untuk hidupnya. Tapi, semakin bingung, semakin dia berusaha memahami, tanpa jari telunjuk yang mengarahkan, tanpa peta yang menjadi petunjuk, dan tanpa peluit yang mengingatkan Adnan tetap berjalan menyusuri lorong-lorong kesepian itu. Adnan tetap berusaha kuat untuk Maya, adiknya.

"Kalau Abang memilih menyerah, siapa yang menemani tumbuh kembangmu di sini?" ucap Adnan waktu itu pada Maya.

Adnan menyipitkan mata, menatap layar ponselnya yang retak di bagian sudut atas. Cahaya silau dari layar membuat matanya yang berair berkedip-kedip cepat. Di daftar percakapan paling atas, ada satu notifikasi pesan yang membuat jantung mahasiswa tingkat akhir itu seketika berdegup kencang. Sebuah pesan singkat dari dosen pembimbingnya masuk beberapa menit lalu, memintanya membawa lembar pengesahan skripsi untuk ditandatangani tepat pukul 07.30 pagi nanti.

Tangan Adnan dengan cepat mengetikkan balasan di atas papan ketik ponselnya.

‘Baik, Bapak. Terima kasih banyak. Saya akan hadir tepat waktu.’

Napas Adnan berhembus lega. Ia tidak menyangka bahwa file revisian tebal yang ia kerjakan dengan sisa-sisa tenaga tadi malam adalah revisi terakhir yang akan mengantarkannya pada gerbang kelulusan. Kelelahan yang menggelayuti tubuhnya, digantikan oleh dorongan semangat yang membumbung.

Lihat selengkapnya